6. Between right and wrong

352 35 2
                                        

 ✷))_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_✷_✷_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_((✷


Scorpius dengan wajah setengah kesal, untuk sekian kalinya menolak Quinn Zabini yang berusaha menyuapkan potongan ayam ke mulutnya.

"Seriously, Quinn! Biarkan aku makan dengan tenang. Kau bisa makan sendiri dagingmu."

"Kenapa sih~? Ini kan bentuk perhatianku, Scorpiee." Rengekan Zabini benar-benar hal buruk untuk mengawali hari.

Kalau mau jujur, Scorpius sebenarnya sudah sangat senewen dengan tingkah Quinn yang suka bergelayut dan mengekornya ke mana-mana. Well, bukannya benci. Biar bagaimanapun, Quinn adalah temannya dari kecil.

Scorpius sadar, Quinn tergila-gila padanya. Dia akui, gadis itu cukup cantik. Dan sebagai cassanova, Scorpius terkadang juga bermain dengan Quinn. Tentu tak terlalu jauh. Mungkin satu dua deep kiss. Atau lebih.

Dia agak lega, saat Quinn berhenti menyorongkan apa pun ke depan wajahnya dan kini sibuk bergosip dengan Katy Greenhill. Sendirinya, menyuapkan potongan ayam. Di tengah kunyahan, Scorpius merasakan tepukan di pundak.

"Yo man." Albus dengan seragam tak rapinya baru saja mengisi tempat di sebelah. Scorpius membalas sapaan dengan mengangkat sebelah tangan.

"Ah laparnya." Tangan Albus cekatan mengambil berbagai menu dan menumpuknya di dalam satu piring. Scorpius meringis melihat piring Albus yang langsung penuh dalam sekejap.

"Kau kayak gembel yang gak makan tiga hari deh Al," komen Scorpius tanpa tedeng aling. Albus menoleh dengan pipi penuh.

Yacks!  Scorpius pasti akan langsung dicermahi neneknya panjang lebar jika etika makannya seperti Albus sekarang.

"Khau thak bherhak protes kharna inhi huga salah mhu!" sungut Albus dengan makanan yang belum ditelan.

"Telan makananmu baru bicara, bodoh!" Scorpius menggeplak kepala Albus. Bener-benar butuh kursus tata krama nih anak. Albus menurut dan meminum jus labu untuk membantu mendorong makannya lebih cepat turun dari kerongkongan.

"Kalau saja kau mau kasih liat tugas Arithmancy-mu, energiku gak bakal terkuras pagi-pagi begini."

Scorpius menaikan sebelah alisnya. "Kenapa ribet sendiri? Biasanya kau juga dapet contekan sama sepupu jeniusmu itu," balas Scorpius terkesan abai. Tepatnya Scorpius berusaha membuat gestur cuek saat menyinggung Si Jenius Rose Wesley.

"...."

Tak ada respon dari Albus, Scorpius menoleh dan melihat air muka sohibnya meredup.

"Bertengkar, huh?" Masih dengan nada tak acuhnya. Walau dalam hati dia cukup penasaran juga.

"Well ... yeaah ...." Albus mengangkat sebelah bahunya. 

Scorpius berhenti mengunyah dan mencengkeram pisau garpu erat. Pride sialanya mendengungkan alarm peringatan, agar tidak mengorek lebih lanjut apa pun soal cewek merah nerd itu.  Kalaupun ia harus mendengar soal cewek itu, Scorpius ingin bukan dirinya yang harus memulai.

Menghela napas pelan, Slytherin muda itu memutuskan untuk tidak melanjutkan topik ini. Albus juga kelihatan sedang tidak ingin hal ini dibicarakan.

~~~

Lain lagi di meja Gryffindor. Rose sama sekali tidak bisa menikmati makan pagi dengan baik. Bahkan pie berry kesukaannya tak mampu menarik nafsu makan keluar.

Kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Kabar baiknya Lily baik-baik saja dan bahkan sekarang tengah menikmati makanannya dengan cerah ceria. Kabar buruknya, Lily memaksa untuk ditemani bertemu Malfoy karena ingin berterima kasih. Dan dengan pure-innocent-nya dia juga meminta Rose untuk minta maaf pasal salah paham kemarin.

Incurable Disease (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang