✯✯________(. ❛ ᴗ ❛.)________✯✯
"Mendadak kau jadi bisu, huh?"
Meski Scorpius mulai mengikis jarak, Rose masih belum pulih dari keterkejutannya. Pertama, kemunculan yang tak disangka. Kedua, nada arogan yang sudah lama tidak dia dapatkan. Sejak pengakuan di musim panas tahun ke lima, Scorpius selalu berbicara dengan lebih lembut. Seolah pria di hadapannya itu orang lain. Padahal mereka hanya kembali ke titik awal. Titik yang akan bergulir ke arah yang berbeda dari sebelumnya.
"Hei." Tanpa disadari, Scorpius sudah berdiri di hadapan Rose. Menjentikkan jari di depan mukanya."Kenapa melihatku begitu? Kau pikir aku boggart? Dementor?"
Rose memalingkan muka. Sedikit banyak ia sudah mampu menguasai diri. Dan apa lelaki ini bilang? Boggart? Dementor? Jika saja memang demikian, Rose yakin dirinya lebih bisa menghadapi dua makhluk itu dari pada yang satu ini.
"Tidak. Maaf kalau kau terganggu. Aku akan pergi," ujar Rose tanpa melihat. Dipungutnya keranjang serta beberapa bahan yang jatuh.
Malang tak terelak, satu bahan lebih dulu disambar Scorpius. "Var shagaol?" Tampangnya mengamati dengan raut bertanya?
"Kembalikan!" Rose segera mengulurkan tangan hendak meraih.
Gagal. Scorpius menjauhkan tangannya."Buat apa kau mengumpulkan tanaman-tanaman ini?"
"Bukan urusanmu. Sekarang kembalikan!"
Kembali gagal. Karena Scorpius semakin menjauhkan jarak jangkauannya. "Tunggu. Kudengar kau sering keluar masuk kantor Profesor Scott." Dengan sikap menyelidiki yang tampak menyebalkan, Scorpius bersedekap. Membuat bahan yang ia tawan, tersembunyi di bagian samping tubuhnya.
"Apa ini, Weasley? Kau dapat pelajaran khusus sendirian?"
Sungguh, Rose tak ingin mengeluarkan banyak kata. Tetapi dia benci tatapan memindai yang ditujukan padanya. Rasanya seolah diperlakukan seperti tersangka kriminal. Menyakitkan. Berdiri dihadapan pria ini saja sudah cukup sulit baginya.
"Bukan seperti itu, juga. Ini karena ..." Rose terdiam. Tidak. Tidak seharusnya mereka membicarakan hal ini. "Untuk terakhir kalinya, kembalikan barangku!" pinta Rose dengan bibir terkatup.
"Karena apa? Kenapa tidak jadi kau jelaskan? Jadi benar kau mendapat pelajaran spesial sendirian?" Scorpius mencibir, "Licik juga, Gryffindor."
Rose membuang napas lelah. Jika Malfoy, kembali ke sikap arogannya dulu, penjelasan seperti apa pun, akan sia-sia. Rose sendiri harus hati-hati berbicara, karena tak tahu seperti apa dirinya di ingatan pria itu. Sekedar anak perempuan dari Gryffindor? Atau Rose Weasley yang dulu ia anggap rival?
Memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh, Rose menarik tongkat dan merapal sebelum Scorpius bereaksi.
"Accio, var shagaol."
Seketika tumbuhan seperti umbi-umbian kecil, terlepas dari genggaman Scorpius. Mendarat dengan telak di tangan Rose.
"Hei!"
"Kau bisa berpikir sesukamu, Malfoy." Setelah berucap demikian, Rose meninggalkan tempat. Tanpa sekali pun menoleh. Takut tak bisa lebih lama mengendalikan perasaannya.
***
Sepertinya terlalu naif, jika berpikir Scorpius Malfoy, akan membiarkan kejadian kemarin begitu saja.
Hari ini, di tengah-tengah materi ramuan--gabungan Gryffindor -Slytherin--pria itu kembali memancing Rose.
"Ya, Mr. Malfoy? Ada pertanyaan?" Profesor Scott memberi kesempatan bagi yang ingin bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incurable Disease (End)
FanfictionScorpius telah diultimatum sang ibu, agar tidak berurusan dengan Rose Weasley. Apalagi sampai menjalin hubungan tertentu. Tanpa tahu latar belakang, larangan tersebut, Scorpius mengiyakan. Rose Weasley. Gadis kecil berambut merah mengembang berantak...
