65. Settle Up (Ending)

169 10 5
                                        

╏☞_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_╣〃❤️‍🩹〃╠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_☜╏


Musim semi bagi Scorpius tiba lebih cepat. Jalanan boleh saja tertutup salju bercenti-centi. Atau danau yang menjadi arena seluncur. Badai salju, kabut, suhu yang membekukan bulu mata. Go ahead! Keep going. Silakan saja. Karena tak peduli seburuk apapun cuaca di luar, suasana hati Scorpius tetap hangat, berbunga, penuh warna dan ceria.

Menemukan wanita yang ia cintai berada di sisinya setiap dia membuka mata, adalah kebahagiaan tak terkira. Kekosongan yang ia rasakan bertahun-tahun, tetiba penuh dalam satu malam. Terus berlangsung-- yang ia harapkan akan kekal hingga ajal.

Scorpius sudah bangun beberapa menit lalu. Tak ada niatan untuk kembali tidur, pun beranjak. Memilih memandangi kekasihnya yang masih terlelap dengan napas teratur. Tangannya terulur untuk membelai kulit wajah Rose yang lembut. Rasanya masih sulit dipercaya.

Ini hari keempat sejak mereka resmi berkencan kembali setelah 11 tahun. Pagi keempat Rose menempati tempat tidur yang sama dengannya. Scorpius yang sedang dalam mode clingy boyfriend, tak membiarkan Rose jauh terlalu lama darinya. Dia bahkan tak peduli jika media dan seluruh warga dunia sihir tahu hubungan mereka sekarang.

Sayangnya, Rose tidak demikian. Bukannya dia ingin kucing-kucingan seperti di masa sekolah. Tapi Rose ingin melakukannya perlahan dan bertahap. Kalau mereka ingin mengumumkan status, yang pertama mereka beritahu harusnya keluarga masing-masing. Terlebih, belum lama Draco Malfoy mangkat. Belum juga mereka melakukan pembicaraan serius tentang kutukan Malfoy. Rose juga masih cukup sibuk di klinik. Scorpius apalagi.

Ayahnya, Draco Malfoy menempuh jalan berbeda dari pendahulunya yang berkecimpung di kementerian. Memilih berbisnis resort dan penginapan. Berkat itu kejayaan Malfoy kembali. Ah, resto tempat Astoria mengundang Rose pertama kali, juga berada di bawah naungan perusahaan Draco.

Scorpius sebagai satu-satunya ahli waris. mulai mengambil alih tanggung jawab ayahnya, beberapa tahun belakangan. Meluaskan bisnisnya sendiri dengan menjadi sponsor utama tim Quidditch Ballycastle Bats.

Hanya saja, karena sedang masa berkabung, Scorpius mengambil cuti dengan tetap melakukan beberapa hal dari rumah. Seperti pemeriksaan berkas atau rapat jarak jauh.

Dengan segala situasi yang ada, Rose tak ingin menambah beban tak perlu dari meledaknya antusias masyarakat sihir. Akhirnya mereka berkompromi untuk tetap menjaga jarak di luar dan tinggal bersama —sementara— di unit Scorpius. Kalau tidak begitu, Scorpius bisa muncul dua jam sekali di klinik Rose.

Aksi mengamati wajah tidur Rose menimbulkan keinginan lain. Melihat bibir kekasihnya sedikit terbuka membuat Scorpius tak tahan untuk mengecupnya. Meski akibatnya kelelapan tidur Rose terganggu. Matanya terbuka perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk benar-benar terbuka.

"Pukul berapa?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.

"Masih pagi, tidurlah lagi."

Rose tertawa mendengkus, "Berhenti menciumi wajahku kalau begitu," protesnya pada Scorpius yang semakin meratakan ciumannya ke seluruh wajah.

"Tidak mau." Kecupan Scorpius mendarat di kelopak mata Rose bergantian.

"Dasar." Tangan Rose menangkup rahang Scorpius untuk mempertemukan bibir mereka. Mengisi beberapa menit dengan satu sesi ciuman panas.

Incurable Disease (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang