Epilog

132 8 0
                                        

(⁠✧✧⁠)_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_🍽️_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_✧✧⁠)


"Jika tempat ini membuatmu tak nyaman, kita bisa berganti tempat."

Astoria mencoba tampak biasa saat menawarkan hal tersebut. Kendati tatapannya pada deret menu tak begitu fokus. Menunggu jawaban dengan sedikit gugup.

"Ya?" Lawan bicaranya, menurunkan buku menu untuk berkontak mata. "Ah, tidak. Di sini saja, Mrs. Malfoy." Pembawaan tenang itu berbanding terbalik dengan pertemuan pertama mereka.

"Begitu? Baiklah." Napasnya terembus lega. "Aku harap kau tidak memaksakan diri." Sekali lagi ingin menunjukkan ketulusan.

"Tidak, sungguh. Saya suka tempat ini. Saya bahkan beberapa kali makan malam di sini juga. Bersama Scorpius."

"Benarkah?" Sebelah alis Astoria naik terkejut.

Wanita itu menjawab dengan anggukan. Lalu dengan senyum menenangkan, kembali berujar, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mrs. Malfoy." Tambahnya seolah mengerti keresahan sang nyonya Malfoy.

Rose Weasley. Anak perempuan yang ia kira akan membawa petaka. Yang akan membahayakan Scorpius. Yang ia permalukan dan pojokan di pertemuan pertama. Namun, yang ternyata justru menjadi penyelamat bagi anak lelakinya.

Jika memangkas 11 tahun ke belakang, rasa-rasanya mustahil Astoria berinisiatif, mengajak gadis yang kini telah menjadi seorang wanita - makan malam bersama, dengan intensi baik. Menghapus kenangan buruk yang ia tanamkan di tempat ini. Sekaligus memperbaiki hubungan mereka. Membicarakan hal termustahil yang sebelumnya ia bayangkan. Pernikahan.

Benar. Pernikahan Rose Weasley dan Scorpius Malfoy. Yang tentunya membuat publik heboh, gempar nan geger. Topik yang akan muncul bahkan di sudut Knockturn alley.

Sampai beberapa tahun sebelumnya, dia bahkan masih menganggap Rose Weasley sebagai mimpi buruk. Kekhawatirannya beralasan. Dengan apa yang dilakukan Draco pada orang tua gadis itu, Astoria tahu Ron Weasley tak akan tinggal diam, jika keduanya dekat.

Di atas itu, ada kebenciannya sendiri. Rose membuatnya tak tahan. Dengan alasan, dia anak wanita itu. Wanita yang namanya disebut Draco saat menyentuhnya. Rasanya begitu menyakitkan. Tidak. Itu menjijikan. Sangat melukai hati dan martabatnya.

Meski pada akhirnya Astoria tahu itu bukan salah siapapun. Tetapi sakit hatinya tidak hilang begitu saja. Semua itu mendorongnya untuk melakukan apa pun agar kedua anak itu tidak bersama. Termasuk memanipulasi ingatan Scorpius.

Astoria kira semua akan baik-baik saja. Dia yakin perasaan Scorpius hanya hasrat singkat khas remaja. Gadis itu juga setuju untuk tidak melanjutkan hubungan mereka. Demi kebaikan bersama. Pikirnya.

Nyatanya tidak demikian. Semua sia-sia. Dia masih ingat bagaimana anaknya kalap begitu kembali dari Hogwarts, tepat setelah seremoni kelulusan. Betapa gilanya hari itu. Betapa kacaunya. Hingga rasanya semua itu baru terjadi kemarin.

Saling lempar mantra tak terhindari. Scorpius mencoba menggunakan legilimens padanya. Astoria spontan bertahan. Draco pun tak luput turun tangan untuk menghentikan. Berakhir harus menyita tongkat dan mengurung Scorpius.

Kemarahan tak hanya datang dari Scorpius. Draco pun berang tak habis pikir karena ulahnya.

"Aku hanya ingin melindungi, Scorpius!" teriaknya kalap saat terus disudutkan.
"Kau tak mengerti ketakutanku! Scorpius tak boleh sampai mencintai gadis itu!"

Incurable Disease (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang