!------------ ❗warning❗------------!
Chapter ini mungkin cukup 'spicy (?)' or steamy (?) untuk beberapa pembaca. Bisa skip untuk yang merasa tidak nyaman. Tapi aku tetep berusaha membuatnya dalam rating young adult. Eh?! 👀 Semoga tidak ada minor. Yang minor bisa membaca karyaku yang lainnya 🤭
Ӝ̵̨̄_________( ˶ ❛ ꁞ ❛ ˶ )_________Ӝ̵̨̄
Sesi kecupan mereka terus berlangsung tanpa ada yang menarik diri. Sampai di tahap, syal Rose terasa mengganggu. Dalam satu gerakan Scorpius mencampakkan syal coklat itu hingga terserak di lantai. Kini telapak tangannya bisa bertemu kulit leher Rose secara langsung.
Ditinggalkannya sejenak bibir Rose untuk beralih menyapu lereng dagu. Turun dan tenggelam di ceruk leher yang lembut. Menyesap dalam-dalam aroma memabukkan yang menguar. Sekaligus memberi Rose waktu menarik napas. Scorpius bisa merasakan detak jantung mereka saling mengetuk.
Tak perlu waktu lama untuk kembali memperkerjakan bibirnya. Menciumi leher jenjang Rose. Pelan, hati-hati hingga penuh gairah sensual. Menempatkan tanda di sana. Aksi menggebu itu direspon dengan desahan dan rematan kuat pada rambut pirangnya. Scorpius tidak berhenti, justru melakukan hal yang sama dengan sisi satunya.
"...Sscorph ..." panggil Rose di sela hela napas yang tak teratur. Dia mulai kesulitan menyeimbangkan diri karena desakan tubuh Scorpius. Saat sedikit demi sedikit terdorong kebelakang, kaki Rose tak sengaja menginjak suatu bulatan. Mungkin satu dari jeruk yang ia bawa.
Rose pasti sudah terjengkang jika tidak sedang dalam dekapan. Kecelakaan kecil yang spontan membuat Scorpius menghentikan aksi. Membantu Rose mendapat keseimbangannya lagi. Serta memastikan kondisi wanita itu.
"Maaf, kau tak apa?" Suara rendah dengan engahan napas menunjukkan sisa gairah ada.
Rose mengangguk. "Emm. Aku baik-baik saja." Tangannya menyisir rambut agar rapi kembali.
Scorpius melepas tangan dari punggung Rose. Lalu ikut membantu merapikan. Sedikit tak enak karena itu akibat dari ulahnya. Meski mungkin kondisinya sendiri tak jauh berbeda.
Dalam kurun waktu itu hanya desah napas yang berangsur normal-- yang mengisi. Aksi merapikan rambut itu membuat tangan keduanya berakhir terjalin. Berikut pandangan mereka kembali beradu. Saling mengunci.
Scorpius membingkai wajah Rose. Satu ibu jarinya mengusap pinggir bibir penuh yang mengkilap. Turun lagi untuk menahan leher yang sudah ia tandai. Bisa ia rasakan tegukan gugup wanitanya.
Wanitanya. Bolehkah Scorpius berpikir demikian?
Baik Rose maupun Scorpius tak memungkiri kilatan hasrat di mata mereka belum padam. Keintiman kembali mewujud. Insting mengambil alih. Rose mulai mengalungkan tangan ke leher Scorpius, seiring bibir yang bertaut. Suara decapan bergaung dalam hening.
Tangan Scorpius tak tinggal diam. Dengan lihai melucuti sabuk coat. Sekejap, outer penghangat itu bergabung dengan syal yang sudah tergolek. Dia bisa semakin merasakan bentuk tubuh Rose. Terlebih dengan sweater rajut berkerah mock neck yang membungkus sesuai lekuk tubuh. Dielusnya punggung dan pinggang yang ramping. Bibir mereka bergerak lebih semangat. Menggelora. Seakan tak pernah puas saling mencicip. Merasakan. Menjelajah.
Satu sentakan, Scorpius mengangkat tubuh Rose agar melingkari pinggangnya. Tanpa menjeda pagutan, dia ber-apparate.
Rose sedikit tersentak saat merasakan tubuhnya mendarat di atas alas yang lembut. Scorpius mengungkungnya dengan masih terus menjamah bibirnya. Membuka mata sekilas, ternyata mereka sudah berada di sebuah kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incurable Disease (End)
FanfictionScorpius telah diultimatum sang ibu, agar tidak berurusan dengan Rose Weasley. Apalagi sampai menjalin hubungan tertentu. Tanpa tahu latar belakang, larangan tersebut, Scorpius mengiyakan. Rose Weasley. Gadis kecil berambut merah mengembang berantak...
