59. Wedding

296 23 16
                                        

💍_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_🤵🔔👰_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_💐

"Kau tak apa?"

"Apa?"

Rose dan Lily duduk di sofa ruang pas sebuah butik. Keduanya memegang majalah berbeda dengan isi sejenis. Potret gaun-gaun pengantin, tuxedo, suit, tiara dan lain-lain yang berhubungan dengan outfit pernikahan.

"Soal groomsmen Albus, dia kan salah satunya." Lily sengaja menekan kata dia agar Rose paham siapa yang dimaksud. Dan berniat mencubit jika sepupunya itu berpura-pura bodoh.

"Itu acara Albus. Terserah saja. Memang kenapa?"

Lily melirik Rose yang ternyata berekpresi biasa saja.

"Ya, kupikir akan sangat canggung dan tidak nyaman nantinya, buatmu. Setelah sekian lama kalian tak bertemu."

Mata Rose sedikit bergetar. Secara otomatis mengingat pertemuan tak sengaja mereka belum lama ini. Dia memang tak mengatakannya pada siapapun. Karena tak ingin terlalu memikirkan.

Diam-diam Rose menghela napas agak dalam. Setelahnya, "Tidak apa Lily. Thanks sudah khawatir. Peran utama hari itu adalah Albus dan Mackenzie. Jadi kita harus fokus pada mereka, oke?"

"Well, kau benar." Lily memilih menyudahi topiknya. Meski sebenarnya ia masih tak yakin pada Rose. Karena sepupunya tipe yang suka menyimpan perasaan.

Pembicaraan mereka resmi ditutup oleh seorang staf yang mengatakan kalau calon pengantin sudah selesai fitting wedd-dress-nya. Dan akan membuka tirai.

Bak scene dalam film-film romansa, tirai dibuka perlahan. Di baliknya menampilkan sesosok perempuan menawan.

"Guys ...?" Mackenzie meminta pendapat.

Lily memindai sekilas lalu berdiri. "Goodess, Macks! Kau benar-benar cantik! Sudah kuduga, yang ini memang paling cocok untukmu."

"Oh ya? Thanks Lily! Benar-benar oke kan?"

"Hundred percent," imbuh Rose menguatkan pujian Lily. Ia mendekat dan menyentuh beberapa bagian gaun Mackenzie. "Bahannya juga bagus. Cocok untuk musimnya."

"Nah kan. Berhenti khawatir Macken. Kau akan jadi pengantin tercantik tahun ini. Albus, bodoh sekali melewatkan hari ini."

"Dia harus bekerja sampai akhir minggu ini untuk bisa dapat cuti." Rose menanggapi.

Tidak seperti James yang menjadi atlet Quidditch profesional, Albus memilih bekerja di kementerian sebagai Auror.

"Lagi pula wajah bodohnya saat terpana di depan altar pasti menarik," lanjutnya dengan tawa jahil.

Lily membuat simbol pistol dengan sebelah tangan dan mengarahkannya pada Rose. Sebelah mata berkedip. "Ding dong!" Menyetujui.

"Guys, Berhentilah membuli calon suamiku." Meski setelah berkata Mackenzie ikut tertawa. "Yah, aku menantikannya."

Dia lalu memeluk Lily dan Rose bersamaan. "Thank you. Sungguh, terima kasih atas semua bantuan kalian. Terima kasih sudah menerimaku menjadi bagian keluarga kalian."

"Jangan membuat suasana sendu," protes Lily sambil balik memeluk Mackenzie.

"Kau tetap akan jadi bagian keluarga kami meski tidak menikahi kakak bodohku," lanjutnya saat pelukan terurai.

Rose tersenyum mengiyakan. Diusapnya sudut mata Mackenzie yang basah.

Hidup memang tak terduga. Siapa sangka di antara mereka berempat, Albus yang pertama menikah. Meski hubungannya dengan Mackenzie tidak selalu mulus, tapi mereka berhasil sampai di titik ini.

Incurable Disease (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang