༼❄️_________🥀🥀_________❄️༽
Meninggal Dalam Tidur. Draco Lucius Malfoy, tutup usia di 53 tahunnya.
Berikut adalah headline yang memenuhi laman utama surat-surat kabar. Breaking news yang menggemparkan jagat sihir. Meski tidak setenar golden trio, Draco Malfoy termasuk figur yang menyita perhatian publik.
Penyemayaman dilakukan di makam keluarga Malfoy. Hal yang bagus, salju tidak turun meski sisa semalam menutup di beberapa permukaan rumput. Menjadikan hawa lembab nan basah. Suhu masih rendah. Para pelayat mengenakan pakaian berwarna gelap memenuhi area pemakaman.
Rose termasuk di dalamnya. Bersama keluarga besar. Berdiri di samping ayahnya yang berwajah datar. Sedang ibunya sedikit sembab. Berulang menyapukan sapu tangan ke mata dan hidung. Dari apa yang dia dengar sebelumnya, ayahnya benar-benar telah berdamai. Hal membahagiakan sebelum terganti kedukaan.
Pamannya, Harry Potter sedang memberikan beberapa kalimat ungkapan duka dan kesan tentang mendiang. Peti mati mengambang di atas liang lahat. Menunggu untuk dikebumikan.
Pemakaman ditutup dengan ratusan tongkat pelayat terangkat ke atas. Cahaya putih melecut dari ujung tongkat ke udara. Simbol penghormatan terakhir.
Para pelayat cukup peka untuk memberi waktu dan ruang agar keluarga yang ditinggalkan bisa meluapkan kesedihan. Sebelum kemudian bergiliran menyalami, memberikan kata penghibur atau pelukan penenang.
Kerumunan perlahan berkurang. Satu persatu berpamitan. Ron Weasley, diikuti keluarganya mengambil giliran. Mendatangi Astoria dan Scorpius. Diam-diam Rose mendesah melihat Scorpius yang tampak tenang menerima ucapan-ucapan belasungkawa. Pria yang semalam ia peluk karena tampak begitu rapuh dan hancur. Yang memilih memendam kesedihannya rapat-rapat. Namun, bagi Rose itu lebih terlihat menyedihkan.
Tetap menjadi pemandangan mengherankan bagi Rose melihat ayahnya menepuk bahu Scorpius, mengucapkan kata-kata penghiburan. Atau saat ibunya memeluk sekilas Mrs. Malfoy yang pastinya tengah remuk redam. Dia sendiri hanya menjabat tangan Scorpius.
"Semoga beliau tenang di alam sana. Dan kuharap kau bisa tabah."
Mereka saling bertukar pandang beberapa detik hingga Scorpius berucap,"Terima kasih."
Tangan masih terjalin, tatapan masih beradu. Timbul dorongan pada diri Rose untuk kembali menenggelamkan pria itu dalam dekapan. Seperti semalam. Namun, pada akhirnya ia menekan kuat keinginan itu dengan melepas jabat tangan mereka dan mengusap lengan Scorpius. Lalu bergeser pada Astoria.
Melakukan hal yang sama. Menyalami dan mengucapkan satu-dua patah ucapan duka cita. Sejujurnya tak pernah terbersit bagi Rose untuk bertemu kembali dengan Astoria. Meski Rose tak lagi menyimpan perasaan apapun, rasanya seperti kotak Pandora dalam sudut benaknya terbuka. Ingatan tentang pertemuan-pertemuan mereka yang tak sekalipun berawal dan berakhir dengan baik, menyeruak. Dan hanya sebatas itu. No hard feeling. Hanya simpati atas duka yang tengah melanda wanita itu.
***
Sepekan setelah pemakaman, berita mengenai kepergian Draco Malfoy masih menjadi perbincangan. Masa lalu dan latar belakangnya kembali dibahas pada surat-surat kabar. Bagaimanapun dunia sihir kehilangan lagi satu figur penting. Rose bisa mendengar para pasien dan staf-staf kliniknya membicarakan perihal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incurable Disease (End)
FanfictionScorpius telah diultimatum sang ibu, agar tidak berurusan dengan Rose Weasley. Apalagi sampai menjalin hubungan tertentu. Tanpa tahu latar belakang, larangan tersebut, Scorpius mengiyakan. Rose Weasley. Gadis kecil berambut merah mengembang berantak...
