Membawa Rindu

1.5K 179 27
                                        

"Om badut mau kemana?"

Taqy, bocah itu duduk anteng dikursi belakang mobil sedan hitam yang tadi menunggu diujung jalan. Ia melihat kekanan dan kekiri, jalan begitu lebar. Hilir mudik kendaraan silih berganti. Herannya Taqy tak melihat kendaraan roda dua sama sekali.

"Beli permen yang banyak buat anak ganteng ini."

"Emang Ukie ganteng ya?"

Badut itu terkekeh, merasa gemas.

Taqy tak menerima jawaban dari pertanyaannya, namun rupanya bocah itu tak ambil pusing. Ia lebih tertarik melihat mobil besar disisi kanan, mobil besar itu membawa beberapa mobil juga dalam tumpangannya. Bocah itu sampai melotot, syok.

Jari telunjuk mungilnya, menunjuk dengan heboh. Sangat antusias sekali, dibarengi dengan pekikan.

"Om badut, mobilnya naik mobil."

Taqy sampai menempel pada jendela, menjangkau mobil itu agar tetap dalam pandangannya. Meski mobil yang ia tunjuk sudah berada jauh dibelakangnya. Badut itu memegang kedua sisi pinggangnya, menahan Taqy yang berdiri menghadap belakang mobil.

Taqy menepuk kursi berbalut busa dengan girang, "Om Badut, lihat!"

Bocah itu dengan paksa memutar kepala Om badutnya agar mengikuti arah pandangnya. Badut itu menghela napas, harus bersabar.

"Itu mobilnya, kelen ya?" adunya, ia masih menyesap permen lolipopnya yang hampir habis.

"Om Badut kok gak jawab sih, mobilnya kelen kan?"

Badut itu menggangguk cepat, bocah bawel. Pikir badut itu.

"Om badut itu manusia bukan? Kata Ayah badut itu manusia juga."

"Ehm, iya dong. Om badut juga manusia."

Taqy tersenyum, "Belalti Ayah gak bohong, Om badut pelnah bohong gak?" bocah itu memang bawel, apa saja bisa dibicarakan. Walaupun tuturnya masih tidak jelas, cadel.

Badut itu menggeleng, "Enggak dong, kan gak boleh bohong. Nanti Allah gak suka."

Taqy mengangguk, "Om badut mau pelmennya? Ukie gak mau lagi. Kalena kata Buna gak boleh makan pelmen banyak-banyak."

Lanjutnya, ia membuka mulut menunjukan gigi-giginya yang begitu kecil. "Nanti gigi Ukie hilang, kalena dimakan pelmen." begitu celotehnya.

Badut itu menghela napas, menggaruk kepalanya yang tak bisa tergaruk. Ia merasa tubuhnya begitu panas. Sudah tak kuat dengan baju badut yang dipakainya.

"Om badut mau gak pelmennya?"

"Em, ma-mau mau." jawabnya, sedikit gagap.

Taqy sejenak berpikir, lalu manyun. "Om badut kok gak ada mulutnya?"

Bocah itu nampak berpikir sangat keras, ia menyentuh permukaan mulut badut itu yang sama sekali tak terbuka. Hanya berisi kain busa, tak ada tembusan lubang.

"Gak ada giginya juga, kaya Kakeknya temen Ukie. Gak ada giginya."

"Nih, bocah ada aja celetukannya." batin badut itu.

Hi Switzerland (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang