"Buna..."
Cookies, jauh lebih manja. Seminggu terakhir ini. Salma pun rada bingung, ia tentunya bertanya. Tapi bocah itu memang tidak menunjukan keluhan apapun, jika semisal sakit. Aman-aman saja. Salma mengaitkannya dengan kesibukannya minggu ini, mengurus buku lama yang naik cetak kembali. Ia berkontribusi dalam menandatangani seribu buku terbitannya. Sebuah kenang-kenangan, selipan kutipan penyemangat turut Salma selipkan.
Belum lagi, undangan seminar akhir-akhir ini lebih sering. Minggu ini kedapatan tiga jadwal, tentunya diuniversitas yang berbeda. Rekannya, Zara. Pun turut serta, menjadi partnernya.
Ditengah kesibukan ini pula, lelakinya. Sama sibuknya. Sering pulang terlambat, lembur katanya. Ada proyek baru yang mengharuskan kerja ekstra diperusahaan tempatnya bekerja.
Cookies kehilangan perhatian mereka akhir-akhir ini. Meski begitu bocah itu masih memiliki sanak saudara, kakek nenek atau bahkan paman dan bibinya. Meski begitu rasanya tetap aneh, seperti ada yang hilang.
Salma pikir itu alasan putranya manja sekali akhir-akhir ini, tidur minta ditemani. Padahal biasanya anteng sendiri, atau sesederhana makan saja sering kali meminta Salma untuk menyuapi. Bukan tak ingin, hanya saja bocah itu tidak bisa kooperatif dengan kesibukannya akhir-akhir ini. Cookies juga sering tantrum tidak jelas, ingin dimengerti terus-terus.
Salma meluangkan waktunya, sebenarnya siang ini perempuan itu harus ke percetakan buku. Kembali menandatangani buku yang tersisa, tangannya terasa kebas harus bergelut dengan pulpen dan menulis bentuk yang sama disetiap buku. Juga kutipan singkat yang berbeda-beda, ia mesti sedikit berpikir. Pusing.
Esok pun jadwal perempuan itu mengisi seminar terakhir minggu ini, selebihnya belum ada tawaran lagi. Salma tentu sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya yang kapan saja itu. Mungkin tidak intens seperti buruh pabrik atau pekerja kantor yang setiap hari harus bekerja. Waktunya hanya sesekali, semacam freelance tapi Salma merasa pekerjaannya itu lebih dari sekedar freelance. Ia mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Salma menjemput putranya kesekolah, hari ini. Cookies sedari tadi berada digendongannya, memeluk lehernya erat. Sambil terus memanggil ibunya dengan manja.
"Buna..."
"Hm, iya, Nak?"
"Ukie lapal."
"Buna belum masak, mau Buna masakin atau kita beli aja?"
Cookies tak berpikir lama, "Buna aja yang masak, nanti Ukie bantu."
Salma tersenyum tipis, "Baiklah."
Cookies tersenyum senang, mengeratkan pelukan dileher ibunya. Seolah tak mau kehilangan. Ia ingin bersama ibunya seharian ini.
Salma melajukan mobilnya, membelah jalanan yang sudah padat dipagi menuju siang bolong ini. Panas dan padat.
"Ukie, udah laper banget?"
Salma mendengar beberapa kali perut putranya berbunyi, tak tega. Dalam hatinya berniat. "Makan diluar aja ya?"
Cookies menggeleng, "Mau makan masakan Buna aja." tetap pada pendiriannya, namun Salma tak tega. Apalagi melihat uraian kendaraan yang memadati ibukota hanya berjalan tersendat. Sepertinya akan lama. Macetnya berkali lipat, tidak seperti biasanya.
Salma membuka menurunkan kaca, bertanya penasaran. "Pak, didepan ada apa ya? Perasaan gak jalan-jalan."
"Saya kurang tahu, Bu. Katanya sih ada tabrakan."
"Parah, Pak?"
Salma tidak menemukan jawaban lagi, karena orang yang Salma tanya pun sama penasarannya. Sampai akhirnya jalanan kembali berjalan. Rupanya hanya terseruduk, ada aksi adu mulut disana. Masing-masing dari dua pengendara yang terlibat meminta ganti rugi. Banyak warga yang menengahi. Perdebatan alot jika sama-sama menggunakan ego.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Switzerland (END)
Fiksi Remaja#Karya 4 [Romance Funfiction] Sequel You're SPECIAL ●○●○●○●○ Switzerland is a dream country bagi seorang gadis untuk melanjutkan pendidikannya disana, namun orang tuanya melarang jika ia hanya pergi seorang diri. Jalan pintasnya adalah ia dinikahkan...
