Hari demi hari, tentunya dengan suasana berbeda terjalani. Sama seperti cuaca, dari hari satu ke hari satunya pasti berbeda. Begitu pula dengan suasana hati. Ada suka, ada duka. Kadang menjadi satu dalam satu kali dua puluh empat jam.
Namun sialnya, suasana hati kini berhenti diwaktu yang tak tepat. Pukul sepuluh dengan rasa duka.
Salma hari ini diam seribu bahasa, hanya terdengar helaan napas saja. Pun bicara hanya dengan putranya.
"Buna..."
Salma memberi senyum, netra lelaki kecil itu sayu. Tak ada kata yang terucap. Salma mengangkat Taqy ke gendongannya, seperti induk koala.
"Buna, Ayah?"
Tangan kecil bocah itu menunjuk ayahnya yang masih duduk disofa, seolah ingin ayahnya mengantar ia keperaduan. Salma melirik tanpa cakap, ada duka dihatinya. Lebih tepatnya, kesal. Tak mau berbicara pada ayah anaknya itu. Entah, akan sampai kapan berdiam diri seperti itu.
Salma kali ini menuruti egonya, masa pengaruh menstruasi? Akal sehat perempuan itu bertanya demikian. Hari ke-7. Biasanya menjadi hari terakhir dalam siklus bulanannya. Tapi...
Rony bangkit, ia mengerti salah. Hendak meminta maaf namun Salma tak mau lepas dengan Taqy. Membuat lelaki itu bingung membujuk. Ia tak mau putranya turut serta dalam kegaduhan rumah tangganya. Biarlah Taqy melihat mereka dalam versi bahagia saja. Terlalu kecil untuk mengerti, begitu simpul Rony.
Rony menepuk tangannya, "Sama Ayah?"
Taqy melirik ibunya, lalu melirik ayahnya. Rony memberi senyum. Tangannya masih melambai.
"Ukie jalan aja, Buna mau tulun."
Jalan tengah, ternyata lebih dewasa lelaki kecil itu.
Tatapan Rony sendu, sedangkan Salma sulit diartikan. Terkesan tajam. Rony tidak ciut, hanya kelu saja.
Taqy berlari lebih dulu, pukul sepuluh seharusnya bagi anak usia empat tahun sudah terlelap lama.
Salma mengikut, lalu Rony dibelakangnya.
Taqy merebahkan diri dikasurnya, mulai lelah dengan hari ini. Rasanya begitu kantuk.
"Aku tidur sama Ukie."
Sebuah pernyataan yang menyayat lelaki dibelakangnya, Salma tak mau menatap. Perasaan Rony makin tak karuan. Rada kesal.
Bukan kesal pada Salma, tapi kesal pada perasaan perempuan itu. Juga dirinya yang mungkin sudah salah langkah dalam bertindak. Ia terlambat mengerti. Salahnya juga, wajar Salma jadi seperti ini.
"Ayah juga, Bun?"
"Nanti Ayah nyusul sayang, Ayah ada kerjaan dulu." lanjutnya sedikit terkekeh, menepuk jidat. "Lupa Ayah."
Taqy tertawa pelan, merasa lucu. "Ditunggu Ayah." bocah itu kooperatif ternyata. Seolah mengerti tanpa ucap, seolah paham tingkah orang tuanya yang terus mendingin sejak sore tadi.
Bukan Rony tak mau, rasanya ia harus menurunkan ego. Perempuannya perlu menata hati. Mungkin kesalnya masih tersisa. Semoga cepat pudar, begitu harap Rony.
Kembali kegiatan masing-masing, Rony dengan kerjaannya padahal hanya dusta. Lelaki itu justru melamun dikamarnya. Sedangkan Taqy sudah terlelap. Sementara ibunya masih terjaga.
●○●○●○●○
Pukul 2.30 pagi, Rony belum kunjung terlelap. Gusar. Ingin membujuk tapi.
Arghh...
Ia mengacak rambutnya frustasi, tanpa Salma rasanya netranya enggan memejam. Tiba-tiba insomnia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Switzerland (END)
Teen Fiction#Karya 4 [Romance Funfiction] Sequel You're SPECIAL ●○●○●○●○ Switzerland is a dream country bagi seorang gadis untuk melanjutkan pendidikannya disana, namun orang tuanya melarang jika ia hanya pergi seorang diri. Jalan pintasnya adalah ia dinikahkan...
