Welcome Switzerland

30.7K 697 58
                                        

"Mas."

Salma membeo, rahangnya terasa mau jatuh. Menganga.

"Hi Switzerland... " Salma berucap haru.

Mereka tiba di Bandara Internasional Zurich, Swiss. Pada pagi hari, sebelumnya mereka mengambil jadwal penerbangan sore menjelang malam dari Indonesia.

Salma meninggalkan kopernya, berjalan sekitar sepuluh langkah. Rasa bahagia membuncah, Rony mengambil alih koper milik perempuannya. Memandang dari belakang dengan senyum, bahagia juga.

Salma tak mau melewatkan momen, memilih terus memandang, tanpa kedip. Batinnya terus melirihkan asma Tuhan. Penuh takjub.

"Dibumi, selalu ada keindahan. Switzerland dan..."

Salma berbalik, melebarkan senyumnya, "Lelaki-ku."

Rony, sedikit memiringkan kepalanya. Memberi senyum tulus.

Salma berlari kecil menghampiri lelakinya, tetap teguh dengan senyum lebarnya. Rony menyambut, membuka satu tangan. Merengkuh perempuannya yang sedang berbahagia itu.


Rotasi musim menjadi siklus pasti diseluruh belahan bumi. Musim semi menandai berakhirnya musim dingin yang keras dengan suhu yang semakin meningkat. Daerah dataran rendah juga mulai berbunga.

"Ca."

"Hm?" Salma mendongak dalam rengkuhan.

"Banyak senangnya?"

Salma mengangguk, "Banyak! Makasih ya."

Senyum manis dan hangat kecupan di kening menjadi jawab dari lelakinya, Salma semakin melebarkan senyumnya.

Mereka berjalan beriringan, Rony merengkuh pinggang perempuannya, meninggalkan bandar udara terbesar di Swiss, menuju pusat kota yang tak jauh. Zurich. Kota terbesar di Swiss meski ibukotanya adalah Bern.


Mereka sebelumnya sudah memesan sebuah apartemen, tempat tinggal mereka selama empat tahun kedepan. Bangunan yang menjulang tinggi itu memiliki arsitektur yang khas, ke eropa-an. Sekilas seperti nuansa kerajaan.

Mereka sudah mendapatkan kunci setelah verifikasi ulang. Salma lebih dulu masuk langsung terduduk di sofa, menatap sekeliling. Nampak sangat minimalis semua area ruangan nampak dekat, tak apa Salma suka.

Rony membuka tirai lebar menuju balkon, membuat area ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu, mungkin gunanya untuk keduanya. Lalu dapur pun ikut terpancari cahaya. Nyaman, tempat ini nyaman. Mereka akui itu. Tempatnya kecil namun tak terlalu kecil, mengingat mereka hanya tinggal berdua rasanya sudah lebih dari cukup.

Mereka tak langsung mendaftar atau mengurus pendidikan, nanti. Ada beberapa hari untungnya yang tersisa dari masa ajaran baru, Salma tak sabar menjadi maba di negara orang. Nanti pula mereka akan disatukan dengan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa yang sama seperti mereka, karena tergabung dalam lembaga beasiswa yang sama. Jadwal keberangkatan mereka pun sama dari beberapa daerah di Indonesia menuju Swiss.

"Mas, sini." Salma melambaikan tangannya, Rony menurut langsung duduk disamping perempuannya.

Ada panggilan vidio dari keluarga mereka.

Assalamualaikum, sapa mereka.

Rony dan Salma kompak memberi senyum, "Waalaikumussalam," jawab mereka, lagi-lagi kompak.

Hi Switzerland (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang