Ekstra Part II

3.2K 274 71
                                        

Bu, Salma hamil.

Tiba bulan berlalu, perubahan demi perubahan Salma rasakan. Mulai dari perubahan pada tubuhnya, lingkungannya. Pun orang disekelilingnya.

Cookies tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri, bocah itu kerap membantu. Berlagak seperti orang dewasa. Selalu membantu apapun dan menunjukan perhatian-perhatian kecil yang selalu membuat ibunya tersenyum, kadang juga terharu.

Seperti saat ini, bocah itu sedang mencuci piring bekas makan siangnya sendiri. Menitah ibunya tetap duduk disofa. Salma memperhatikan dari jauh.

"Buna, mau minum?"

Salma menggeleng, ia menepuk sofa. Cookies naik, bertanya-tanya. Salma merengkuhnya dari samping.

"Makasih ya, Abang."

Cookies tersenyum, mengusap perut ibunya yang sedikit membuncit dengan tangan kecilnya. "Adik bayi lagi apa? Main sama Abang yuk?"

Salma terkekeh, mengusap rambut putranya.

"Buna, adik bayi kapan kelualnya?"

"Nanti. Abang udah gak sabar ya?"

Cookies menggeleng.

"Loh?"

"Nanti Buna gak sayang lagi sama Ukie." Cookies menunduk, manyun.

"Hei." Salma menyentuh kedua bahunya, menatap dengan lembut. "Kata siapa?"

"Buna akan tetap sayang sama Ukie, sama adik bayi. Semuanya Buna sayang."

Cookies masih manyun, "Iyakah?"

Salma mengangguk pasti, Salma merentangkan tangannya. Siap memeluk putranya, memberi tenang. Bahwa kehadiran sosok adik Cookies didalam perutnya tak jadi penghalang rasa sayangnya pada bocah itu.

Cookies bersandar didada ibunya, bergumam lirih. "Adik bayi kalau udah lahil nanti, jangan nakal ya. Dan jangan belisik."

Salma tahu ada sedikit rasa cemburu dibalik rasa senang putranya itu. Wajar saja, ketakutan yang manusiawi. Salma dan Rony juga sedang banyak belajar. Bersikap sehati-hati mungkin. Putranya kadang juga sensitif, merasa seolah bukan satu-satunya lagi membuat Cookies merasa dirinya seakan terancam. Takut-takut kedua orang tuanya lebih menyayangi adik bayinya itu.

Salma dan Rony sebisa mungkin memberikan perhatian lebih, mencoba selalu ada dan siap siaga. Perlahan mencoba meyakinkan perasaan bocah itu. Bahwa mau bagaimana pun Cookies akan tetap mereka sayangi, kasihi dan cintai. Terlepas kehadiran anggota baru nanti.

"Anak pemberani udah siap besok?"

"Gak akan sakit kan Buna?"

Salma menggeleng, "Enggak, cuman sedikit. Nanti langsung sembuh."

"Buna temenin ya?"

"Pasti dong, apasih yang enggak buat Abang?"

Bibir Cookies perlahan terangkat, memberi senyum tipis. Perasaannya kembali lega. Sebenarnya ia tak takut. Hanya saja bertanya-tanya. Seperti apa sunat itu? Apa semenyenangkan seperti yang ayah ibunya bilang? Atau justru sebaliknya. Bocah itu meraba-raba apa yang akan terjadi, meski rasa penasaran lebih mendominasi.

●○●○●○●○

"Assalamualaikum."

Rony memberi salam cukup keras, lalu menutup pintu pelan karena Salma berdesis.

"Ssttt...Mas!"

"Eh?" Rony menggigit bibir bawahnya, tak tahu. Cookies terlelap disofa.

Hi Switzerland (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang