"Caca..."
"Hm?"
Rony mengambil ponsel milik perempuannya, diletakan dengan apik. Jauh-jauh dari posisi mereka. Salma memperhatikan tingkah polah lelakinya, keningnya berkerut.
"Sini hp aku."
Rony menggeleng, "Gak mau."
Salma hendak menjangkaunya, namun sial sudah digeser jauh dari jangkauannya. Salma berdecak.
"Mas, ih!"
Rony manyun, mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "Nih."
Salma menerima, tanpa cakap. Kembali tenggelam dalam dunia maya, mencari kesenangan disana. Sementara lelaki disampingnya sudah melipat muka, bete setengah mati.
Rony akhirnya mendengus, namun mendekat juga. Bersandar didipan seperti yang Salma lakukan. Perlahan kepalanya bersandar dibahu perempuannya, ikut memperhatikan layar ponsel itu. Salma bergeming, biar saja. Dari pada rusuh.
Rony berdecak, bosan. Salma masih anteng dengan ponselnya. Terus-terusan digeser dengan tampilan vidio musik berbeda-beda. Rony meluruhkan tubuh, kali ini berubah tengkurap.
Salma diam-diam memperhatikan kelakuan lelakinya, seperti gelisah. Tidak bisa diam.
Rony kembali terlentang, mendongak sesaat. Salma masih diposisi yang sama.
"Ca."
Salma bergumam, cuek saja.
Rony manyun, lagi. Merasa diabaikan. Ia merubah posisi tidur. Miring. Menghadap perempuannya. Membuat pola abstrak disisi perut perempuannya yang sudah buncit besar. Menginjak 39 minggu, sudah mendekati hari lahir.
Salma sedikit geli, namun membiarkan saja. Entah kenapa, Salma lebih ingin bermain dengan ponselnya. Mengabaikan lelakinya yang sebenarnya sedang kumat manjanya. Dari tadi terus bertingkah, mungkin caper.
Rony mendongak lagi, semakin manyun. Apalagi Salma nampak cekikikan. Menertawakan apalah, Rony tak tahu. Tak kepo juga.
Tangan Rony mengudara, menggapai tangan Salma. Salma membiarkan tangan kanannya diambil. Tangan kirinya masih pada ponsel, menggulir layar dengan anteng.
Salma terkejut, "Eh?" ibu jarinya tiba-tiba hangat.
Si pelaku meringkuk miring, memejam. Menyesap ibu jari perempuannya. Pengalihan rasa dongkol karena terus diabaikan.
●○●○●○●○
Pagi harinya, Cookies belakangan ini sedang semangat-semangatnya berlatih bersepeda. Meski tanpa pedal.
Salma membawa piring dan tumbler air yang ditaruh dilantai keramik didepan rumahnya, sementara ia berdiri dicarport. Memanen panas matahari pagi sekaligus menyuapi putranya, sarapan pagi. Cookies memang lebih sering disuapi semenjak ibunya mengandung. Dalam benaknya, ingin bermanja sebelum adik kecilnya datang.
Sedangkan Rony berjongkok, memasangkan alat pengaman diantara dua lutut lalu dua siku, tak lupa helm kecil. Khusus bersepeda. Cookies sudah memekik senang. Ingin segera meluncur.
Setelah memberi satu suapan, Cookies meluncur, mengayuh dengan kedua kakinya. Rony mengekor dibelakang. Cookies melesat kencang, asik sendiri.
"Abang, pelan-pelan hei!" peringat ayahnya.
Salma berjalan pelan dibelakang, masih membawa piring. Matahari yang belum panas membuat lantai cor-coran dikawasan komplek tempat mereka tinggal juga tidak panas, belum panas. Salma sengaja menelanjangkan kakinya. Ikut olahraga pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Switzerland (END)
Novela Juvenil#Karya 4 [Romance Funfiction] Sequel You're SPECIAL ●○●○●○●○ Switzerland is a dream country bagi seorang gadis untuk melanjutkan pendidikannya disana, namun orang tuanya melarang jika ia hanya pergi seorang diri. Jalan pintasnya adalah ia dinikahkan...
