Membawa Rindu II

2K 222 63
                                        

"Ca, bercandanya gak lucu."

"Siapa yang bercanda Rony?"

Lanjutnya, "Kamu pikir aku bercanda?"

Rony menatap perempuannya lekat-lekat, mencari kejujuran dari netra itu. Namun Salma enggan menatap. Mengalihkan.

"Tatap aku kalau kamu gak bercanda."

"Kenapa diem?"

"Salma, tatap aku."

Rony mengeratkan genggaman tangannya, menelungkupkan wajah diatas paha perempuannya. Memeluk dan mengecup jemari Salma dalam-dalam. Hanya diam, meluruhkan tangisnya.

Salma memalingkan wajahnya, tak mau menatap. Ia luluh. Tak bisa dibiarkan. Rasa cemas yang dialaminya hari ini menuntut balas. Awas aja ya, Mas...

"Lepas, Ron."

Salma menarik tangannya, mencoba menyingkirkan Rony yang masih bersimpuh. Rony menggeleng, "Enggak mau."

"Lepas, Rony!"

Rony menghela napasnya, tetap menggeleng. "Aku bakal lepasin tapi tarik semua ucapan kamu tadi."

"Yang mana?"

Rony mendongak, netranya basah. Masih memerah sedangkan Salma sudah surut sedari tadi. Ia menelisik netra perempuannya.

"Awas, Ron. Coklat aku keburu dingin diluar." Salma beranjak, berdiri. Tapi Rony ikut berdiri. Menubruk tubuhnya sampai Salma terhuyung dan kembali duduk disofa. Rony menangis sejadi-jadinya. Kesal. Tentu saja.

"Gak lucu!"

Salma mengusap punggungnya, rasanya pengap. Lelakinya terlalu erat memeluk. "Pengap ih, lepas gak?"

"Enggak!"

"Dih, kok ngegas?"

"Enggak..." suara Rony melembut, namun tetap pada posisi yang sama.

"Enak gak dimainin perasaannya kaya gitu?"

Rony menggeleng, semakin erat memeluk. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya.

"Jadi, gak jadi kan pisahnya?" Rony mundur menatap perempuannya. Mencari kejujuran.

Salma berdecih, "Yaudah, kalau kamu mau pisah ya pisah aja."

"Mulutnya!"

Salma manyun, "Nih, ya, Mas. Sakit hati aku, kesel hati aku, marah hati aku, kecewa hati aku, kamu nyebelin banget tau gak? Kalau mau ngasih hadiah kan bisa kasih aja gak harus segala prank prenk prank prenk kaya gini. Dipikir enak apa? Enggak tau."

Rony malah menahan senyum, merasa lucu.

Salma mendelik, menghardik sebal. "Ngapain senyum-senyum? Gak ada yang lucu ya!"

Rony menggeleng, ia memeluk perempuannya lagi. Menyandarkan kepalanya dibahu Salma.

"Berat, gak usah gelendotan gini!"

Rony tak mengindahkan larangan itu, tak perduli.

"Apaan sih? Gak usah gelendotan. Berattt..." Salma menyingkirkan lelakinya, mendorong tubuh Rony semampunya. Susah.

Akhirnya tetap menggerutu, "Ish, sebel ah!" perempuan itu kembali manyun.

"Kamu cerewet, aku suka."

"Halah, gak mempan aku. Gak mempan lagi." Salma mencebik.

Cup!

Salma melotot, pipinya baru saja dikecup. Ia diam sesaat. Bingung mencerna. Otaknya mendadak lemot. Rony menahan senyumnya.

Hi Switzerland (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang