"Umayra Elvano Jenewa?"
Cookies duduk bersila disamping ibunya, keluarga dan sebagian teman yang tersisa kompak duduk lesehan diatas karpet tebal. Bercanda ria sekaligus berbincang-bincang.
Acara tujuh hari kelahiran anak kedua Salma dan Rony sudah usai, sebagian tamu sudah undur. Hanya tersisa keluarga dekat dan para sahabat saja.
Salma tengah menimang anak perempuannya dipangkuan, sedari tadi Cookies terus disampingnya. Sesekali memperhatikan bayi kecil yang lelap tertidur dalam bedongan itu. Tak ada suara, hanya benar-benar memperhatikan.
"Eh, setau gue. Jenewa itu nama kota di Swiss kan?"
Salma dan Rony saling pandang, pertanyaan Paul membuat kedua orang tua itu menahan senyum.
Rony mengangguk, "Iya, kan bikinnya disana."
Rony mengaduh, pinggangnya dicubit keras. Perempuannya melotot, "Mas!"
Rony meringis, "Kan, gak boleh bohong, Ca," balasnya, mencicit pelan.
Cookies celingukan melihat orang-orang dewasa tertawa, keningnya berkerut. Bocah ompong itu menatap kedua orang tuanya.
Rony yang paham, melambai. Cookies duduk dipangkuannya, "Ada lucu-lucu ya, Yah?"
"Iya, Ukie lucu," jawab ayahnya, mencubit pelan pipi putranya yang sedikit berisi.
●○●○●○●○
"Sebel ah, aku."
Rony menutup pintu kamar pelan, baru saja kembali dari kamar putranya. Menemani bocah itu tertidur.
Salma sedang duduk dimeja rias, Rony mendekat, mengerutkan kening, "Sebel kenapa, Ca?"
Salma berbalik, menatap lelakinya, "Coba liat Adek tidur gak?"
Meski bingung, lelaki itu tetap menurut. Melihat putrinya terlelap ditengah-tengah kasur mereka. Anteng.
"Bobok kok, kenapa emangnya?"
Salma mendekat, duduk disisi kasur. Rony ikut duduk disampingnya, Salma menatap putrinya yang memejam. Rony memperhatikan raut wajah perempuannya.
"Ca?"
Salma manyun, berdecak, "Ini aku udah kecintaan atau gimana sih? Enggak Abangnya, enggak Adiknya. Semuanya mirip kamu, aku kebagian apa, Mas?"
Rony menahan tawa, Salma semakin merengut, "Masa kebagian hikmahnya lagi," keluhnya, pelan. Nampak bete sekali.
Rony akhirnya tertawa, pelan. Ia turun dari kasur, berlutut didepan perempuannya, "Jadi, sebel gara-gara itu?"
"Ck, ya kamu pikir aja sendiri!" ujar Salma, menghempaskan tangan lelakinya.
Rony kembali menggenggam kedua lengan perempuannya, mengecupnya, "Nanti bikin yang baru," candanya.
"Mulutnya ih!" balas Salma, ketus.
Rony terkekeh, pelan, "Masa mau ngambek gara-gara Adek mirip aku sih. Kan aku Ayahnya, kecuali kalau mirip Paul baru ngambek. Soalnya bakal jelek anak kita."
Meski berdecak, tak urung Salma tertawa, "Sok ganteng!" ucapnya, memencet hidung Rony, cukup kencang.
"Iya, si paling cantik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Switzerland (END)
Jugendliteratur#Karya 4 [Romance Funfiction] Sequel You're SPECIAL ●○●○●○●○ Switzerland is a dream country bagi seorang gadis untuk melanjutkan pendidikannya disana, namun orang tuanya melarang jika ia hanya pergi seorang diri. Jalan pintasnya adalah ia dinikahkan...
