#06

895 66 12
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

....

Setelah puas duduk di kantin, kini Aga sudah berada kembali di kelasnya. Duduk manis, dengan kepala yang ditelungkupkan di atas meja, mengabaikan guru PAI yang sedari tadi menjelaskan materi dengan semangat empat-lima.

"Ada yang mau di tanyakan?"

"Pak!"
Aga dengan mata merahnya tiba-tiba perlahan berdiri dari tempat duduknya dengan mengangkat tangan.

"Iya, Aksa ya? Mau nanya apa?

Aga yang disalah pahami sebagai
Aksa itu tak peduli mau dianggap sebagai siapa. Satu sekolah pun sudah tau, jika Pak Kuntoro yang setahun lagi akan pensiun itu memang sudah agak pikun orangnya.

"Saya ngga mau nanya pak, saya mau izin ke kamar mandi."

"Oh iya silakan, jangan lama-lama!"

Aga keluar tergesa dari kelasnya, tujuannya sekarang hanya satu, UKS. Nyatanya mata Aga merah bukanlah akibat bangun tidur, melainkan karena menahan rasa sakit dari penyakit yang sudah bersarang selama bertahun-tahun di tubuhnya.

Aneh, padahal obat sudah ia minum, namun sepanjang jam pelajaran ia memejamkan mata, menunggu obat itu bereaksi, nyatanya tak berdampak apa pun.

"Permisi, Buk! Ada painkiller ngga buk?"

Sesampainya di UKS, Aga langsung bertanya pada petugas UKS mengenai menanyakan satu-satunya barang yang sangat ia butuhkan saat ini.

"Stoknya lagi habis, baru saja mau ibuk pesan."

Aga memejamkan mata ketika mendengar jawaban yang membuatnya lemas seketika.

"Buat siapa memangnya? Buat kamu sendiri?"

"Iya buk."

"Kamu duduk dulu coba, biar ibuk periksa ya!"

Petugas itu mencoba membujuk Aga untuk diperiksa. Ia mulai khawatir ketika melihat wajah Aga yang tampak pucat dengan bibir yang sedikit membiru.

"Ngga usah buk, udah agak mendingan. Makasih." Aga berusaha kuat agar suaranya terdengar tetap stabil.

Ia berencana kembali ke kelasnya untuk mengambil balik obatnya yang sialnya malah tertinggal. Mungkin ia harus minum sekali lagi agar obat itu memberikan reaksi. Langkahnya terseok mencari keberadaan kamar mandi ketika ia merasakan kepalanya tiba-tiba pusing, dan seperti ada sesuatu yang mendesak keluar dari mulutnya.

BLAM

Pintu kamar mandi ditutup kencang. Aga terduduk lemas di atas dinginnya lantai. Keadaannya sangat kacau dengan seragam yang sudah tak karuan bentuknya. Ia terengah, berusaha meraup udara yang seakan terus menjauh darinya.

BaswaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang