~Happy Reading~
💚💚💚
•
•
•
"Itu boba milk tea gua anjing!"
Awal hari diisi bukan dengan doa atau yoga ala orang kaya, melainkan dengan teriakan dua monyet bernama Neila dan Kania. Baru kemarin mereka kena jetlag, sekarang udah ribut kayak pasar malam.
"Udah-udah, Nei. Nanti beli lagi," Vano langsung jadi wasit, takut rumah mewah itu berubah jadi arena gladiator.
"Belain aja terus!" Neila manyun, kayak anak SD yang rebutan jajan cilok.
"Ka, ini rumah siapa sih?" Era menatap bangunan megah di hadapannya. Pilar-pilarnya menjulang kayak somay jumbo, kaca-kaca berkilau seolah ngejek orang miskin. Hehh canda!
"Rumahnya Marchel."
"An Marchellio???" Neila langsung meloncat antusias, matanya berbinar.
Takk!
Kepalanya dijitak Kania tanpa ampun. "Bukan goblokk! Itu mah karakter fiksi, book sebelah itu!"
Era cuma bisa ngakak. Suasana kayak drama komedi receh, sereceh yang recehan.
"Rumah Profesor Vientiane ada di sebelah mana, Ran?" Vano nanya, nada suaranya setengah serius setengah baper kelakuan Kania.
"Dimana-mana kamu tinggal, ya mana gua tau," jawab Raniya santai, bikin Vano pundung sambil manyun kayak ikan lele. Bukan chenle NCT!
"Btw, kakak mau ceritain tentang keluarga buangan Profesor itu kan?" Tifani nyelutuk sambil nyender ke sofa empuk.
"Oh ya gue lupa, Faderock Vientiane itu..."
"Woy!! Gass jalan-jalan ke pantai!" teriak Naza, muncul dramatis dengan pelampung bebek warna shocking yellow, kayak lagi audisi jadi maskot iklan es teh.
"Gass!! Fani, gue lanjut pembahasan entar. Sekarang sono siap-siap!" titah Raniya. Semua langsung bubar ke kamar masing-masing, kecuali Neila yang masih mondar-mandir kayak kucing kebelet kawin.
"Kak."
Langkah Raniya yang udah mau cabut berhenti. Ia balik badan, menatap Neila yang jarang banget serius. Ekspresinya kali ini beda, matanya redup kayak lilin mau padam.
"Gue mau cerita," Neila menarik napas panjang. "Dulu, aku pernah mempercayai seseorang untuk menjaga seseorang. Aku seperti menyayanginya, tetapi secara bersamaan aku membencinya. Tapi itu hanya angan-angan, Kak.
Aku nggak tau siapa orang itu, tapi itu selalu menghantuiku, bahkan ke mimpi. Kakak tau?"
Ruang tamu langsung kayak ditimpa kabut. Hening.
Neila yang biasanya ribut kayak toa masjid tiba-tiba hilang, terganti sama bayangan dirinya yang rapuh nan aneh.
Raniya menghela napas, berat banget, seolah ada gunung di dadanya. Ia tersenyum tipis. "Mungkin sebuah kejujuran terkadang menyakitkan untuk diterima, menyisakan sebuah kebohongan.
Karena terkadang jiwa kita tidak siap untuk memberi kejujuran. Anggap semua itu hanya pikiranmu, Nei. Nanti tiba saatnya kamu mengetahuinya sendiri."
Neila diam. Senyap, padahal tadi masih teriak soal boba. Lalu bibirnya bergerak pelan. "Kebohongan yang telah lama terpendam akan menyakitkan jika baru diketahui, jika sebuah kebohongan itu merupakan bagian dari jiwamu.
Sudahlah kak, Nei mau siap-siap ke pantai."
Ia bangkit, lari kecil ke kamar, meninggalkan Raniya yang mematung kayak patung Liberty versi KW.
"Nih anak kerasukan jin tomang," gumam Raniya akhirnya, lalu lompat-lompat riang menuju kamarnya.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
RANEL FAM
RandomHanya sebuah cerita dari sebuah keluarga, Tidak untuk menyinggung orang lain, namun jika ada kesamaan nama, tapi gak mungkin, mohon dimaklumi. BOOK SPESIAL ALIEN JANGAN PLAGIAT, BAHKAN BIKIN CERITA KAYAK GINI!! MURNI CERITA DARI AUTHOR!! JANGAN SIDE...
