13

24 5 59
                                        

~Happy Reading~
💚💚💚


Cuaca cerah menemani anggota ranel dengan kesibukan berlari ke sana ke mari untuk menyiapkan peralatan agar tidak tertinggal nyonya iblis.


"WOYYYY SEMPAK BIRU GUE MANA!?"

Vano nyerocos sambil ngubek-ubek tasnya kayak lagi cari harta karun yang hilang di Atlantis. Suaranya menggema seantero bandara, bikin orang-orang noleh semua, termasuk nenek-nenek yang nyumpahin dia dalam hati.

Neila langsung noleh, "MALU-MALUIN ASU!"

Tanpa pikir panjang, Neila nyabet tas pinggang Vano dan ngelemparin ke arah mukanya. "Akhirnya keluar juga mulut lu, Van. Bangga banget sempak ilang diumumin ke satu bandara?"

Vano meringis, "Ya serius, Nei, tadi tuh sempak gue gue taro di tas kecil. Yang biru, limited edition, yang lu beliin pas ulang tahun!"

"LU KIRA GUE HAFAL SEMPAK MANA YANG GUE KASIH?!"

Kania yang lagi duduk tenang sambil ngunyah permen langsung nyeletuk, "Kan itu sempaknya ada tulisan 'Vano sayang Kania'."

Semua langsung diem sejenak.
Chazel yang baru balik dari beli minuman, ngedenger kalimat itu sambil narik napas kayak abis nyium aroma kopi basi.
"Jelek banget barangnya njir?"

Vano panik. "ITU CUMA INISIAL!!!" lalu dia berbalik ke Kania, "Kenapa lo buka identitas rahasia kita?!"

Kania mengedikkan bahu, "Itu sempak lo yang nyebutin, bukan gue."

Raniya, yang dari tadi duduk di pojokan sambil nyeruput minuman dan gak ikut keributan, akhirnya angkat suara. "Gue pergi ke luar negeri bukan buat liat keributan beginian, tapi lucu juga sih."

"GAK ADA YANG LUCU DARI COWO NYARI SEMPAK, KARAN!" Neila berteriak frustasi

Vano makin kalang kabut, "INI MASALAH HARGA DIRI GUE!" lalu dia jongkok sambil menatap kosong ke lantai bandara, "Semua kenangan gue ada di sempak itu"

Chazel yang merasa jijik melipir ke Raniya, narik napas dan tanya, "Babe, kenapa harus pergi?"

Raniya terdiam sejenak, "Gue udah capek."

Chazel mengerutkan dahi bingung, "Capek sama siapa?"

"Sama semuanya. Sama orang, sama sistem, sama negara yang kasih nilai ekonomi rendah padahal gue ngerjain sampe nangis." Raniya bicara dengan mata kosong menatap lantai.

Chazel melongo. Kania tepuk-tepuk pundak Chazel pelan.

"Udah bang, itu kode keras, jangan ditanya lagi."

"Gak paham gue." Kata chazel, bahkan author pun gak paham.

Bell boarding mulai berbunyi, dengan Orang-orang mulai berdiri.

Tapi Vano masih duduk, ngelus-ngelus tasnya. "Gue bakal nemu sempak itu lagi, suatu hari nanti, " Katanya dramatis.

Neila ngangkat satu plastik dari bawah kursi. "Nih sempak lo. Tadi nyelip di bawah koper. Gak usah drama!"

Vano langsung berdiri, meluk Neila, "NEILA!! SEMPAK GUE KEMBALI!!"

"LEPAS, BANGSAT!"

RANEL FAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang