"Aku sudah disini, sekarang apa?" Arjuna menapakkan kaki telanjangnya di permukaan lantai yang tampak seperti kaca, sekitar terlihat gelap dengan hanya ada sedikit cahaya dari atas kepalanya.
Sesosok wanita dengan potongan rambut pria tengah berdiri memunggunginya.
"Kau sendirian?"
"Jadi selama ini kau tau bahwa aku dan Narajuna bukanlah satu?" Arjuna mencoba melangkah mendekat, namun entah mengapa semakin dekat dirinya dengan sosok wanita itu, terasa tubuhnya memanas, seperti terbakar dari dalam.
"Well.." Sosok yang selama ini Arjuna kenal sebagai Gabrielle perlahan memutar tubuh, tubuh wanita itu juga perlahan ikut berubah, jadi lebih tinggi juga lebih kekar. Saat akhirnya Arjuna dan Gabrielle berhadapan, bahkan wajah teduh wanita itu sepenuhnya berubah menjadi wajah pria. "Nobody's know, not even the God my dear." Sambungnya dengan seringai lebar telinga ke telinga. Gigi tapinya berubah menjadi taring runcing yang terlihat seakan bisa mengoyak seekor beruang sekalipun, sorot mata tajam dengan retina merah menyala, sepasang tanduk kambing mencuat pada kedua pelipisnya.
Tubuh kekar itu berkembang menjadi semakin besar dan semakin besar lagi, mencabik pakaian yang ia kenakan. Kedua kalinya berubah men yerupai ekor duyung, kulit manusia yang ia kenakan terkoyak, menyisakan daging kemerahan dengan pembuluh darah yang menonjol berkedut.
Entah kenapa Arjuna tidak takut sama sekali dengan sosok iblis yang ada di hadapannya sekarang ini, antara anak itu memang berani atau dirinya sudah pasrah dengan nasibnya.
"Aku atau Narajuna yang mati?" Tanya Arjuna dengan wajah datarnya, anak itu merasa takut, perasaan yang sebenarnya hantu asli tidak miliki itu sudah membuktikan bahwa Arjuna tidaklah mati seutuhnya. Hanya ingin mendapat kepastian tentang fakta siapa sebenarnya dirinya.
"Ohh dear.. Kalian semua mati tapi hanya satu yang berhenti bernafas." Ekor duyung sang iblis berubah menjadi sepasang kaki dengan sebuah kain usang melilit di pinggang, tangan kirinya ia jentikkan dan sebuah tongkat sudah berada di genggamannya. "Tapi sepertinya, sebentar lagi kalian semua akan berhenti bernafas." Lanjutnya dengan sedikit berputar, menimbulkan gesekan yang memercikkan api juga asap disekitarnya.
"Apa maksudmu kalian semua? Gab, hanya ada aku disini." Arjuna mulai bergetar, pikirannya tiba-tiba terlempar pada Narajuna dan Haidar. Kedua sosok itu pasti sedang mencarinya dan akan mengupayakan segala hal untuk mendapatkannya kembali.
Kalau hal itu benar terjadi, Arjuna pasti akan kehilangan Narajuna kembali juga kehilangan Haidar untuk selamanya.
"Come on dear.." Sang iblis terkekeh, menghentakkan tongkatnya, membuat seisi ruangan menyala merah.
Juna terkejut, tempat yang ia datangi ini ternyata bukan perbatasan antara surga dan neraka.
Tapi neraka itu sendiri.
"K-kau menipuku?" Diperhatikannya sekeliling, melihat betapa kejamnya para algojo neraka menyiksa roh-roh manusia yang Arjuna sendiri tidak tau dosa apa yang telah mereka perbuat semasa hidup, miris dan menyakitkan.
"Sosok half ghost sepertimu memang tidak sehebat pure ghost seperti kakakmu ya." Sang iblis melangkah mundur, menempatkan diri pada singgasana kebesar sambil menikmati para anak buahnya menganiaya roh-roh manusia yang mereka anggap rendahan.
Kening Arjuna mengkerut, semakin ia perhatikan sekitarnya dan mulai ngerasa ada sesuatu yang aneh. "Kau.. Bukan Lucifer 'kan?" Tanyanya ragu-ragu yang dibalas desakan tak suka dari sang iblis.
"Bagaimana kau tau?" Perkiraannya tentang Arjuna yang tidak tau apa-apa itu ternyata sedikit bisa ia pudarkan.
"Hanya ada api disini, kalian hanya membakar mereka, ini..." Kalimatnya menggantung, dengan sedikit keberanian melangkah sedikit lebih dekat ke arah sang iblis. "Gehenna."
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo (HyuckNa)
Fanfiction"Lo hantu? Sumpah? Lo cantik banget, jadi pacar gue ayo." -Haidar Abbiyu Abimanyu "Najis, jauh-jauh lo indigo!" -Arjuna Sandiana
