Antara hidup dan mati

1.7K 186 28
                                        

Ravren bergegas menyampirkan tas gendongnya pada pundak kirinya, berlari secepat mungkin menunjuk keluar rumah untuk menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di mobil Satria.

Setelah mereka mengantarkan Haidar pulang ke rumahnya tadi, Satria melajukan mobilnya ke rumah Ravren, meminta pemuda itu untuk mengemasi beberapa barang yang mereka butuhkan untuk membantu Haidar, karena letak rumah Ravren yang paling dekat dengan rumah Haidar, jadi Satria memutuskan untuk mampir dulu ke rumah Ravren.

Satria sudah merencanakannya, mereka akhirnya diam-diam mengikuti Haidar. Bagaimanapun Haidar adalah teman mereka, mereka tidak bisa membiarkan Haidar berjuang sendirian.

"Alkitab? Gue harus bawa Alkitab gak ya?" Ravren memasukkan beberapa alat persembahyangan yang biasa ia dan keluarganya gunakan. Jujur saja, Ravren bingung harus membawa apa untuk menghadapi makhluk yang tidak hidup. "Udahlah, Maven bawa Alkitab kok." Ravren melanjutkan larinya menuju pintu depan setelah menutup tas gendongnya. Ia harus cepat, Haidar sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu.

"MAMA!" Ravren menjerit kaget saat dilihatnya sosok Juna yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. "Arjuna?" Tanya pemuda itu ragu-ragu, sosok dihadapannya memang tampak seperti Arjuna, tapi penampilannya sangat jauh berbeda.

Sosok tersebut memiringkan kepalanya ke kanan, memandang remeh ke arah Ravren kemudian berdecih kecil.

Ravren tidak hanya diam, ponsel ia keluarkan untuk memotret sosok dihadapannya.

Aneh, biasanya sosok makhluk halus tidak akan nampak saat di sorot kamera, tapi pemuda dihadapannya berhasil dengan sangat jelas ia potret.

"Cih." Sosok tersebut tampak berlari cepat keluar dari halaman rumah Ravren.

"Loh hey!" Dikejarnya sosok Juna yang tengah berlari, melewati Satria yang tengah berjongkok di sebelah mobilnya.

"Anjing!" Satria yang terkejut oleh sosok itu sontak berdiri dari posisi berjongkoknya, "Anjir, maling ya?"

"Sat!" Langkah Satria saat hendak mengejar sosok itu terhenti oleh panggilan dari Ravren, "Lo liat orang tadi?" Tanya Ravren yang dibalas kerutan kening oleh Satria.

"Itu? Maling kan?" Satria menyahut, membuat Maven dan Chandra yang sejak tadi berada di dalam mobil keluar.

"Bukan Sat."

"Terus apa bang kalau bukan maling? Gue juga liat kok pas dia lari ngelewatin bang Satria tadi." Chandra menutup pelan pintu mobil agar tidak mengganggu Jian yang sedang tidur di dalam.

"Gue jelasin di jalan, kita nyusul Haidar dulu." Ravren masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Jian yang mendadak terbangun akibat Ravren yang menutup pintu cukup keras. "Sorry Ji, sorry." Gumam Ravren saat Jian menatap heran dengan wajahnya yang sedikit bengkak.

"Kenapa gak dikejar tadi?" Maven ikut kembali masuk ke dalam mobil, diikuti Chandra yang duduk di sebelah kiri Jian dan Satria yang duduk dibelakang kemudi.

"Prioritas kita sekarang Haidar sama Arjuna." Ravren mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya, mengirimkan foto pemuda tadi pada group chat mereka.

Satria yang kebetulan membuka pesan WhatsApp nya mengerutkan kening, "Lo yakin ini Arjuna?"

"Udah, kita jalan dulu." Ravren simpan kembali ponselnya ke dalam saku celana, "Haidar pasti lebih tau." Satria melajukan mobilnya, menyusul motor matic Haidar menuju dermaga di pinggiran kota.

"Dia mirip banget sama sosok yang kita liat tadi bukan?" Jian yang ikut penasaran dengan percakapan teman-temannya mengecek ponselnya, mendapati foto yang dikirim oleh Ravren lalu memperhatikannya dengan seksama.

Indigo (HyuckNa) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang