Apa itu bahagia?

2.9K 355 35
                                        

"Mau sampe kapan sih lo nempelin gue?" Haidar yang sedang mencukur jenggotnya melirik Juna yang duduk di wastafel, tepat di sebelah kirinya. Sudah seminggu sosok itu menempelnya tanpa meminta Haidar melakukan suatu hal yang mungkin bisa membantu sosok Juna untuk pergi dari dunia ini dengan tenang.

"Sampe masalah gue di dunia ini selesai." Juna menyahut dengan santai.

"Iya gue tau, tapi kapan masalah lo bakal selesai kalo sampe sekarang pun lo gak minta gue buat ngelakuin apapun." Haidar membilas pisau cukurnya, mengeringkan dengan tissue kemudian meletakkannya kembali di tempatnya semula.

"Itu masalahnya, gue gak tau masalah gue apaan sampe gue masih ada disini." Juna melayangkan tubuhnya, beterbangan dengan perlahan di dalam kamar mandi Haidar sedangkan pemuda indigo itu tengah sibuk mencuci wajahnya. Haidar tidak masalah kalau si hantu cantik ini menempelinya sampai akhir hayat, hanya saja Haidar merasa kasihan karena selama ini Juna terlihat tidak nyaman dengan kehidupan manusia. Sosok itu belum pernah terlihat tertawa, tersenyum, menangis, wajahnya selalu datar, tidak menunjukkan emosi apapun.

Haidar tidak tega melihat Juna yang terluntang-lantung tanpa tujuan yang jelas. Haidar juga malas meladeni Ravren yang terus-terusan ingin berkomunikasi dengan Juna melalui Haidar.

Hadira sebenarnya tau kalau Juna itu sosok yang kuat, bukan karena Juna yang kuat melainkan sosok yang Juna bilang sebagai kembarannya itu. Sosok mengerikan itu memiliki kekuatan yang sangat kuat bahkan melebihi sosok genderuwo penghuni pohon beringin di dekat kampus Haidar yang usianya sudah ratusan ribu tahun. Haidar menyadarinya karena setiap sosok lain ingin menunjukkan diri mereka pada Haidar, sosok Juna akan mengeluarkan gumpalan asap hitam dari kepalanya, Bahkan wajah pucat sosok cantik itu menunjukkan semburat kehitaman pada kedua pipinya, dan saat Juna melakukan hal itu para sosok yang ingin mengganggu Haidar akan bersembunyi dari tempta mereka.

Dengan kekuatan sebesar itu Haidar yakin, Juna bisa menunjukkan diri pada siapapun yang ia inginkan, bahkan Juna pasti bisa berkeliaran layaknya manusia tanpa ada yang mengetahui bahwa dirinya bukanlah manusia. Anehnya, Juna seperti tidak menyadari kekuatannya sendiri. Andai saja Juna tau sosok itu pasti sudah menampakkan diri pada teman-teman Haidar.

"Terus gimana cara gue buat bantuin lo, kalo lo sendiri gak tau masala lo itu apa Juna?" Haidar mengeringkan wajah dengan handuk kecilnya.

"Gue gak tau, kembaran gue juga gak inget apapun." Juna masih saja melayang mengelilingi kamar mandi Haidar, Juna sangat suka berlama-lama di kamar mandi Haidar, menurut Juna kamar mandi Haidar cukup lembab dan wangi, membuat dirinya nyaman.

"Sedikitpun kalian gak inget?" Haidar sudah selesai dengan urusan wajahnya, pemuda itu hendak keluar dari kamar mandi menuju ranjang tersayangnya.

Haidar merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat.

"Lo mau tidur?" Juna mengikuti Haidar, duduk diatas lemari tua Haidar sambil memperhatikan gerak-gerik yang manusia itu lakukan.

"Lo pikir? Ini udah malem Juna, gue ngantuk." Haidar merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah mengganti pakaiannya dengan piyama.

"Gimana rasanya tidur?"

"Nyaman.." Haidar menyahut dengan mata terpejam dan posisi tubuh tengkurap.

"Gimana rasanya bahagia?"

"Emang pas lo masih jadi manusia lo gak ngerasain bahagia?"

"Gak tau, gue lupa." Dengkuran halus mulai terdengar dari mulut Haidar, Juna yang tau Haidar sudah lelap mendekati tubuh Haidar, ikut merebahkan dirinya disebelah Haidar dengan posisi tengkurap. Wajahnya ia arahkan menghadap pada wajah Haidar. "Maaf, gue gak mau nyakitin lo. Tapi mereka maksa gue."

























Indigo (HyuckNa) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang