Jian sedang duduk di sebelah ranjang Haidar, saat Haidar pingsan siang tadi di rumah tua yang mereka datangi tadi, Jian dengan cepat dan sigap berlari meninggalkan Haidar sambil berteriak dengan sangat kencang.
Teriakannya memancing atensi dari Johnny, salah satu kakak tingkat Jian di kampus yang memiliki rumah di dekat rumah tua itu.
Johnny yang tau ada yang tidak beres mengejar anak itu dan menanyakan apa yang terjadi, meski Jian itu penakut dia tidak akan meninggalkan temannya dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam rumah angker itu. Jian dengan sekuat tenaga dan sambil menangis menarik Johnny untuk menolong Haidar di dalam sana.
Beruntung Haidar hanya pingsan, tidak kesurupan seperti dua hari lalu.
"Mmmm? Jian?" Haidar bangkit perlahan, dibantu oleh Jian yang menghela nafas lega saat mengetahui kala Haidar sudah sadar.
"Akhirnya lo bangun bang, udah dua jam lo pingsan." Dengan sigap Jian membantu Haidar untuk minum, segelas air sudah mama Haidar siapkan di meja samping tempat tidur.
"Maaf Ji, gue gak maksud bikin lo takut, tapi gue gak tau kalo makhluk itu nempelnya sampe masuk ke dalem badan gue." Haidar dapat melihat bagaimana sosok Juna yang tengah duduk diatas lemari memutar bola matanya.
"Lo di tempelin? Sosok itu ikut kesini dong?" Jian mendekatkan diri pada Haidar, pandangannya takut menatap sekeliling kamar Haidar. "Dia bakalan ngagetin gue gak bang?" Tanyanya masih dengan gelagat takut.
"Dia bisa, tapi dia gak mau." Haidar masih memperhatikan Juna yang duduk diatas lemari sambil mengayunkan keki jenjangnya, Juna yang diperhatikan tengah sibuk mengecek kuku-kuku pucatnya.
Haidar baru saja menyadari kalau sosok kuntilanak merah yang berada di dalam lemarinya ternyata takut pada sosok Juna. Tapi kenapa? Apa semua sosok mereka takut pada Juna?
"B-bilangin dia ya bang, jangan ngagetin gue. Nanti malah gue ikutan gabung jadi setan kayak dia." Jian berbisik pada Haidar, tubuh anak penakut itu sudah mengigil sambil memeluk lengan kiri Haidar.
"Lo denger kan?" Juna yang diajak bicara oleh Haidar hanya mengangguk, masih memperhatikan jemari lentiknya. "Udah Ji, dia gak akan ganggu lo." Jian merasa sedikit lega, nafas beratnya ia hembuskan dengan tenang. Anehnya, setelah Haidar pingsan tadi Jian merasa sedikit lebih nyaman.
Maksudnya, rasa takut berlebihan yang biasanya ia rasakan perlahan memudar, Jian tetap penakut, namun takut yang masih batas wajar.
Biasanya dia tidak mau ditinggal sendirian di kamar Haidar karena sosok kuntilanak merah yang menghuni lemari Haidar, tapi hari ini Jian tidak merasakan ketakutan itu sedikitpun.
"Lo nemenin gue dari tadi? Lo gak takut?" Jian menggaruk belakang kepala saat Haidar bertanya padanya.
"Gue juga gak ngerti bang, biasanya kan gue anti banget diem di sini lama-lama. Cuma gak tau kenapa pas pembantu bilang mau nemenin lo disini malah gue tolak. Pembantu lo kan tau gue gak pernah mau diem di kamar lo ini, tapi kenapa ya? Rasa takutnya udah gak separah biasanya." Haidar kembali menatap Juna yang sekarang sudah melayang di depan lemarinya. Mungkin karena keberadaan Juna?
Sekuat itu kah pengaruh dari sosok Juna?
"Ihhh ada peliharaan kakek lo ya disini?" Juna mengangkat kerah gaun kuntilanak merah penghuni lemari Haidar seperti tengah mengangkat seekor kucing. "Mbak kunti, bocah itu udah jadi punya saya ya, kalau mbak mau cari tuan pengganti biar gak terkurung di dalem lemari ini cari aja orang yang dulu ngirim mbak buat nemenin kakeknya tu bocah. Nanti pasti di bantu nyari tuan yang lain, ya mbak ya." Sosok Kuntilanak merah itu tampak tidak terima dengan perlakuan Juna terhadap dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo (HyuckNa)
Fiksi Penggemar"Lo hantu? Sumpah? Lo cantik banget, jadi pacar gue ayo." -Haidar Abbiyu Abimanyu "Najis, jauh-jauh lo indigo!" -Arjuna Sandiana
