The Sandiana

2.7K 257 36
                                        

"Yah, gimana keadaan Arjuna? Anak aku masih belum sadar?" Winanti-bunda dari Arjuna, mendekati sang ayah yang terlihat tengah duduk disebelah ranjang rumah sakit dimana Arjuna tengah berbaring dengan alat bantu pernafasan yang menutup hidung juga mulutnya.

Simon Wiratmaja, kepala keluarga Wiratmaja yang tahun ini sudah menginjak usia 55 tahun mengusap wajah lelahnya, sudah hampir dua tahun sang cucu terbaring koma diatas ranjang rumah sakit, berjuang antara hidup dan mati.

"Kamu gimana sih? Ayah udah gak restuin hubungan kamu sama Yuntara sejak awal, liat kan sekarang? Cucu ayah jadi-"

"Yah udah, Wina juga gak mau ini kejadian." Yuna sang istri berusaha menenangkan suaminya. Wanita cantik itu beralih pada anak semata wayangnya yang tengah berdiri memandang sedih kearah sang cucu yang masih terbaring lemah diatas ranjang. "Kamu pulang dulu yah, pasti cape jagain Juna dari kemarin, biar bunda sama Winanti yang jagain dek Juna disini." Simon tidak bisa berkata apa selain menurut, dia tau cucunya seperti ini bukanlah salah dan kehendak dari sang anak.

Keluarga Wiratmaja dan keluarga Sandiana memang sudah berseteru sejak lama, karena kedua induk perusahaan yang mereka dirikan selalu bersaing berebut investor.

Siapa sangka putri semata wayang dari keluarga Wiratmaja malah menikah dengan putra kedua dari keluarga Sandiana?

Tidak heran kalau Simon Wiratmaja dan Yuno Sandiana sebagai kepala dari masing-masing keluarga tidak pernah akur, berbeda dengan Yuna dan Suzy yang berstatus sebagai istri dari Simon dan Yuno yang selalu akur. Tentu saja mereka akur, Yuna sendiri merupakan saudari kembar Yuno.

Yuno dan Simon bertikai hanya karena berebut client.

Tapi dampaknya sangat buruk bagi cucu mereka.

Adik kandung Yuntara yang tau bahwa ayahnya tidak menyukai keluarga Wiratmaja malah diam-diam selalu memberikan racun arsenik pada gelas susu cokelat milik Arjuna, dosis yang diberikan memang sedikit namun Arjuna mengkonsumsinya secara rutin yang mengakibatkan organ dalam Arjuna perlahan melemah dan nyaris mati.

Beruntung saat Arjuna melemah sang paman-Joni Sandiana, mencurigai kondisi fisik sang keponakan yang janggal Joni segera memeriksa kondisi keponakannya sendiri.

Joni yang adalah seorang dokter tentu saja lebih peka ketimbang ayah kandung Arjuna yang seorang arsitek.

"Maaf bun, aku gak tau kalau hubungan ayah sama papa mertua aku malah bikin Jennie salah paham dan malah berniat buat nyelakain Juna." Winanti mendudukkan diri diranjang Juna, menelisik tubuh sang anak yang terlihat semakin kurus dari sebelumnya.

"Kita gak bisa ngerubah keadaan, semua udah kejadian." Yuna menepuk pundak kiri Wina pelan, "Jennie juga udah dihukum sama papanya, berharap aja semoga dengan tinggal di desa anak itu bisa merenung dan ngerti salahnya dimana." Wina menghela nafas mendengar perkataan sang bunda. Jika ditanya bagaimana perasaan Wina setelah tau bahwa anaknya hampir meninggal karena iparnya sendiri, Wina akan berkata bahwa dirinya sangat marah, merasa sangat kecewa pada ipar yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri malah ingin mencelakai keponakannya.

Pada kenyataannya ayah mereka berseteru hanya pada hal pekerjaan, mereka tidak benar-benar berselisih paham pada kehidupan sehari-hari. Hanya karena gengsi keduanya jadi jarang terlihat berinteraksi satu sama lain.

"Aku cuma pengen anak aku sadar bun, aku udah kehilangan Narajuna, aku gak mau kehilangan Arjuna bun, gak mau." Wina menggenggam tangan dingin Arjuna, meremas lembut jemari lentik sang anak kemudian memgecupinya pelan.

"Win, jangan ngomong gitu di deket Arjuna, bisa jadi Juna denger semua yang kita omongin sekarang." Yuna mengusap lembut rambut cokelat ke-emasan milik sang cucu, "Kita gak tau Arjuna bisa denger kita atau gak. Setiap kalimat yang kita ucapin tu harus kita pikirin dulu." Ruangan mendadak hening, baik Yuna dan Wina tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Indigo (HyuckNa) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang