Ravren dengan gelisah duduk di sofa ruang tamunya, jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh tiga menit. Biasanya ayah Ravren sudah pulang kerja sejak tiga belas menit yang lalu.
Ravren memang hanya tinggal dengan sang ayah sejak kecil, ibunya sudah meninggal sejak Ravren berusia tiga tahun karena kanker otak yang di deritanya dan karena alasan itulah ayah Ravren memutuskan untuk pindah dari rumah mereka yang lama dan membeli rumah yang mereka tempati sekarang dari keluarga sebelumnya, yang menjual murah rumah tersebut untuk pindah ke pinggir kota.
Ravren tidak tau jelas siapa keluarga tersebut, tentu saja, yang sejak awal berhubungan langsung dengan keluarga itu 'kan ayahnya. Ravren saat itu masih terlalu kecil, yang Ravren tau sampai saat ini adalah fakta bahwa keluarga tersebut baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.
Salah satu anak kembar yang baru saja dilahirkan meninggal saat sedang di lahirkan, katanya karena keracunan air ketuban dari sang ibu.
Menurut Ravren itu aneh, mereka bilang anak kembar, tapi butuh waktu berapa lama pihak rumah sakit untuk mengeluarkan satu anak lagi sampai semuanya jadi terlalu terlambat hingga sang bayi akhirnya harus menelan air ketuban ibunya sendiri?
"Astaga!" Ayah Ravren yang baru saja memasuki ruang tamu terkejut karena saat dirinya menyalakan lampu ruang tamu, dirinya malah mendapati sang anak yang tengah duduk di dalam kegelapan. "Heh! Kamu ngapain gelap-gelapan gitu? Bikin kaget papa aja." Ravren memandangi sang ayah dengan tatapan penuh tanya, tak ada sedikitpun penyesalan karena sudah membuat sang ayah terkejut.
"Rav, kamu bikin papa takut." Lucas, ayah Ravren- mendekati sang anak, mengambil posisi duduk disebelah kanan anak semata wayangnya kemudian menyentuh pundak sang anak. "Kamu berantem sama temen-temen kamu? Karena itu kamu gak ikut nginep di rumahnya si Chandra sama yang lain?" Sejak awal mereka memang sudah kompak berbohong pada orang tua mereka kalau malam ini akan menginap di rumah Chandra, kebetulan orang tua Chandra sedang ada urusan di China, mengunjungi kakek dan nenek Chandra disana.
"Pah, papah masih inget keluarga yang tinggal disini sebelum kita?" Meski bingung Lucas mengangguki pertanyaan Ravren. "Masih kontakan sampai sekarang pah?" Sekali lagi, Lucas mengangguk.
"Kenapa? Tumben banget kamu nanya-nanya. Biasanya gak perduli." Baru pertama kalinya Lucas melihat sang anak sepenasaran ini dengan kehidupan orang lain selain keluarga mereka.
"Papah masih punya kontak salah satu anggota keluarganya? A-atau papah tau mereka tinggal dimana sekarang?" Lucas menepuk pundak sang anak yang tampak gelisah, duda beranak satu itu yakin sesuatu pasti sedang terjadi pada sang anak atau teman-temannya.
"Papa gak tau kamu ada masalah apa, tapi papa bisa anter kamu buat ketemu sama keluarga yang dulu tinggal disini." Ravren dengan mata berbinar mengangguki perkataan sang papa, "Karena ini udah larut, kamu istirahat aja dulu, besok papa anterin kamu buat ketemu mereka ya." Sekali lagi Ravren mengangguk.
Tanpa menyahuti perkataan sang papa pemuda itu melangkah memasuki kamarnya.
Lucas menghela nafasnya, tatapannya masih termangu pada pintu kamar Ravren yang sudah tertutup rapat. Diambilnya ponsel pintar dari saku jasnya, mengetik sesuatu pada layar ponsel kemudian memasukkan kembali ke dalam saku jasnya.
Lucas yang merasa lelah memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih lalu ikut istirahat di kamarnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.