Haruto menatap kosong layar ponselnya. Ribuan komentar terus bermunculan, membanjiri setiap unggahannya. Bukan pujian atau dukungan yang dia temukan, melainkan cacian, hinaan, bahkan ancaman. Jari-jarinya gemetar, mencoba men-scroll melewati lautan kata-kata menyakitkan itu, tapi rasanya seperti terseret semakin dalam ke dalam jurang keputusasaan.
"Kenapa... kenapa mereka begitu membenciku?" bisiknya lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Sudah berbulan-bulan ini Haruto merasa seperti hidup di neraka. Sejak skandal kecil yang melibatkan kesalahpahaman di sebuah acara televisi, gelombang komentar kebencian terus menghantamnya tanpa ampun. Awalnya, dia mencoba tegar, berusaha tidak menghiraukan. Tapi semakin hari, kata-kata itu terasa semakin tajam, menusuk langsung ke jantungnya.
Di tengah keterpurukannya, Jaehyuk selalu ada di sisinya. Kekasihnya itu adalah satu-satunya alasan Haruto masih bisa bernapas. Jaehyuk yang hangat, penyayang, dan selalu berusaha membuatnya tersenyum. Tapi Haruto tahu, beban yang dia rasakan juga ikut membebani Jaehyuk.
Malam itu, Haruto duduk termenung di balkon apartemen mereka. Angin malam Seoul yang dingin menusuk kulitnya, tapi tidak sebanding dengan dingin yang merayapi hatinya. Jaehyuk menghampirinya, membawa selimut tebal dan secangkir cokelat hangat.
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Jaehyuk lembut, menyelimuti bahu Haruto.
Haruto menggeleng tanpa menatap Jaehyuk. "Aku nggak bisa tidur."
Jaehyuk duduk di samping Haruto, merangkulnya erat. "Ada apa? Cerita sama aku."
Haruto terdiam sejenak, menahan air matanya yang ingin tumpah. "Aku... aku capek, Jae. Capek banget."
"Capek kenapa?"
"Mereka... mereka terus bilang hal-hal buruk tentang aku. Aku nggak ngerti kenapa mereka begitu jahat. Apa salahku sampai mereka begitu membenciku?" suara Haruto bergetar.
Jaehyuk mengecup kening Haruto. "Jangan dengerin mereka, sayang. Mereka nggak tahu apa-apa tentang kamu. Kamu orang baik, kamu berbakat, dan aku sayang banget sama kamu."
"Tapi kata-kata mereka... rasanya nyata banget, Jae. Kayak ada sebagian dari diriku yang percaya sama apa yang mereka bilang," lirih Haruto.
"Hei, lihat aku," Jaehyuk memegang kedua pipi Haruto, menatap matanya dengan penuh kasih. "Kamu itu Haruto-ku. Haruto yang kuat, yang selalu bikin aku kagum. Jangan biarkan kata-kata sampah itu meracuni pikiran kamu. Aku di sini, semua member juga sayang sama kamu. Kita akan hadapi ini sama-sama."
Haruto berusaha tersenyum, tapi air matanya tetap menetes. "Aku takut, Jae. Aku takut kalau aku nggak kuat."
"Kamu kuat, sayang. Kamu jauh lebih kuat dari yang kamu kira. Aku percaya sama kamu." Jaehyuk memeluk Haruto erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatannya.
Keesokan harinya, suasana di dorm TREASURE terasa suram. Semua member tahu apa yang sedang dialami Haruto. Mereka berusaha memberikan dukungan sebisa mungkin. Junkyu, sebagai leader, sering mengajak Haruto bicara, mencoba memberikan perspektif yang lebih positif. Yoshi dan Junkyu selalu berusaha menghibur Haruto dengan tingkah konyol mereka. Member lain juga tak kalah perhatian, selalu memastikan Haruto tidak merasa sendirian.
"Haruto, kamu udah makan?" tanya Hyunsuk lembut saat melihat Haruto keluar dari kamar dengan wajah lesu.
Haruto menggeleng pelan. "Nggak nafsu, Hyunsuk hyung."
"Sedikit aja ya? Kamu harus jaga kesehatan," bujuk Jihoon.
"Iya, Ruto. Kita makan bareng ya," timpal Junkyu sambil merangkul bahu Haruto.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haruto centric
Short Storykumpulan oneshoot haruto bersama para seme. yang homophobic harap skip! janlup vote & komen
