crush

144 12 1
                                        

"Duh, Jeongwoo ganteng banget sih hari ini," gumam Haruto sambil nyomot gorengan di kantin Gemas. Matanya nggak bisa lepas dari sosok Jeongwoo yang lagi ketawa-ketawa bareng Jihoon, Jaehyuk, Doyoung, sama Junghwan di meja pojok.

"Ganteng sih ganteng, tapi ya gitu deh, tembok beton," sahut Hyunsuk yang duduk di sebelahnya sambil nyeruput es teh. Yoshi, Junkyu, sama Asahi ngangguk-ngangguk setuju. Mereka udah khatam banget sama Haruto yang nge-crush abis-abisan sama Jeongwoo, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan kayak nyanyi di kamar mandi.

"Ish, Hyunsuk mah gitu! Tapi emang sih, dia tuh kayak nggak sadar gitu loh ada gue di sini," keluh Haruto sambil manyun. Padahal ya, Haruto udah berbagai cara dilakuin biar Jeongwoo notice keberadaannya. Mulai dari pura-pura nggak sengaja nabrak di koridor (ujung-ujungnya Haruto yang nyungsep), nitip salam lewat Jihoon (yang dibalas cuma 'Oh'), sampai sok-sokan ikut ekskul basket biar bisa deket Jeongwoo (padahal Haruto megang bola aja kayak megang bom).

"Ya namanya juga Jeongwoo. Otaknya isinya basket sama tidur kayaknya," timpal Junkyu sambil ketawa kecil. Asahi yang biasanya diem aja tiba-tiba nyeletuk, "Mungkin dia butuh kode yang lebih keras, To."

"Kode apaan lagi, Sa? Gue udah kayak ngasih rambu lalu lintas komplek nih kayaknya," balas Haruto frustrasi.

Tiba-tiba, ide cemerlang muncul di kepala Yoshi. "Gimana kalau lo bikin surat cinta aja? Yang alay-alay gitu, biar dia ngeh kalau ada yang naksir."

"Surat cinta? Kayak zaman purba aja lo, Shi," kata Haruto. Tapi abis dipikir-pikir, boleh juga idenya. Siapa tahu dengan surat cinta, Jeongwoo jadi penasaran dan akhirnya nyariin Haruto.

Malam harinya, di kamar yang dindingnya penuh poster band indie kesukaan, Haruto mulai berkutat dengan kertas HVS pink dan pulpen warna-warni. Otaknya langsung nge-blank. Mau nulis apa coba? Masa langsung bilang 'Hai Jeongwoo, aku suka kamu banget'? Kayaknya terlalu to the point.

Setelah mikir keras sambil dengerin lagu galau, akhirnya Haruto berhasil merangkai kata-kata alay tapi jujur. Dia tulis semua kekagumannya sama Jeongwoo, mulai dari senyumnya yang bikin meleleh, sampai cara dia nge-dribble bola basket yang katanya keren banget (padahal Haruto nggak ngerti-ngerti amat soal basket). Nggak lupa, dia semprotin parfum kesayangannya biar ada kesan-kesan romantis gitu.

Besoknya, dengan jantung deg-degan kayak mau ujian, Haruto nyelipin surat cintanya di loker Jeongwoo. Dia ngumpet di balik tiang koridor sambil merhatiin loker Jeongwoo dari jauh. Nggak lama, Jeongwoo dateng, buka lokernya, dan nemuin surat pink itu. Ekspresinya datar banget kayak jalan tol Cipali. Dibacanya sekilas, terus... dibuang ke tempat sampah!

"HAH?!" Haruto langsung lemes kayak kerupuk kena air. Usaha kerasnya cuma berakhir jadi sampah? Sakit banget.

Teman-temannya yang dari tadi ikut ngintip langsung nyamperin Haruto yang udah mau nangis bombay. "Sabar ya, To. Emang gitu deh si Jeongwoo," hibur Junkyu sambil nepuk-nepuk pundak Haruto.

"Tapi kan ya... masa dibuang gitu aja? Nggak ada penasaran-penasarannya sama sekali?" lirih Haruto.

"Mungkin dia nggak ngeh itu dari lo," celetuk Asahi polos.

"Ya kali nggak ngeh! Ini kertas pink norak gini, parfum gue juga nyengat banget!" balas Haruto sewot.

Beberapa hari berlalu, Haruto berusaha buat move on, meskipun susah banget. Tiap lihat Jeongwoo, hatinya langsung nyut-nyutan nggak karuan. Tapi dia berusaha buat nggak terlalu berharap lagi. Toh, Jeongwoo emang kayaknya nggak tertarik sama sekali.

Suatu siang, Haruto lagi ngumpul di kantin sama teman-temannya. Tiba-tiba, Jihoon dateng nyamperin mereka. "To, dicariin Jeongwoo tuh di lapangan basket."

Haruto centric Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang