Haruto berdiri gugup di belakang panggung acara kolaborasi YG dan SM Entertainment. Ini adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuannya. Matanya tanpa sengaja bertemu dengan sepasang mata tajam yang menatapnya dari sisi lain panggung. Lee Jeno. Sunbae yang namanya sudah melegenda di kalangan trainee. Jantung Haruto berdebar tak karuan, bukan karena gugup tampil, tapi karena intensitas tatapan Jeno.
Setelah penampilan mereka selesai, Jeno tiba-tiba menghampirinya di ruang tunggu. "Penampilanmu keren," katanya dengan senyum yang membuat lesung pipinya terlihat menawan.
Haruto yang biasanya irit bicara hanya mengangguk singkat. "Terima kasih, sunbaenim."
Jeno terkekeh pelan. "Santai saja. Panggil Jeno hyung." Dia mengulurkan tangan. "Senang bertemu denganmu, Haruto."
Sentuhan tangan Jeno terasa hangat dan berbeda dari yang Haruto bayangkan. Ada aliran listrik kecil yang membuatnya sedikit terkejut. Sejak saat itu, interaksi mereka mulai sering terjadi, baik secara formal dalam acara agensi maupun secara kebetulan di ruang latihan. Jeno selalu berusaha mendekati Haruto, mengajaknya bicara, bahkan sesekali menyelipkan camilan di tas Haruto.
Haruto merasa risih dengan perhatian Jeno yang berlebihan. Baginya, prioritas utamanya adalah debut. Cinta dan hubungan romantis adalah distraksi yang harus dihindari. Ia berusaha menjaga jarak, menjawab pertanyaan Jeno seperlunya, dan menghabiskan waktunya di ruang latihan.
Namun, Jeno tidak menyerah. Ia selalu menemukan cara untuk mendekati Haruto. Suatu malam, Haruto lembur di ruang latihan vokal. Tiba-tiba pintu terbuka dan Jeno masuk, membawa dua kaleng minuman dingin.
"Belum selesai?" tanya Jeno lembut. "Istirahatlah sebentar."
Haruto menerima minuman itu dengan enggan. Mereka duduk bersebelahan dalam diam. Jeno kemudian mulai bercerita tentang masa-masa trainee-nya, tentang tekanan dan keraguan yang pernah ia alami. Haruto tanpa sadar mulai mendengarkan dengan saksama. Ia melihat sisi lain dari Jeno yang selama ini hanya ia lihat sebagai sunbae populer.
"Mimpi itu penting," kata Jeno menatap lurus ke depan. "Tapi jangan lupakan hal lain yang juga bisa membuatmu bahagia di sepanjang perjalanan meraih mimpi itu." Tatapannya kemudian beralih pada Haruto.
Seiring berjalannya waktu, pertahanan Haruto mulai runtuh. Perhatian tulus Jeno, senyumnya yang menenangkan, dan kehadirannya yang selalu terasa hangat, perlahan meluluhkan hatinya yang dingin. Ia mulai menantikan sapaan Jeno, diam-diam memperhatikan setiap gerak-geriknya, dan merasa ada kekosongan saat Jeno tidak ada di dekatnya.
Suatu sore, setelah latihan yang melelahkan, Jeno mengajak Haruto ke atap gedung agensi. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Jeno menatap Haruto dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Haruto," panggilnya pelan. "Aku... aku menyukaimu."
Pengakuan itu membuat jantung Haruto berpacu lebih kencang dari biasanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Perasaannya pada Jeno masih bercampur aduk antara kekaguman dan kebingungan.
"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat," lanjut Jeno dengan senyum tipis. "Tapi aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tahu prioritasmu adalah debut, dan aku menghargai itu. Tapi... bisakah aku menjadi salah satu prioritasmu juga?"
Haruto akhirnya debut bersama TREASURE. Kesibukannya semakin padat. Jadwal shooting, rekaman, dan promosi menyita hampir seluruh waktunya. Ia jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Jeno. Komunikasi mereka pun terbatas pada pesan singkat di tengah malam.
Jeno yang juga sibuk dengan kegiatan NCT, berusaha untuk tetap terhubung dengan Haruto. Ia sering mengirimkan dukungan dan semangat, bahkan menyempatkan diri datang ke acara musik TREASURE meskipun hanya sebentar.
Namun, jarak dan kesibukan mulai menimbulkan keraguan di hati Haruto. Apakah ia bisa menjalin hubungan dengan baik di tengah kehidupannya yang seperti ini? Apakah perasaannya pada Jeno cukup kuat untuk mengatasi segala rintangan?
Suatu malam, setelah konser TREASURE yang sukses, Haruto menerima pesan dari Jeno: "Aku menunggumu di tempat biasa."
Tempat biasa mereka adalah atap gedung SM Entertainment, tempat mereka pertama kali berbagi cerita. Haruto segera pergi ke sana. Ia menemukan Jeno sedang menatap langit malam.
"Kau hebat malam ini," kata Jeno tanpa menoleh.
Haruto berdiri di sampingnya. "Terima kasih, hyung." Ada keheningan sejenak di antara mereka.
"Aku tahu ini tidak mudah," lanjut Jeno akhirnya. "Kau punya mimpi besar, dan aku tidak ingin menjadi penghalangmu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura tidak merasakan apa pun padamu."
Haruto menatap Jeno. Ia melihat ketulusan dan keraguan di mata hyung-nya itu. Tiba-tiba, semua keraguan di hatinya menghilang. Ia tahu apa yang menjadi prioritasnya saat ini.
Haruto meraih tangan Jeno. "Mimpi itu penting, *hyung*. Tapi tanpa seseorang yang spesial untuk berbagi kebahagiaan, rasanya akan hampa." Ia menatap mata Jeno dengan keyakinan. "Kau adalah prioritasku, *hyung*. Salah satu yang terpenting."
Jeno terkejut, lalu tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat jelas. Ia menggenggam erat tangan Haruto. "Kau yakin?"
Haruto mengangguk mantap. "Aku yakin. Kita bisa menjalani ini bersama. Kita akan saling mendukung mimpi masing-masing, dan kita akan menjadikan satu sama lain sebagai prioritas di tengah kesibukan kita."
Sejak saat itu, Haruto dan Jeno mulai menjalani hubungan mereka dengan hati-hati namun penuh kasih sayang. Mereka saling memahami kesibukan masing-masing, memanfaatkan setiap kesempatan untuk bertemu, dan selalu memberikan dukungan satu sama lain. Meskipun tidak mudah, cinta mereka menjadi kekuatan yang membuat mereka semakin dewasa dan tegar dalam menghadapi kerasnya industri hiburan.
Beberapa tahun kemudian, TREASURE dan NCT menjadi grup yang semakin sukses. Haruto dan Jeno juga semakin matang dalam karir mereka. Meskipun jadwal mereka tetap padat, mereka selalu berusaha untuk menjaga komunikasi dan menyempatkan waktu untuk bersama.
Di sebuah acara penghargaan musik, setelah TREASURE menerima penghargaan bergengsi, Haruto melihat Jeno tersenyum bangga dari kejauhan. Setelah acara selesai, Jeno menghampirinya di belakang panggung.
"Aku bangga padamu," bisik Jeno sambil mengusap pipi Haruto lembut.
Haruto tersenyum bahagia. "Terima kasih, hyung. Tanpa dukunganmu, aku tidak akan bisa sejauh ini."
Jeno menggenggam tangan Haruto. "Kita akan terus saling mendukung, Haruto. Mimpi dan cinta bisa berjalan beriringan, asalkan kita tahu apa yang menjadi prioritas kita."
Mereka berdua saling menatap, menyadari betapa jauh mereka telah melangkah bersama. Di tengah gemerlap dunia hiburan yang penuh persaingan, cinta mereka telah menjadi jangkar yang kuat. Prioritas mereka bukan hanya mimpi masing-masing, tapi juga kebahagiaan satu sama lain. Dan mereka tahu, dengan saling memiliki, mereka bisa menaklukkan apa pun. Cinta mereka adalah prioritas yang akan selalu mereka jaga.
TBC
Spesial double up karna udh lama nggak up, semoga kalian suka ya sama ceritanya kalau ada typo mohon di koreksi.
Janlup votmen
See you.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haruto centric
Cerita Pendekkumpulan oneshoot haruto bersama para seme. yang homophobic harap skip! janlup vote & komen
