Tengah malam, sampai di pulau Jeju. Dengan sisa sisa kewarasan yang Luna miliki, perempuan itu keluar dari mobil dengan tampilan yang bisa dibilang sudah tidak baik.
Wajah yang pucat, rambut yang diikat asal dengan cardigan rajut berwarna biru serta rok putih panjang, ia segera beralih untuk menurunkan koper di bagasi mobil.
Menempuh perjalanan berjam-jam sebenarnya bukan yang pertama kalinya untuk Luna, hanya saja yang membuatnya tidak bisa bernapas tenang selama di mobil adalah karena Jake menyetir sendiri, hanya ia dan Jake didalam mobil itu selama berjam-jam. Membuatnya engap, dan merasa was-was terus menerus.
Jake yang entah mengapa tetap terlihat segar, tak terlihat kelelahan sama sekali setelah menyetir selama berjam-jam tanpa ada yang menggantikan itu hanya melipat tangannya didepan dada sembari memandangi gadis itu yang terlihat kesusahan mengambil koper.
Luna berdehem kecil merasa di perhatikan oleh tuan muda itu, berharap sang lelaki berperawakan tegap dan gagah yang tentu lebih besar darinya itu mau membantunya menurunkan barang barang walau hanya sedikit.
Jake menyunggingkan senyum tipis, memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel, ia berbalik. "Cepat, saya mau istirahat."
Berjalan melenggang meninggalkan Luna yang menatapnya kesal.
"Nggak papa Luna, nggak papa.." Luna menarik napas panjang kemudian mengikuti tuannya sembari menyeret koper serta menenteng dua tas.
Sebuah penginapan yang terbilang cukup sederhana, dengan dikelilingi lampu yang memberi kesan menenangkan, disana dua orang berdiri didepan pintu, seorang perempuan dan laki laki yang sepertinya seusia bibi Han.
"Selamat datang tuan Jake, terima kasih karena memilih penginapan kami untuk anda tinggali selama di pulau Jeju"
Seorang laki-laki itu menyambut hangat kedatangan Jake, terpaut wajah senang begitu melihat tuan muda ini yang di rumorkan sangat baik di kalangan keluarga Shim.
"Terima kasih paman Jung, saya yang senang anda mau mengosongkan tempat ini untuk saya selama beberapa hari."
"Tentu saja tuan, anda merupakan tamu special kami, tentu kami tidak keberatan sama sekali." Wanita yang terlihat seusia bibi Han itu menoleh ke arah Luna.
"Apa ini asisten pribadi anda?"
Luna mengulas senyum, membungkuk untuk menyapa.
"Ya." Jake menyahut lebih dulu sebelum Luna membuka suara. "Hanya dia yang akan membantu semua keperluan saya disini."
Luna sontak menoleh. Tunggu, hanya dia? Hanya dirinya? Dan Jake di rumah ini? Selama beberapa hari?
"Ah, baiklah.." Wanita itu mengangguk, terkekeh canggung. "Anda juga bisa meminta bantuan kami tuan jika memerlukan sesuatu."
"Terima kasih bibi Jung."
Keduanya kemudian mempersilahkan Jake masuk. Penginapan ini sudah menjadi langganan oma, dan Jake tak ragu untuk memilih penginapan sederhana ini. Tempat yang nyaman dan damai dekat dengan laut.
Luna membawa koper dan barang barang tuan-nya memasuki kamar. Jika dibandingkan dengan kamar Jake memang terlihat berbeda karena kamar ini terbilang sederhana.
"Taroh saja disitu. Kamarmu di sebelah, jangan berani beraninya masuk kamar saya tanpa seijin saya." Pria itu membuka mantel, menaruhnya pada gantungan di belakang pintu.
Luna menaruh koper milik tuan muda di samping lemari. Ia mengangguk kecil, kemudian melangkah untuk meninggalkan ruangan namun Jake malah lebih dulu menutup pintu, menghadang Luna yang membuat gadis itu terjingkat kaget karena suara pintu yang tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lily of the Valley
FanfictionCinta dan obsesi. Keduanya terdapat perbedaan yang sangat besar, antara melindungi dan menghancurkan. Terlihat indah namun memiliki racun mematikan. Minor don't interact.🔞
