Part 8

347 44 29
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Keduanya pun akhirnya kembali ke rumah, hujan tiba-tiba saja datang saat perjalanan pulang. Petir menyambar bersahutan membuat River sedikit terguncang. Adel yang melihat gelagat aneh pelayannya itu pun segera mengusap pundak River.

"Nona-"

"It's okay." Adel tersenyum lembut, senyum penuh ketulusan yang bahkan tak pernah ia perlihatkan sedikit pun pada River dulu.

"Saya baik-baik saja nona. Cuma agak terkejut mendengar suara petir itu." Ungkap River tak enak hati. Ia merasa lemah sekali akhir-akhir ini, dan ia malah sering sekali menunjukkannya pada Adelina.

"Nggak apa-apa ada aku. Jangan mikir macam-macam. Sebentar lagi kita sampai." Adel berusaha membuat River tetap nyaman memperlihatkan kelemahannya. Ia malah tak suka melihat River sok kuat dan menahan seluruh rasa sakitnya sendirian.

"Iya nona."

Tak lama keduanya pun telah sampai di rumah. River segera turun dari mobil dan mengambil payung untuk Adel. Karena hujan yang cukup lebat membuat River cepat sekali basah kuyup.

"Rooney! River, mana Rooney? Panggil dia! Jangan kamu yang basah nanti kamu sakit. Kamu masih lemah." Adel berteriak-teriak memanggil Rooney. "Pak Hendra mana lagi? Kenapa diluar nggak ada orang sih?"

Beberapa saat kemudian Rooney pun keluar dengan membawa payung dan ia segera memayungi River.

"Maafkan saya nona." Ungkap Rooney merasa bersalah.

"Ayo sayang langsung mandi air hangat nanti kamu bisa sakit."

"Tapi non-" River seperti anak anjing yang hanya bisa menurut ketika Adel menarik tangannya.

"Diam River! Jangan banyak omong!" Sahut Adel.

Melihat interaksi Adel dan River benar-benar membuat Rooney merasa heran. Dulu Adel memperlakukan River seperti binatang, bahkan sangat enggan menyentuh kulitnya. Tapi sekarang Adel bahkan tak segan untuk memegang tangan River.

Ia merasa bahwa seluruh perubahan yang Adel berikan adalah sebuah kejanggalan. Meskipun Rooney merasa lega akan perubahan sikap itu, tapi tetap saja ia merasa curiga.

Adel pun segera membawa River masuk ke dalam kamar mewah pria itu. Kamar yang kini mewah dan banyak furniture nya bahkan Adelina menyediakan PS5, beda dengan dulu kamarnya saja sangat kecil seperti kamar pembantu yang lain.

"Kamu mandi dulu dan ganti baju, aku juga mau bersih-bersih setelah itu aku buatin kamu teh ya!" Ungkap Adel sambil mengusap pipi River yang memerah.

"Baik nona." Angguk River patuh.

Setelah Adel pergi ke kamarnya River pun melangkah masuk ke dalam kamar yang kini begitu mewah dan besar, ini masih terasa seperti mimpi.

"Nona benar-benar sudah merubah semuanya." Ia mengusap dinding yang kini dihiasi karpet mahal.
"Dulu kamarku sempit dan gelap, sekarang begini." Ia melihat PS5 yang disiapkan di sudut kamar. "Tapi Nona seharusnya tidak perlu repot-repot begini. Saya tidak pantas menerima semua ini." Pria tampan itu duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong, merenungkan perubahan yang terjadi.

Main Butler Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang