Chapter 15

60 8 0
                                        

Suasana tenang dan hangat menyelimuti kamar Kyungsoo yang kini ditempati Baekhyun.

Kamar itu bersih, tertata rapi dengan estetika minimalis—dinding berwarna taupe yang menenangkan, selimut rajut tebal di atas tempat tidur, dan rak buku penuh yang mengisi salah satu sudut. Kamar itu tidak mewah, tetapi luas dan nyaman.

Baekhyun duduk meringkuk di atas sofa kecil, masih mengenakan  piyama sutra dari rumah sakit. Matanya masih bengkak, tetapi ia sudah berhenti menangis.

Setelah sesi tangisan panjang, Baekhyun akhirnya berhasil menenangkan diri dan menceritakan semuanya kepada Kyungsoo. Dari tembakan semalam, ketakutan saat Sehun tertembak, kesadaran cintanya, hingga puncak kesedihan saat ia menyaksikan pelukan Sehun dan Yoona di rumah sakit.

Kyungsoo mendengarkan dengan sabar, hatinya teriris melihat sahabatnya melalui begitu banyak kejadian dalam waktu 24 jam.

"Astaga, Baekhyun-ah..." Kyungsoo menghela napas, duduk di karpet di hadapan Baekhyun. "Itu pasti sangat menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan perasaanmu saat melihat pemandangan itu, apalagi setelah semua yang kau lalui semalam."

Baekhyun menggigit bibir. "Aku tahu itu terdengar bodoh. Aku baru menyadari betapa aku mencintainya saat aku hampir kehilangannya. Tapi kemudian, melihat Yoona... rasanya seperti... sejarah mengulang dirinya sendiri, dan aku kembali menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa."

Kyungsoo menggeleng pelan, meraih tangan Baekhyun. "Dengar, kau sama sekali tidak bodoh. Reaksimu sangat manusiawi. Kau baru saja selamat dari serangan mematikan, kau pingsan, dan kemudian kau melihat pria yang kau cintai dalam pelukan wanita yang pernah menjadi saingan terbesarmu. Tentu saja hatimu hancur."

Kyungsoo menatap Baekhyun dengan mata tulusnya. "Namun, jangan buat kesimpulan terburu-buru. Sehun mempertaruhkan nyawanya untukmu, Baekhyun-ah. Jangan biarkan satu momen mengaburkan pengorbanan dan perasaannya. Tenang dulu. Saat ini, yang penting kau aman dan pulih."

Ia berdiri. "Aku akan menyiapkan teh herbal dan beberapa kue beras. Aku juga sudah menyiapkan beberapa pakaian ganti yang lebih nyaman untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu memakai pakaian rumah sakit itu lagi," ujar Kyungsoo, nadanya kembali riang untuk meredakan suasana.

"Terima kasih, Kyungsoo-ya. Aku... aku beruntung memilikimu," bisik Baekhyun.

"Aku yang beruntung memilikimu, Putri Mahkota," balas Kyungsoo sambil tersenyum tulus, lalu melangkah keluar untuk memberikan waktu bagi Baekhyun.
.
.
.

Sehun memaksa dirinya meninggalkan rumah sakit. Setelah perdebatan sengit dengan perawat dan Donghae, ia melepaskan infus dan bersikeras pulang. Donghae menurut dan mengantarnya. Bahunya terasa perih dan tegang, tetapi rasa khawatir dan ketakutan kehilangan Baekhyun jauh lebih kuat daripada rasa sakit fisiknya.

Tujuan pertamanya adalah mencari Baekhyun di istana.

Saat Sehun berjalan tertatih-tatih di koridor utama, ia berpapasan dengan Suho, yang baru saja akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Sehun.

Wajah Suho menegang melihat adiknya berdiri di sana, pucat pasi dan bahunya diperban tebal.

"Sehun! Ya Tuhan, apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya di rumah sakit!" seru Suho, bergegas menopang Sehun.

Sehun menepis tangan Suho perlahan. Mata mereka bertemu. Sudah enam tahun ketegangan ini menaungi mereka.

Suho menatap adiknya dalam-dalam. "Sehun-ah, aku... aku minta maaf. Aku tahu aku tidak pernah menjelaskan, tapi aku harus—"

"Aku sudah tahu, Hyung," potong Sehun, suaranya pelan tetapi tegas. "Yoona sudah menceritakan semuanya."

Suho terkejut. Ekspresinya melunak menjadi rasa lega dan penyesalan yang mendalam. "Benarkah?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Welcome to My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang