.
.
Dor!
Tanpa berpikir, Sehun melemparkan dirinya. Dengan refleks yang mematikan, ia mendorong tubuh Baekhyun hingga terjatuh ke lantai.
Suara tembakan berdesing. Rasa sakit yang tajam dan panas menyebar seketika di bahu Sehun. Peluru itu menembus bahu kirinya.
Dunia seolah melambat. Baekhyun menatap mata Sehun yang terkejut, namun dipenuhi tekad melindungi, sebelum tubuh Sehun ambruk menimpa dirinya.
Pria bertopeng itu hendak menarik pelatuk lagi, tetapi Donghae, yang baru saja melumpuhkan lawannya, dengan cepat berbalik dan menembaknya tepat di tangan, membuat pistol itu terlempar menjauh.
Baekhyun, yang terkejut dan panik, merasakan cairan hangat dan kental merembes di bawahnya. Ia menyingkirkan tubuh Sehun yang kini mengerang kesakitan.
"Sehun! Sehun!" Baekhyun berteriak, suaranya pecah, ketakutan yang sesungguhnya kini melanda. Ia melihat darah merah pekat mulai membanjiri setelan tuksedo hitam Sehun di bagian bahu, persis di atas jantung.
Di tengah kekacauan, Sehun menggenggam tangan Baekhyun, mencoba tersenyum meskipun wajahnya menahan sakit.
"Aku... sudah bilang... berbahaya," bisiknya lirih sebelum kesadarannya mulai meredup.
Saat suara tembakan terakhir bergema dan tubuh Sehun ambruk, keheningan yang mematikan tiba-tiba menyelimuti ruang pertemuan. Bau mesiu, darah, dan asap memenuhi udara.
Oh Minjun, yang juga berhasil melumpuhkan lawannya berbalik bersama Tuan Vladimir, membeku. Ia menyaksikan seluruh kejadian itu—pertarungan sengit putranya, keahlian Baekhyun, dan momen heroik yang hanya berlangsung sepersekian detik.
Melihat putranya kini tergeletak di lantai, Oh Minjun berlari menghampiri putranya.
.
.
Sirine meraung memecah keheningan malam saat iring-iringan mobil hitam mewah tiba di gerbang rumah sakit milik keluarga kerajaan.
Sehun dibawa masuk menggunakan gurney, noda darah pekat membasahi setelan tuksedonya. Para dokter dan perawat bergerak cepat, segera mendorongnya menuju ruang operasi. Oh Minjun tampak pucat, mengikuti langkah ranjang dorong itu sambil berteriak memerintahkan penanganan terbaik.
Donghae menyusul, wajahnya tegang, sibuk memberikan instruksi kepada tim keamanan rumah sakit.
Baekhyun ikut mendorong ranjang itu sambil menggenggam erat tangan Sehun. Gaun emerald-nya kini berlumuran darah Sehun. Ia terus menangis terisak, suara tangisnya nyaris tak terdengar saking paniknya.
Di luar pintu ruang operasi yang kini tertutup, Baekhyun ambruk di kursi tunggu, tubuhnya menggigil tak terkendali.
Pikiran negatif berkecamuk di kepalanya. Sehun tertembak karena melindunginya. Sehun mempertaruhkan nyawanya untuknya. Jika terjadi sesuatu pada Sehun, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Baekhyun merasakan rasa bersalah yang menusuk.
Oh Minjun duduk di seberang mereka, memegang ponselnya dengan tangan gemetar, mengatur strategi keamanan pasca-serangan bersama Donghae, sambil menahan air mata melihat putranya berjuang di dalam. Keheningan di antara mereka terasa berat, sarat dengan ketakutan dan penyesalan.
Sementara kekacauan terjadi di rumah sakit, kondisi di Istana Oh perlahan mereda. Tim keamanan yang profesional berhasil menguasai situasi dengan cepat. Para penyerang yang tersisa dilumpuhkan, Tuan Vladimir berhasil diselamatkan meskipun dalam kondisi sedikit shock.
.
.
Di salah satu ruang gelap salah satu sudut istana. Daehyun menghela napas, kemudian mengeluarkan ponselnya. Layar ponsel yang redup menjadi satu-satunya sumber cahaya. Ia mengarahkannya ke wajah Yoona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Welcome to My Life
FanficByun Baekhyun ditakdirkan menjadi milik Oh Sehun. Sudah jangan protes! Cerita ini terinspirasi dari salah satu drama Thailand tapi dengan cerita dan alur yang berbeda. Cast Byun Baekhyun as Byun Baekhyun (yeoja) Oh Sehun as Oh Sehun (namja) Kim...
