Chapter 1

6.1K 293 21
                                        

Baekhyun POV

Musim berputar dalam siklus abadi, cakra kehidupan yang tak pernah lelah berulang. Musim Semi hadir dengan kemegahan bunga yang mekar, menjadi saksi bisu kebahagiaan setiap hati yang sedang berbunga asmara. Namun, pesona itu segera layu dan gugur oleh panasnya Musim Panas, meninggalkan kelelahan. Puncaknya, Musim Dingin datang, membekukan segalanya, menjadi latar muram yang melengkapi kepedihan setiap jiwa yang patah hati. Dan siklus ini terus berdetak, tanpa jeda.

Seperti halnya musim yang itu-itu saja, begitu juga dengan arus hidupku. Tak ada yang istimewa dalam kehidupanku.

Hidupku berjalan di jalur yang seharusnya, normal. Hidup bersama keluarga, menjalani masa remaja di sekolah, dan melakukan hal-hal umum lainnya.

Ayahku mengelola sebuah tempat makan sederhana berkat kepiawaiannya di dapur. Lupakan bayangan restoran mewah dengan pelayan berjas rapi, tempat kami hanyalah kedai yang lebih mirip kafe, dirintis appa seorang diri-tentu saja dengan dukungan penuh dari eomma.

Tapi jangan kaget jika kau datang dan tidak menemukan Appa di sana. Di waktu-waktu tertentu, Ayah lebih sering berkeliaran di luar bersama kamera kesayangannya. Katanya, itu adalah hobi mulia, mengabadikan momen dan menyelamatkan peristiwa agar tak hilang dimakan waktu. Aku? Aku lebih suka menyebutnya kurang kerjaan.

Kedai Ayah dibantu oleh seorang asisten, yang pastinya bukan salah satu dari anaknya. Sebab, jika aku atau adikku yang masuk dapur, niscaya kedai itu akan bangkrut dalam sekejap. Minimal karena aku akan menyajikan hidangan beracun, atau adikku yang akan meledakkan dapur.

Hari ini bukan hari minggu, maka dari itu aku harus berangkat sekolah.

"kerbau pemalas cepat bangun!" eomma sudah mulai berteriak itu tandanya sudah jam tujuh lebih

"anak ini benar-benar" eomma mendumal sembari berjalan kekamarku. Itu berarti sekarang sudah jam setengah delapan

"kau berniat memecahkan rekor tak pernah datang kesekolah tepat waktu atau bagaimana hah?" eomma menarik kasar selimutku

"eomma lima menit lagi ne" aku berusaha bernegosiasi mengundurkan jatuh tempo waktu bangunku

"Byun Baekhyun kau tak lihat matahari sudah sejak tadi mengejekmu dari atas sana" eomma mulai mengerahkan kekuatan fisiknya menarikku agar terjaga

"kau mau bangun atau eomma mandikan sekalian dengan air kopi agar bukan hanya matamu yang terjaga tapi seluruh tubuhmu" baiklah aku belum ingin memakai masker pagi-pagi begini

"arraseoyo eomma" dengan malas aku bangkit dan melangkah kekamar mandi.

Segera setelah selesai bersiap aku langsung menjemput sarapanku dimeja makan.

"yya! kau pikir ini masih pagi! Bahkan adikmu sudah berangkat dari tadi, cepat berangkat sekarang" aku gagal duduk karena omelan eomma, jadilah pantatku hanya mengambang diatas kursi

"eomma aku lapar" aku mengeluh tak ingin memulai hariku dengan perut kelaparan

"tak makan sekali tak akan membuatmu mati. Cepat berangkat atau kau juga tak akan mendapat jatah makan malam"eomma sadis sekali

"iissshh arraseoyo " selalu saja begini, jika rutinitas orang lain dipagi hari adalah sarapan santai bersama keluarga, rutinitasku justru melewatkan sarapan.

Sama saja seperti kemarin-kemarin. Setidaknya selama beberapa jam kedepan sebelum takdirku berubah seratus delapan puluh derajat.

"Baekhyun-ah kau tak akan berpamitan dulu?" Dari kursi makannya appa menegurku.

Welcome to My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang