Chapter 13

63 8 0
                                        

Suho melajukan mobilnya dengan tenang, menjauh dari gerbang rumah besar keluarga Oh. Keheningan segera menyelimuti mereka, keceriaan palsu Baekhyun tadi pagi lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang sarat beban. Baekhyun hanya bersandar di jendela, menatap ke luar.

Suho sesekali melirik Baekhyun. Ia tahu persis emosi apa yang sedang bergejolak di sana. Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Sehun—apalagi masalahnya sendiri dengan Sehun belum beres—tapi ia kasihan melihat ekspresi muram Baekhyun.

"Aku tahu kau tidak seceria itu, Baekhyun-ah," Suho memecah keheningan dengan suara lembut. "Kau hanya sedang marah pada seseorang."

Baekhyun tersentak dan menoleh. "Apa aku sejelas itu?"

Suho tersenyum tipis. "Sangat. Matamu mengatakan kau ingin membanting sesuatu. Sehun, ya?"

Baekhyun menghela napas panjang dan berat. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Oppa. Rasanya seperti... aku sudah siap berenang, tapi lautnya masih memilih pasang surutnya sendiri."

Suho diam sejenak menimbang makna dibalik ucapan Bakhyun.

"Laut itu luas, Baekhyun-ah," kata Suho hati-hati. "Dan kau tidak mungkin marah pada ombak yang datang, 'kan? Tapi kau bisa memilih melawan atau menjadikannya teman berenang."

Baekhyun menunduk, memainkan ujung tasnya. "Aku sudah mencoba melawannya. Tapi rasanya ombaknya terlalu besar. Ada... ada bayangan masa lalu di sana, Oppa. Bayangan yang membuatku merasa, aku yang menjadi orang ketiga."

Suho kembali menepikan mobil sebentar. Ia membalikkan badan menghadap Baekhyun. "Dengarkan aku. Kau tidak boleh menyerah hanya karena ada masa lalu. Setiap orang punya masa lalu. Yang penting adalah masa kini."

"Sehun mungkin terlihat dingin, tapi dia hanya bodoh dalam hal emosi, bukan jahat. Kau adalah istrinya, Baekhyun. Kau adalah kenyataan di sisinya. Dia hanya perlu waktu untuk menyadari bahwa kau bukan ombak yang harus dilawan, melainkan pulau yang harus ia jadikan tempat berlabuh."

Suho memberikan senyum hangat yang menenangkan. "Jangan biarkan bayangan mengalahkan kenyataan. Teruslah tunjukkan padanya bahwa kau ada, kau nyata, dan kau lebih berharga dari sekadar kenangan. Kau harus memperjuangkannya, demi dirimu sendiri."

Hati Baekhyun terasa ringan. Kata-kata Suho begitu tulus. "Terima kasih banyak, Oppa. Aku merasa lebih baik sekarang." Baekhyun tersenyum

.
.
.

Kim Sooyong mengenakan gaun malam haute couture berwarna zamrud, tampak dingin dan berkuasa duduk di bilik sudut sebuah Bar mewah yang berada di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit. Nuansanya super mewah, gelap, dan intim, didominasi oleh panel kayu hitam pekat dan kursi kulit beludru. Dinding belakang bar adalah rak tinggi yang berisi ratusan botol minuman beralkohol super mahal yang berkilauan di bawah cahaya spotlight redup. Bar ini sepenuhnya disewa, sunyi senyap kecuali musik jazz lembut yang samar-samar.

Di hadapannya, duduk seorang pria misterius berusia 60-an, mengenakan tuksedo mahal, memancarkan aura bahaya tersembunyi memutar gelas whiskey di tangannya. 

"harus ku akui, kembali ke sarang musuh setelah tiga puluh tahun dan langsung merencanakan pembunuhan... Anda memiliki keberanian seorang ksatria tua, Nyonya Kim" Pria itu membuka percakapan dengan suara rendah, meremehkan

Kim Sooyong, mengambil napas panjang dengan tatapan mata tajam.

"Keberanian itu adalah warisan dari suamiku, Tuan. Suamiku mati di pengasingan karena tekanan dan rasa bersalah yang diakibatkan oleh pemberontakan ayahku, Kakek Suho meninggal sia-sia. Kekacauan di istana saat itu bukan hanya membakar bangunan, tapi juga jiwa kami. Aku datang bukan untuk melihat, tapi untuk membakar balik.

Welcome to My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang