Chapter 5

2.1K 239 12
                                        

.

.
.
.
.

Baekhyun buru-buru memalingkan muka, menjauh dari pemandangan yang menyayat hatinya. Kaki kecilnya melangkah cepat, meninggalkan tempat itu tanpa tujuan yang jelas. Ia hanya mengikuti naluri, menyusuri lorong istana, kemudian menaiki tangga menuju lantai atas. Langkahnya terhenti di sebuah balkon yang cukup luas—ruangan yang jelas difungsikan untuk bersantai, lengkap dengan kursi dan meja kayu, serta deretan pot berisi bunga. Namun, Baekhyun memilih berdiri di dekat pagar pembatas.

Ia membiarkan hembusan angin malam menerpa wajahnya, seolah membawa terbang segala kekusutan pikirannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ia membiarkan hembusan angin malam menerpa wajahnya, seolah membawa terbang segala kekusutan pikirannya. Di atas sana, kerlip bintang tampak tersenyum, berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. Tentu saja, itu hanya anggapan Baekhyun, cara instan untuk sedikit menghibur diri.


"Kau tak berniat bunuh diri, 'kan?"

Pertanyaan itu menyentakkan Baekhyun dari lamunannya. Ia menoleh, terkejut mendapati Suho sudah berdiri di sebelahnya.

"Suho-ssi? Bagaimana kau tiba-tiba ada di sini?" tanyanya.

"Kau berjalan terlalu terburu-buru tadi. Aku khawatir kau benar-benar akan melompat," seloroh Suho, nada bercandanya ringan.

"Ah. Annieyo," Baekhyun tersenyum tipis. "Aku hanya mencari angin segar dan tak sengaja menemukan tempat ini."

"Kalau hanya itu tujuanmu, kau datang ke tempat yang tepat," ujar Suho, lalu matanya mengerling nakal. "Tapi, kalau niatmu bunuh diri, ini tempat yang salah. Kau tidak akan bertemu malaikat maut, melainkan hanya dokter ortopedi yang siap menyambung kembali tulangmu yang patah."

Baekhyun tertawa kecil. "Kalau begitu, kau tahu di mana tempat yang pas untuk bertemu malaikat maut?" ia meladeni gurauan itu.

"Molla. Hidupku terlalu sempurna untuk dikacaukan oleh sosok berbusana serba hitam itu," Suho pura-pura bergidik.

"Benarkah?" tanya Baekhyun, pura-pura serius.

"Tentu saja! Aku pintar, tampan, baik, bangsawan pula. Apa lagi yang kurang coba?" ujar Suho dengan tingkat kesombongan yang menghibur.

"Ya, sepertinya kau tak punya kekurangan," sergah Baekhyun, mengikuti irama candaannya. "Hanya saja... kelebihan. Kelebihan percaya diri."

"Yah, bisa dibilang begitu," Suho menyetujui, dan tawa renyah keduanya pun pecah di bawah langit malam.

.

.

"Aku tak menyangka istana ini masih sama seperti terakhir kali aku berada di sini," ujar Suho, memecah keheningan dengan nada nostalgia.

"Bahkan Sehun masih sama dengan Sehun di ingatanku," lanjutnya.

Mendengar nama itu, suasana hati Baekhyun yang semula membaik kembali membeku. Ia mendengus sebal. "Jadi, sikapnya yang dingin, keras kepala, dan seenaknya itu sudah mengakar sejak kecil, ya? Pantas saja kelakuan menyebalkannya terasa sangat alami."

Welcome to My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang