8. Kekecewaan.

94 16 6
                                        

Malam itu, Taufan memutuskan untuk pergi ke kamar sang sulung, perlahan tapi pasti, ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai 2 dan berjalan ke arah kamar yang berada di pojok.

Manik biru sapphire itu menatap pintu kamar sang kakak, tangan nya ter-angkat, mulai mengetuk pintu kamar tersebut.

"Hali, lo lagi ada waktu? gue pengen bicara."

Tak lama setelah Taufan bersuara, pintu pun terbuka, memperlihatkan Halilintar yang sedang memakai kaos polos berwarna hitam, dengan kacamata di wajahnya.

"bicara apa, fan? jangan bilang minta ditemenin tidur lagi?" ucap halilintar dengan senyuman miring diwajah-nya.

Taufan diam, menatap sebentar wajah mengejek dari sang kakak, ia pun protes, "ga minta itu! kali ini bener-bener serius." Taufan memajukan bibir bawahnya 5 senti, cemberut.

Halilintar hanya terkekeh pelan lalu menjawab, "baiklah? sini masuk." Halilintar mundur untuk membuka pintu lebih lebar agar sang adik bisa masuk ke kamarnya.

Taufan melangkahkan kakinya masuk kedalam dan memilih untuk duduk di pinggiran kasur milik Halilintar, menatap meja kakaknya yang penuh dengan kertas-kertas dan dokumen kerja.

"kerjaan nya masih banyak, Li? gue bisa nunggu kok, lo selesaiin aja dulu.."

Halilintar yang baru saja selesai menutup pintu kamar, mengalihkan pandangan nya sesuai arah mata Taufan, ke arah lembar-lembar kerja nya.

"masih lumayan, lo gapapa nunggu? nanti lo ketiduran lagi kaya waktu itu, ngomong aja dulu." Halilintar beralih untuk membereskan mejanya yg berantakan menjadi lebih rapi, dan duduk di sebelah Taufan.

"Lin.. gue ga tau mau mulai darimana.." Taufan mengusap lengan nya menggunakan tangan satu-nya, ia merasa tidak enak sekarang.

"kenapa? kalo ada sesuatu lebih baik bicara fan, jangan dipendam sendiri."

Taufan menghela nafasnya berat dan mulai bersuara, "Blaze dan ice.. mereka dikeluarkan dari sekolah."

Detik itu, Halilintar terdiam, raut wajahnya seketika berubah, benar-benar menjadi ekspresi yang tidak bisa dibaca, "... apa yang mereka perbuat sampai bisa dikeluarkan?"

Taufan menatap wajah kakaknya dalam-dalam, "Ice.. dia diejek oleh beberapa orang disekolahnya, blaze niat ingin membela, namun caranya salah.. ia- hampir membuat mati anak tersebut dengan tangan-nya sendiri."

"kalau saja saat itu tidak ada guru yang melihat, bisa saja anak itu mati di tangan blaze saat itu juga." Taufan melanjutkan perkataan nya dengan nada berat, masih merasa kecewa akibat perbuatan blaze.

Halilintar menghela nafasnya kasar, bersandar di dinding kamarnya dan meremas rambutnya dengan salah satu tangan nya. "dimana blaze? biar kakak yang berbicara sama dia."

Taufan menatap Halilintar, memperhatikan reaksi kakaknya tersebut. "dia.. ada di kamarnya, dari pulang sekolah tadi ga mau keluar."

Halilintar beranjak dari kasurnya, berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamarnya, Taufan menatap kakaknya yg keluar dari ruangan, lalu beralih duduk di meja kerja milik Hali, ingin membantu beberapa pekerjaan milik Hali.

BACKREST.

Halilintar mangetuk pintu kamar sang adik, mengharapkan sahutan dari adik orange nya tersebut.

Pintu perlahan terbuka dan memperlihatkan blaze yang terdiam saat megetahui bahwasanya Halilintar yg mengetuk pintunya.

".... masuk, kak." Blaze melangkah mundur dan membiarkan Halilintar masuk, ia masih memupuk perasaan benci pada Halilintar karna kejadian saat itu, namun setelah mendapatkan tamparan dan diberi sedikit nasihat oleh Taufan, ia kembali merenungi perkataan-perkataan nya.

Blaze menghampiri sang kakak yang sudah duduk di pinggiran kasur milik nya, belum sempat blaze berbicara, Halilintar sudah terlebih dahulu mengeluarkan suara.

"apa benar kamu dikeluarkan dari sekolah bersama ice?" Manik ruby itu menatap ke arah iris sang adik, mencari jawaban disana.

"mereka duluan, kak! mereka ngejek ice dengan kata-kata yg ga seharusnya, ga salah dong kalo aku bela adik aku sendiri?" jawab blaze dengan ketus.

"... iya, aku tau, tapi.. membalas perkataan mereka dengan cara seperti itu memangnya akan berguna, blaze?"

"yang ngatain ice sampai masuk rumah sakit, bahkan koma karna perbuatan kamu, sadar ga kalo perbuatan kamu itu hampir ngebuat orang lain kehilangan nyawa nya? setiap masalah ga harus diselesaikan dengan kekerasan." lanjut halilintar, membawa nada kecewa didalam nya.

Melihat blaze yang diam, Halilintar nenghela nafasnya dan melanjutkan, "Denger ya, Blaze. Aku ga menyalahkan kamu yang melawan karena ada yang jahat sama adikmu—adik kita. Tapi selama ini, apa pernah aku ngajarin kamu buat ngehajar orang bahkan sampe bikin nyawanya hampir melayang? Apa lagi cuma perkara dikatain."

".. aku tau kamu masih benci aku karna kejadian waktu itu, jadi.. sekarang mau gimana? mau tetep lanjut sekolah atau ngga?" Halilintar bertanya dan menatap lekat lekat manik pemuda di hadapan nya tersebut, Blaze yang sedari tadi diam pun mengangguk-kan kepalanya.

"nanti biar aku yang bicara sama kepsek kamu, kalo dia tetep nolak, kita cari sekolah lain." Halilintar berdiri, dan meninggalkan ruangan tersebut. 

--------

HAAII, kembali lagi dengan backrest! udah lama banget ya auth ga up chap baru? setahun nyampe deh kayaknya, maaf ya semuaa, aku harap kalian suka dengan chapter yg aku buat kali ini. 🤍




Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BACKRESTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang