Melihat kekuatan sang Rival

158 17 2
                                        


         

Happy reading guys


.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

          

Siang hari di Jakarta Pusat. Cuaca saat itu sangat terik, matahari seperti memanggang apa pun yang berada di bawahnya. Namun, panasnya udara tidak sebanding dengan bara semangat yang menyala di dalam diri Hesperos.

Di markas mereka, suasana terasa tegang. Para petinggi sedang berkumpul, membahas strategi untuk membalas serangan geng Wolf Scream, serangan yang sebelumnya membuat Aldo, Daniel, dan Ollan tumbang.

Ollan, yang duduk bersandar dengan wajah kesal, mengepalkan tangan. Kekalahan itu masih menempel di pikirannya.

“Jadi gimana kita ngebalesnya, Iaan?” tanya Ollan. Dari raut wajahnya, jelas dia tidak terima dikalahkan begitu saja.

Tian yang berdiri di dekat meja, menoleh santai namun sorot matanya tajam.

“Sabar dulu, Lan. Kita harus cari tahu dulu siapa aja petingginya,” jawab Tian dengan tenang. “Kalau kita asal serang, bisa-bisa kita yang abis. Mereka jauh lebih kuat… dan kalau kita maksa nyerang kita di ayam-ayamin sama mereka, "

Di saat mereka sedang serius menyusun rencana, tiba-tiba Gito muncul dari arah pintu markas, entah sejak kapan dia ada di sana.

“Lu abis dari mana, Bang?” tanya Tian sambil mengangkat alis.

“Dari rumah lah. Emang kenapa?” Gito balik bertanya, nada suaranya santai seperti biasa.

“Gak apa-apa, cuma nanya doang,” jawab Tian, lalu mencondong sedikit.
“Oh iya, Bang… lu ada saran gak buat kita balikin serangan Wolf Scream? Siapa tahu lu ada rencana gitu.”

Gito menyilangkan tangan, wajahnya yang tadi santai mulai sedikit berubah serius.

“Hm… saran dari gua sih, lu semua  latihan lebih keras aja,” katanya.
“Soalnya Wolf Scream sekarang udah jauh lebih kuat dari yang terakhir gua ketemu. Dan gua gak mau kalian cuma modal nekat.”

Ollan langsung menoleh, bahkan Aldo yang setengah tertidur langsung membuka mata.

Gito melanjutkan, suaranya rendah namun penuh kekhawatiran yang jarang dia tunjukkan.
“Mereka bukan lawan yang bisa kalian sikat pakai nyali doang. Mereka sekali nya perang terorganisir… dan mereka tidak ssegan-segan ngebunuh lu pada.”

Tian mengangguk perlahan, lalu tersenyum miring.
“Oke. Gua terima saran dari lu, Bang.”

Dia berdiri, menepuk meja markas, dan menatap para petinggi.

“Oke.. Mulai besok kita latihan dan bakalan lebih keras dari kemarin,” ujar Tian, suaranya naik, dan semangatnya menular.

“Oke!” jawab serentak petinggi lain, walau Daniel menambah, “asal jangan ada yang muntah aja besok,” yang disambut tawa kecil di tengah suasana panas itu.

Tian menatap Gito sekali lagi, lalu berkata, “Kita gak bakal kalah sama geng yang lu kalahin.”

Matahari di luar masih terik, tapi di dalam markas Hesperos, tekad mereka jauh lebih membara.

Setelah diskusi yang cukup panas itu dan suasana markas mulai sedikit mereda, Gito menepuk lututnya lalu berdiri.

“Woi, gua ke supermarket dulu ya bentar,” pamitnya sambil melambaikan tangan.
Tanpa menunggu respons, dia langsung keluar dari markas, langkahnya cepat tapi santai, seperti biasa.

HESPEROS S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang