.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, suasana kembali ramai saat mereka semua kembali berkumpul, masing-masing ditemani pasangannya.
"Kak, kamu sudah izin, kan?"Tanya Christian pada Chika, sedikit takut.
"Sudah, memangnya kenapa?" Chika balik bertanya, bingung.
"Ngak apa-apa sih, cuma takut Bunda nyariin kamu dan nanti aku yang kena omel," jawab Christian yang mulai tenang.
Obrolan mereka berlanjut, diselingi candaan receh yang keluar secara spontan, menciptakan suasana hangat.
"Iann... dipanggil Gito, suruh ajak yang lain juga," panggil Sagara, dan yang lain mengangguk mengerti.
"Sha, aku ke Bang Gito dulu ya. Kalau mau ngemil, ambil saja di dapur," Christian berpamitan singkat, lalu segera melangkah pergi diikuti yang lain.
Di ruang rapat, peta-peta daerah Jakarta terpampang jelas di papan yang menempel di tembok.
“Ini semua buat apaan sih, Bang?” Christian bertanya, kebingungan melihat peta-peta itu.
“Jadi, ini semua adalah daerah kekuasaan kita,” Gito menunjuk salah satu area di peta. “Di luar Jakarta, sudah terbentuk aliansi besar yang ingin merebut kekuasaan kita,” lanjutnya dengan nada serius yang mulai terasa.
“Aliansi? Perasaan kita enggak pernah bikin masalah sama mereka deh,” timpal Aldo, masih terlihat bingung.
“Mereka bikin aliansi karena tahu, kalau kekuatan Hesperos dibiarin, daerah kekuasaan mereka juga bakal terancam,” Sagara menjelaskan.
“Terus gimana, Bang? Kita kan masih harus ngelawan Wolf Scream,” tanya Ollan, sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.
“Tenang aja. Kalian fokus dulu sama Wolf Scream. Aliansi Besar itu biar Shadow Reign yang atasi sementara, sampai kalian pulih kembali,” Jack menimpali, bergabung dalam pembicaraan.
“ Tapi, Bang! Apa kalian sanggup sendirian?” Ujar Christian dengan Ragu. “Apa perlu Hesperos dibagi jadi dua regu, terus salah satunya membantu kalian?” lanjutnya, menawarkan solusi.
“Santai aja, Iann. Itu enggak perlu,” balas Jack tenang. “Lagipula, semua anggota Shadow Reign itu kerja di bidang persenjataan dan dunia bawah tanah. Ngurus hal kayak gini udah biasa buat kita.”
Gito mengangguk setuju dengan ucapan Jack. “Bener kata Jack, kalian fokus aja ke Wolf Scream. Urusan Aliansi ini biar kita yang handle.”
“Ya sudah kalau kalian bisa,” Aldo akhirnya mengalah, lalu beralih menatap Christian. “Terus, Yann, rencana kita apa? Enggak mungkin kita nyerang mereka tanpa ada rencana atau persiapan apa-apa, kan?”
“Rencananya apa, ya?” Gumam Christian yang kebingungan juga.
“Apa dari kalian ada usul?” Tanya Sambil menatap kearah teman-temannya satu persatu.
“ Emm, Bang Git. Mereka bergerak dibidang bawah tanah ngak? ” Tanya Daniel.
“ Dari zaman kita sih, mereka bergerak dibidang kayak gitu. Apalagi pas zaman gua dulu mereka semua adalah pengedar obat-obatan terlarang.” Jawab Gito.
“Okee, bentar gua ambil laptop dulu buat nyari Informasi mereka lebih dalam” Ujar Daniel dan langsung pergi dari ruangan untuk mengambil laptop.
Selang berapa menit akhirnya daniel kembali dengan membawa laptop ditangannya.
"Tunggu 20 menit gua mau nyari Info tentang mereka dulu.” Ujar Daniel dan mulai Fokus ke laptop.
10 menit berlalu Daniel masih Fokus dengan laptopnya sedangkan teman-temannya masih setia menunggunya.
“Gotcha! ” Teriak Daniel tiba-tiba, membuat seisi ruangan Terkejut.
“Kenapa sih lu? Bikin kita kaget tau ngak!” Kesal Ollan.
“Hehehe... Soryy-soryy seneng banget gua nih dapet Info yang menarik.” Ujarnya kesenangan.
“Coba Info appan? ” Kepo Gito.
Dan daniel Pun langsung menjelaskan info apa saja yang ia dapatkan tadi.
“Info yang pertama, seperti bang Gito bilang tadi. Mereka semua masih menjual Obat-obatan terlarang, Dan info kedua mereka ternyata bekerja dibawah naungan Salah satu orang terkaya dan terpenting Indonesia yang menyebabkan mereka semua kebal hukum.” Jelas Panjang lebar Daniel.
“Anjing, Pantesan mereka susah ketangkepnya.” Kaget Nanda yang mendegar itu.
“ Terus baiknya kita gimana, nih Bang? ” Tanya Christian kepada Gito.
“Keputusan ada di lu,Iann. Kita semua ngikut ketua.” Uja Gito.
“Emm...Lann. Menurut lu gimana? ” Tanya Christian kepada Ollan.
“Emm...Niel. Mereka ada Pabrik atau tempat pembuatannya ngak? ” Tanya Ollan.
“Dari yang gua dapetin sih ngak ada yaa, Mereka semua dapet ini dari luar negeri.” Jawab Daniel.
“Oke kalau kayak gitu, Gimana setiap Barang-barang mereka dateng kita rampas aja dan kita musnahin.” Usul Ollan.
“Kalau seperti itu beresiko,Lann. Yang ada kita bisa menjadi buronan mereka.” Ujar Nanda yang tidak setuju dengan usulan Ollan.
“ Tapi apakah ada cara lain selain itu bang? ” Tanya Ollan.
“Ada, pasti ada. Setiap musuh pasti punya celah, dan kita manfaatkan celah itu. Kita harus lebih pintar dari sekadar merampas,” Gito menjelaskan dengan tenang.
“Jadi, apa rencananya?” Christian bertanya, menatap Gito penuh harap.
“Jika mereka kebal hukum karena dilindungi orang penting, itu berarti kita tidak bisa menyerang secara terang-terangan di depan umum,” Gito memulai penjelasannya. “Kita harus mencari kelemahan orang yang melindungi mereka, atau paling tidak, jalur distribusi mereka yang paling rahasia dan tidak terdeteksi.”
“Tapi Daniel bilang, mereka dapat barangnya dari luar negeri. Berarti ada rantai pemasok internasional, dong?” Ollan bertanya, mencoba memahami masalahnya.
“Ya, memang dari semua ini pasti ada rantai pemasoknya. Dan yang kita cari itu adalah rantai pemasok yang ada di Indonesia,” ujar Gito. Mereka semua mengangguk, mulai mengerti arah pembicaraan Gito.
“Jadi… paham, kan tugas lu, Niel?” Christian bertanya pada Daniel, yang langsung mengangguk mengerti.
“Oke… Lan. Bantuin Daniel. Kalau sudah dapat informasi tentang si pemasok itu, segera tangkap dan bawa ke sini.” Christian memberi perintah pada Ollan. Ia lalu menoleh pada yang lain. “Dan sisanya, bantu semampu kalian,” tambahnya, agar tidak terlalu membebani.
“Ada lagi, Bang, yang mau disampaikan?” Christian bertanya pada Gito.
“Enggak ada. Kalian bisa bubar sekarang,” jawab Gito, mempersilakan para inti Hesperos untuk meninggalkan ruangan.
Setelah para inti Hesperos bubar, di ruangan rapat hanya tersisa Gito, Sagara, Nanda, dan Jack.
Mereka masih tertegun, mengagumi respons cepat anggota Hesperos terhadap masalah yang mereka hadapi.
“Kan, sudah gue bilang. Mereka bakalan kuat-kuat aja,” ujar Gito kepada rekan-rekannya, tersenyum tipis.
“Iya, setelah pertemuan tadi, gue langsung percaya. Jakarta di tangan mereka bakalan aman-aman aja,” Sagara menimpali, mengangguk setuju.
“Yaudah, yok turun. Gabung sama mereka,” ajak Gito, dan ketiga temannya mengangguk setuju.
Di bawah, ternyata mereka semua sudah asyik berbincang santai, diiringi jokes-jokes receh yang meluncur dari mulut Daniel. Saking asyiknya, mereka sampai tidak menyadari kedatangan Gito dan yang lainnya.
“Eh… kok ada Om Gito di sini?” Chika terkejut melihat Gito.
“Udah dari tadi kali. Kamu nya aja yang asyik banget,” jawab Gito santai.
“Yaudah, kami cabut dulu, Yann. Jagain ponakan gue, ya,” pamit Gito kepada para inti Hesperos.
“Aman aja, Bang,” ujar Christian sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah kepergian para inti Shadow Reign, suasana kembali cair. Mereka berinteraksi santai, seolah awan gelap masalah yang baru saja dibahas di ruang rapat tak pernah ada. Padahal, di langit kehidupan mereka, badai besar baru saja terbentuk di cakrawala, menunggu waktu untuk memuntahkan isinya.
TBC.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat sore semuanya...
Gimana gess puasanya?Aman.
Yaa kali ini Gua upp lagi Chapter Hesperos yang terbaru...
Udah gitu aja jangan lupa Vote dan Komen jika ad kesalahan dalam penulisan.
