.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam semakin gelap.Angin laut mulai menerpa tubuh Christian, ketua Geng Hesperos, yang dibalut oleh jaket kulit hitam. Jalanan besar terasa lengang, dan malam itu ia hanya ditemani oleh gema kenalpotnya dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Chris sampai di daerah permukiman warga, di daerah jakarta utara.Rumah-rumah berdiri cukup rapat, dan lampu-lampu temaram menyala.
Christian mulai memperlambat motornya.
"Apa ini tempatnya?." Gumam Chris,
"Coba deh gua tanya ke warlok." Lanjutnya.
Kemudian ia memarkirkan motornya yang tak jauh dari pos ronda dan menghampiri Warga yang sedang berjaga.
"Malam, Pak." Sapa Chris dengan ramah.
"Malam, Mas.Ada apa yaa? " Jawab salah satu warga meliriknya dengan Waspada.
"Ini, Pak ... saya mau tanya? Pabrik terbengkalai disini dimana ya pak." Tanya Chris dengan nada santai.
Wajah para warga itu langsung berubah menjadi agak panik dan takut.
" Bu-buat apa kamu nanyain itu? " Tanya Warga itu dengan cepat,
" Kamu kalau kesana, sama aja kamu nyerahin nyawa ke mereka." Jawab Warga itu.
Christian tersenyum tipis lalu menjawab.
" Bapak tenang aja, saya cuma mau liat-liat aja, saya disuruh sama om saya dari kepolisian buat ngeliat tempat itu." Ujar Chris berbohong agar diberi tahu lokasinya.
" Hmm ... Kalo begitu, kamu tinggal ke kanan habis itu lurus, nah disitu pabrik nya." Ucap Warga itu.
" Baik pak, terimakasih ya," Ujar Chris sambil mengangguk hormat.
" Kalo gitu saya pamit dulu." lanjut nya dan meninggalkan Pos ronda itu
" Iyaa, mass. Hati-hati yaa." Balas warga itu, nada agak khawatir.
Christian langsung kembali ke motornya dan meninggalkan pos ronda itu,
"Apa mereka segila itu yaa? Sampai warga sekitar pada takut." Gumamnya sambil berjalan ke arah pabrik tempat markas Wolf scream berada.
Motor Christian melaju pelan menyusuri jalanan yang telah ditunjukkan oleh warga itu. Lampu-lampu jalan yang awalnya terang disepanjang jalan mulai meredup.
Tak lama dari pos ronda itu, sebuah bangunan besar dengan dinding kusam dan retak, jendela pecah, tembok pembatas yang terbuka. Lampu-lampu yang menyala temaram menjadi penerangan bangunan itu.
Christian menghentikan lajunya dan memarkirkan motornya tak jauh dari gerbang bangunan pabrik.
Ia melihat sekitar sangat sepi, karena pabrik ini terletak di ujung jalan, pas sekali jika terjadi pertarungan tidak akan menggangu warga sekitar, pikir Christian.
Setelah berdiam cukup lama akhirnya ia mulai beranjak dari sana dan mendekat ke arah pabrik itu.
Didalam pabrik sekaligus markas wolf scream, mereka saat ini sedang berkumpul santai, ada yang bermain kartu remi, minum minuman keras, dan ada yang saling adu jokes.
Perlahan Chris mulai masuk kedalam bangunan tua itu dengan perlahan tanpa suara,tanpa rencana,dan hanya bermodalkan Jago beladiri dan mental saja.
“ Seru nih kalo gua hantam dikit.” Gumam Chris yang mulai bersemangat.
Dari kejauhan ada yang mengawasi gerak-gerik Christian, setelah Christian masuk meninggalkan motornya yang terparkir diluar, 2 orang yang mengawasinya pun duduk di jok motornya, Menunggu waktu yang tepat untuk masuk kedalam pabrik tua itu, Entah mengalahkan atau membantu,atau ada hal lain yang ingin ia lakukan.
