kembalinya Geng lama

188 19 3
                                        

****

Di sebuah pelabuhan di Jakarta Utara, deru ombak bercampur suara derek kontainer yang bergerak pelan. Lampu-lampu kapal yang bersandar menyala redup, memantulkan bayangan panjang di atas beton basah.

Gito duduk di atas peti kayu, rokok menyala di jemarinya. Tatapannya lurus ke laut, tenang tapi dalam otaknya sedang berperang.

Beberapa menit berlalu.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

"Sorry, Bang. Udah bikin lu nunggu," ujar suara itu santai.
Gito menoleh sedikit.
"Aman," katanya singkat. "Mana yang lain, Gar?"
"Belum keliatan, Bang," jawab pria itu.

Dialah Sagara Putra atau biasa dipanggil Gara. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam. Berdiri sedikit di belakang Gito, posisi khas seorang wakil yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Angin laut berembus lebih kencang.
Tiba-tiba....

DUKK!!!

Sesuatu mendarat di atas kontainer tak jauh dari mereka.

Gito mendongak.
"Hah... akhirnya muncul juga."

Dari atas kontainer, seorang pria melompat turun dengan ringan. Jaketnya terbuka, tangannya masih dibalut perban tipis.

"Nunggu lama, Bang?" tanyanya sambil menyeringai.

"Nanda," gumam Gara.

Ananda Putra.
Adik kandung Gara. Petarung utama Geng mereka. Tatapannya liar, tubuhnya penuh bekas luka, bukti kalau ia lebih sering menyelesaikan masalah dengan otot ketimbang kata-kata.

"Lu telat," kata Gito.

Nanda mengangkat bahu.
"Soryy,bang.ada urusan tadi."

Belum sempat suasana kembali tenang
suara gesekan besi terdengar dari balik deretan kontainer.

Seseorang melangkah keluar dari bayangan, membawa tongkat baseball di tangannya "Kalian ribut amat," ucapnya datar. "Kalau mau rapat, kenapa gk markas dulu."

Gito tersenyum tipis.
"males gua disana, Jack. Tapi tenang aja, Tempat ini aman kok."

Pria itu berhenti tepat di bawah lampu pelabuhan. Kacamata tipis, ekspresi dingin, matanya terus bergerak menghitung kemungkinan.

Beliau adalah Jacksenn Patree.
Ahli strategi. Otak di balik setiap pergerakan besar mereka.

Setelah mereka semua berkumpul, Gito akhirnya membuka pembicaraan.

"Oke... sori gue ngumpulin kalian semua secara mendadak.karena Gue butuh bantuan kalian," ujar Gito dengan nada serius.

"Ah, gak usah minta maaf gitu, Git. Kita mah bakal bantu lu sampe mati juga, ya kan, Gar, Nan?" sahut Jacksenn sambil nyengir.

"Bener, Bang," jawab Gara.
"Iya, kita selalu di belakang lu," tambah Nanda.

Gito menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
"Hah... ini nih yang gue suka dari kalian. Oke, kalo gitu. Kalian semua pasti tau kan kalau Wolf Scream bangkit lagi?"

"Tauu," jawab mereka serempak, ekspresi langsung berubah lebih waspada.

"Nah, karena itu," lanjut Gito, "gue mau kalian semua balik lagi. Gabung sama geng baru gue, Tapi dibawah pimpinan ponakan gue... Si Tian."

"Tian?!" Nanda langsung bereaksi.
"Tian sih penguasa Jakarta sekarang nih, anjay... pasti nurun dari omnya nih," ledek Nanda, sengaja mencairkan suasana.

Gito mendengus kecil.
"Iya lah. Omnya aja kayak begini," katanya setengah bercanda, lalu kembali serius.
"Masalahnya, Wolf Scream udah balik. Temen-temennya ponakan gue udah kena imbas. Mereka pengen ngerebut Jakarta lagi dari tangan Tian."

Suasana mendadak sunyi. Gara mengepalkan tangan, Jacksenn menyandarkan punggungnya ke kontainer, sementara Nanda berhenti bercanda.

"Berarti ini bukan sekadar balas dendam," ujar Jacksenn pelan.
"Tapi Ini perang," sambung Gara.

Gito mengangguk.
"Dan gue gak mau Tian ngadepin semua ini sendirian."

Gara berdiri dari duduknya, menepuk tangan pelan.
"Kalo gitu, Bang... tinggal bilang aja.butuh kita kapan?"

Gito melirik satu-satu wajah mereka.
"Gue butuh kalian jadi pasukan kedua. Buat ngebackup kalo sesuatu terjadi sama temen temen tian."
Jacksenn mengangguk pelan.
"Berarti kita nunggu waktu yang pass."

"Iya," jawab Gito.
"Kalian bergerak di belakang layar."

Nanda menyeringai.
"Anjay, jadi pasukan bayangan. Cocok sih sama kita."

Gito melipat tangan di dada.
"Wolf Scream gak bakal langsung nyerang Tian. Mereka pasti mulai dari orang-orang terdekatnya dulu."

Gara mengepal kan tangannya.
"Pengecut banget anjing, " Kesal Gara

"Emang, " Jawab Gito
"Makanya, gua gk mau mereka nyerang kita duluan, dan kita tumbang satu persatu, " Ujar Gito

"Oke.. Pertama kita ngapain? " Tanya Jacksenn.
"Kita intai mereka dari jauh, tapi jangan dilawan gua gk mau kita mulai peperangan, " Ujar Gito

"Pelabuhan, bengkel lama, sama jalur balap liar. Tempat-tempat itu bakal jadi markas mereka."

Nanda tertawa kecil.
"Berarti Jakarta belum tidur juga ya,setelah kita bubar"

Gito tersenyum tipis.
"Jakarta gak pernah bener-bener tidur. Yang berubah cuma siapa yang megang kendali,kita kembali dan jakarta bakalan punya 2 singa dalan satu kandang, "

Suasana kembali sunyi. Angin malam menelusuk kedalam tubuh, membawa angin malam yang dingin.

"Oke," ujar Gara akhirnya.
"Kalo gitu, kapan kita mulai?"

Gito menatap jam di tangannya.
"Sekarang."

Semua saling pandang, lalu bangkit hampir bersamaan.

Tanpa banyak kata, mereka tau
malam ini bukan sekadar kembalinya mereka,
tapi kembalinya perang yang belum usai

Bersambungg.....

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Halooo cuyy gua disini ganti punya akun yang lama dan sekarang jadi gua yang megang.

Soryy juga nihh baru up sedikit buat ngobatin rasa penasaran kalian aja nihh

Byeee...

HESPEROS S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang