Secangkir Cappuccino Darinya

273 15 5
                                        

Sebuah cerita dari Atikribo

---------

Sang Perempuan meneguk kopi dari sebuah cangkir kecil. Ia merasakan dunia. Ia melihat kehidupan.

Terlalu sering mungkin perempuan itu duduk di sebuah kedai kopi untuk membaca buku dan selalu memesan minuman yang sama. Pahit yang ia cecap, manis susu yang tertinggal di ujung lidah mengingatkannya pada keseharian yang telah ia lalui. Aneh mungkin bagimu bahwa secangkir kopi dapat memperbaiki hari buruk seseorang. Meskipun itu hanyalah secangkir kopi dengan campuran susu serta buih-buihnya, tak sembarang orang dapat membuat cappuccino dengan takaran pas. Semua membutuhkan proses dan proses itu yang mereka sebut seni. Bagaimana ketiga bahan utama itu dapat menciptakan gambar sederhana layak

nya hati dan daun sampai sesuatu yang kompleks seperti beruang sampai menara Eiffel.

Mungkin kamu tidak suka dengan minuman itu. Mungkin kamu heran mengapa ada orang yang menyukai secangkir kecil minuman pahit yang hangatnya tak tahan lama. Mungkin kamu heran mengapa ada seseorang yang rela membayar cukup mahal untuk minuman sepuluh-kali-sesap-langsung-habis-itu; kenikmatan yang singkat. Kenikmatan yang singkat.

Tapi itulah yang sang perempuan cari dari secangkir kopi: kenikmatan yang singkat. Mengingatkannya akan hidup yang juga tak lama. Hangatnya kopi bagaikan usia dan meneguknya bagaikan apa yang telah ia jalani sehari-hari. Mengingatkannya bahwa ada kemungkinan ia akan meninggalkan bumi esok hari. Singkat dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Rasa pahit kopi diseimbangkan dengan manisnya susu. Cukup. Tidak terlalu manis maupun pahit. Cukup. Sempurna. Bagaikan hidupnya yang tanpa bumbu, secangkir cappuccino mengingatkannya akan realita. Pahit manis harus dinikmati karena itulah hidup 'kan? Pahit manis yang selalu ada dari apapun yang terjadi. Pahit manis yang selalu ada dari dampak segala tindakan yang kita lakukan. Bagaikan sebuah roda yang berputar; atas-bawah akan selalu melengkapi.

Tegukan pertama menenangkan dirinya. Seluruh kafein masuk ke otak, bereaksi; penat pada kepalanya berangsung-angsur hilang. Masalah dalam pekerjaannya, orang-orang brengsek dalam hidupnya sekejap terlupakan. Aroma yang khas dari biji kopi yang digiling tercium dan lagi-lagi membuatnya lebih tenang.

Ketenangan yang ia dapat singkat. Begitu pula dengan kenikmatannya. Masalahnya memang boleh dilupakan namun pahitnya itu selalu membawanya kembali pada realita. Hadapi, hadapi, hadapi. Semua orang boleh istirahat sejenak, tapi yang ada di hadapannya adalah kenyataan. Tak bisa ia terus menerus bersembunyi di balik pikirannya yang utopis. Sisa rasa setelah menghabiskan minuman itu tak pernah gagal untuk menyemangatinya. Istirahat dan kembali bekerja; ia punya tugas besar di luar sana.

Hal terakhir yang sang perempuan sukai dari meminum cappuccino adalah buih susu yang mengering setelah ia teguk sampai habis. Mungkin ia bisa menghabiskan waktunya memandangi cangkir kosong itu. Buih susu berwarna coklat karena gula tertinggal di sana dan lucunya ia melihat dunia.

Partikel kecil yang menyusun buih-buih itu bagaikan dunia, bahkan alam semesta. Tak luput pula dari yang namanya manusia. Buih yang tersisa baginya bagaikan manusia yang memberikan dampak pada dunia. Mungkin buih-buih itu kecil. Namun jumlahnya yang tak sedikit membuatnya percaya bahwa seseorang yang mempunyai tujuan sama dapat memberi dampak pada dunia. Mungkin kesannya bagaikan meninggalkan setitik noda penuh bakteri dan orang-orang pada umumnya ingin cepat membersihkan noda itu karena tak ingin terkena penyakit. Namun sang perempuan percaya sesuatu yang aneh seperti noda dan bakteri sekalipun dapat memberikan dampak baik. Orang-orang hanya perlu sedikit beradaptasi.

Sang perempuan selalu suka meminum cappuccino buatan barista itu, tidak terlalu manis maupun pahit. Kekentalannya pas, foam-nya tidak terlalu banyak, gelas yang mereka gunakan juga tidak terlalu besar, membuat jantungnya berdetak secara normal setelah meminumnya. Sang perempuan selalu tersenyum dibuatnya.

Ia tidak menghabiskannya dalam sekali teguk, tentu saja. Ia menikmati hal itu dan terkadang sang perempuan tak sadar jika si barista suka memerhatikannya. Sang perempuan yang selalu duduk di meja depan konter; sambil membaca dan menulis-nulis bukunya, terkadang juga hanya memandangi cangkir sambil tersenyum. Ketika sang perempuan masuk dan duduk di tempat favoritnya, si barista akan menghampirinya dan bertanya, "Cappuccino?"

Sang perempuan tersenyum, "Kamu tahu banget aku mau pesan apa."

Mengangkat alisnya, si barista berkata, "Kamu 'kan tidak pernah memesan minuman lain," Sang perempuan menjawabnya hanya dengan mengangkat alis sementara si barista menyeringai dan langsung membuat pesanannya.

Datanglah minuman favorit sang perempuan, tak lupa si barista meletakkan dua buah biskuit kecil pada pisin cangkir itu. Sang perempuan berterimakasih dan kembalilah ia pada kesibukannya membaca buku. Dalam hening terkadang sang perempuan melirik cangkir kopi itu dan mengalihkan pandangannya pada si barista yang sibuk berinteraksi dengan pengunjung lain. Dalam hati kembali berterimakasih pada si barista karena telah menuangkan segenap rasa dalam pekerjaannya untuk membuat jenis kopi favorit sang gadis. Tak henti dalam setiap tegukan ia kerap merasakan dunia dan melihat kehidupan.

AnalogiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang