just let it go.

94 5 0
                                    

Melody POV

Gue percaya, luka gue pasti bakal sembuh, keadaan gue pasti membaik, setiap hari, gue akan selalu tambah baik-baik aja. Gue tau, karma bakal bekerja semaksimal mungkin, i just need sit down in my chair and waiting.

"Aldoooooo" gue amat kaget pas liat Aldo udah ada diruang apartemen gue.
"Eh toa ngapain lo teriak teriak segala sih" Aldo menutup telinganya.
"Ya lo ngapain disini pagi-pagi sih? Dapet kunci darimana lo? Ini kan hari minggu, ampun kalo tadi gue nggak pake apa apa gimana?!" Cerocos gue. Bodoamat, gue beneran kesel!
"Pertama, apart lo nggak dikunci, dan lo nggak bisa nyalahin gue karna lo yang ceroboh. Tadi gue cuma lewat doang dan gak salah kan? Apart gue beda satu lantai sama lo. Yang kedua, gue hari ini seneng banget"
"Kenapa?" gue duduk disebelah Aldo.
"Karena, semenjak lo putus, lo kayaknya baru hari ini lagi ya ngomong sepanjang itu? Alhamdulillah, Melody yang cerewet is come back!" Aldo tertawa, gue cuma senyum.
"Do, bawa sarapan ngga?"
"Ngga, masak aja yuk!"
"Gue mau mandi...."
"Loh, lo belom mandi?" Aldo langsung berdiri menjauh sambil menutup hidung. Gue cuma ngangguk.
"Mandi sana, gue yang masak deh. Abis ini gue mau ngajak lo pergi."
Gue cuma nurut dan jalan malas ke kamar mandi.

--

Ripped jeans, kaos, slingbag, dan sepatu ket, juga rambut dikuncir satu. "I'm ready!" Gue jalan kedapur sambil bersenandung ria.
"Wangi banget, Do!" Gue langsung menyambar capcay yang Aldo bikin. Sebenernya, gue nggak suka sayur samasekali, tapi kalo masakan Aldo.... gue nggak bisa nolak deh!
"Do, kok lo masak banyak banget? Buat stok sampe malem?" Mengingat Aldo sama gue yang udah deket banget, yang kalo mau makan tinggal makan berdua, yang suka se-apart, yaa...
"Buat dibawa"
"Lah, lo emang mau ngajak gue kemana?"
"Berendam. Dan lo nggaboleh banyak tanya. Tugas lo cuma bawa badan, baju ganti, sama charger hape"
Gue heran, dan cuma mengangguk, lalu membawa piring isi nasi dengan porsi secuil, lalu keruang TV.

--
Jam 6 sore, gue dan Aldo ontheway.
"Lembang?"
"Iya."
"Do lo tau nggak sih... inikan..."
"Peraturan kedua, lo nggak boleh flashback."
"Tapi kan... astaga lo mau bunuh gue ya?" Gue memandang Aldo yang lagi nyetir putus asa. Gue cuma nyoba buat tidur dimobil.

SARIATER, pukul 7.30 pm.

Tempat favorit gue dari kecil, pemandian air panas, tempat yang gue kunjungin bertahun tahun lalu sama Ayah Bunda, tapi bukan itu masalahnya. Gue pernah kesini, sama Gero. Skip, gue nggak boleh flashback.

"Peraturan ketiga, lo nggak boleh ngelamun" gue diem, gue kesel, gue masuk lalu narok tas dan tetek bengek gue dan Aldo. Gue masih diem, nahan nangis, gimana nggak sedih coba. Gue pernah kesini, deja vu, guee..... gasanggup.
"Mel, lo nggak boleh inget Gero"
"Do! Lo gila, bodoh, tolol, apa sinting sih?! Gue tuh udah bilang, gue nggak bisa, nggak sanggup. Lo tuh jahat, gue mana bisa lupa secepet itu, lo nggak ada diposisi gue! Maksud lo apasih Do? Lo kayak gini tuh malah tambah bikin gue sakit tau ga Do." Gue nangis-nangis dihadapan Aldo, gue samasekali nggak ngerti jalan pikiran dia sebagai sahabat gue apa, it hurts so much!
"Mel, gue kayak gini karena gue punya alasan. Gue nggak mau lo trauma, gue emang sengaja ngajak lo ketempat yang dulu lo pernah kunjungin sama Gero. Gue nggak mau lo takut dateng ketempat itu kedua kalinya, gue nggakmau lo ngehindar sama masalalu lo. Nggak baik Mel, yang kayak gitu yang bikin lo nggak akan sembuh. Percaya sama gue, Mel. Kalo lo semakin maksa lo ngejauhin masalalu lo, lo sembuhnya pasti bakal lama. Percaya..." gue bengong dan langsung meluk Aldo. Gue nggak tau harus kayak gimana lagi, Aldo udah baik banget sama gue. Gue percaya dia.
"So, let it flow. Let it go, Mel" Aldo mengusap rambut gue....

I love you more than I Love Sunset.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang