The Day called "Lamaran"

429 3 0
                                        

Dinda POV

Aku memandangi diriku di cermin. Entah sudah berapa kali debaran jantungku berdegup kencang. Melebihi saat pertama kali aku naik tornado di taman fantasi. Aku mencoba tersenyum sedikit saja, tapi ujung bibirku kaku. Aku bahagia hari ini, bercampur semua rasa yg aku rasakan. Antara bahagia, sedih, tegang. Rasa rasa itu berhasil membuat tanganku dingin dan perutku mual. Aku gak mungkin memuntahkan isi perutku sekarang, karena sebentar lagi aku harus keluar dari persembunyianku. Menghadapi semua saudara yg sudah hadir sebagai tamu di ruang tamu di lantai bawah.

"Ayo sayang. Kenapa? Tegang ya? Semuanya akan baik baik saja Dinda. Calon suami mu idaman sekali. Kamu sungguh beruntung. Tapi sayang aku lebih dulu ketemu kakak mu, kalau tidak, aku akan membuat calon suami mu jatuh hati padaku" aku tersenyum tipis. Mbak Niza. Wanita cantik dengan lesung pipit dan hijab putih gading nya. Mbak Niza memberi ku semangat.

"Yaudah ayo mba, aku udah siap kok" kami pun meninggalkan kamarku dan menuruni tangga.

Tiga langkah lagi kaki ku sampai di ruangan yang dipenuhi banyak orang sedang berbincang. Tiba tiba fokus mereka langsung terputar ke arahku.

"Wah..wanitanya sudah datang. Kita mulai saja acaranya" itu suara pamanku yg memandu jalannya acara ini. Aku duduk di antara Ayah dan Ibuku yg langsung menghadap ke seorang pria dengan setelan semi formal di dampingi sepasang suami istri yg terlihat bahagia-dari senyum mereka saat melihatku. Apa mereka orangtua Mas Raffi? Aku tak berani menatap pria itu. Calon suamiku. Padahal aku ingin sekali melihatnya, tapi apa daya keberanian ku menciut. Di belakang samar samar terdengar suara gadis gadis remaja yg membicarakan...

"Coba aku jadi Kak Dinda, I will be the lucky woman ever!!!"

"Suaminya- eh calon suaminya ganteng banget,yampun aku jadi pengen deh dilamar...mana so sweet" aku hanya tertawa dalam hati mendengar ocehan mereka. Adik adik sepupuku. Kayla dan Syifa.

Setelah serangkaian acara inti yg memakan waktu panjang kurang lebih 2 jam, kini saatnya acara makan siang. Sesajian makan siang yg di tata rapi semi formal di garasi rumah yg disulap menjadi indah dengan sentuhan bunga di beberapa bagian. Aku sampai pangling melihat garasi rumahku yg diubah dan di desain secantik ini. Para tamu kebanyakan datang dari sanak saudara, paling banyak ya dari keluargaku. Keluarga Mba Mayang juga datang, Tante Jihan dan Om Dana-orangtua Mba Mayang. Harusnya Mba Mayang yg ada di posisi ku sekarang. Apa Tante Jihan gak mengenali Mas Raffi sebagai mantan kekasih anak perempuannya tapi kenapa sekarang malah jadi calon suamiku. Aku merasa tidak enak saja dengan keluarga Mbak Mayang. Ada juga teman teman ku beberapa teman kuliah, SMA, bahkan ada juga sedikit teman SMP.

"Selamat ya Din, lo beruntung banget. Sayang ya lo udah mau nikah, kalo enggak gue pengen ngajak lo ke paris, kota impian kita berenam dulu!"

"Yah..jangan pada sedih dong" lalu aku dan keenam sahabat ku sejak SMA berpelukan layaknya telletubbies.

"Lo pokoknya harus bahagia Din. Lo nikah muda lho, gue gak mau lo gak bahagia. Janji?" Sahut Mai, temanku yg keturunan chinese.

"Iya Mai. Yaudah yuk pada laper kan pasti? Yuk makan," aku mempersilakan mereka untuk menyantap makanan yg udah disediain.

Perutku lapar juga. Aku makan aja deh. Kayaknya aku harus banyak banyak makan biar gak gampang sakit. Setelah mengambil makanan secukupnya, aku mencari tempat duduk. Pandanganku jatuh ke seorang pria yg sedang duduk menyantap makanan nya dengan lahap di dekat deretan fruit pie. Aku langsung duduk di kursi sampingnya, biarkan dia sepertinya tidak sadar akan kehadiranku.

"Aku nyariin kamu lho Mas daritadi"

Tangannya berhenti menyuap sendok. Melihat ke arahku dengan ekspresi kaget.

Happy WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang