Pada saat jam istirahat kedua, aku langsung menuju halaman belakang sekolah untuk menemui Rahmat. Seperti hari-hari sebelumnya Rahmat selalu nongkrong di sini bersama teman-temannya sambil menggoda wanita yang lewat di depannya.
"Rahmat...!!" Aku memanggilnya dari jarak sekitar 15 meter.
Dia langsung mengenali suaraku dan beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arahku. Belum sempat dia berbicara, aku langsung mengutarakan maksudku.
"Si Ipung masih marah ya sama gue?" Tanyaku.
"Eh...Iya Gam, kenapa si Ipung bisa marah sama kamu?" Rahmat mencoba untuk pura-pura tidak mengetahui permasalahanku dengan Ipung. Tapi dia bukan aktor pemenang piala Oscar yang dapat membuat orang yang melihatnya akan terpesona.
"Loe nggak usah pura-pura gitu. Muka loe tuh nggak bisa bohong." Aku menyudutkan Rahmat agar dia tidak berpura-pura di hadapanku.
"Sorry Gam, aku ngga enak sama kamu...Ipung sudah cerita semuanya, kamu waktu itu kasih dia obat perangsang ya?" Bisik Rahmat supaya tidak terdengar oleh siswa dan siswi yang berseliberan di lorong sekolah ini.
"Ngobrolnya di taman depan aja Mat, takut ada yang dengar." Aku mengajak Rahmat menuju taman sekolah yang terdapat pohon yang sangat besar.
Setelah dirasa tidak ada orang yang bisa mendengar obrolanku, aku melanjutkan percakapanku.
"Gue suka banget sama Ipung Mat, dan gue pengen banget bisa berhubungan intim sama dia... Untuk mewujudkan keinginan itu, gue memberikan dia obat perangsan. Tapi gue akuin deh kalau kelakuan gue udah keterlaluan."
"Kamu mah sama aja sama si Zabeth..." Ucap Rahmat masygul dengan logat sunda yang kental.
"Haa.. Loe udah diapain aja sama si Zabeth?" Tanyaku bersemangat.
"Mmmm.. Pertamanya sih si Zabeth bilang kalau dia suka sama aku dan mau berhubungan intim. Secara halus aku coba untuk nolak, tapi kamu tau sendiri kan Zabeth orangnya kayak gimana. Aku takut kalau sama dia."
"Kepret aja Mat.. Pasti langsung tewas..."
"Itu kan kamu Gam, bisa ngalahin dia. Kalau aku sih nggak berani, jadi dengan terpaksa aku ngikutin kemauan si Zabeth."
"Terus..??" Ucapku penasaran.
"Awalnya aku risih Gam. Tapi kok lama-lama enak juga ya. Zabeth nggak jijik pegang dan ngulum kemaluanku."
"Gue juga udah pernah pegang kok kemaluan loe Mat. Hehehehehe....." Ucapku pongah.
"Haaaa... Serius Gam? Kapan kamu pegang punyaku. Kalau nendang sih aku tau." Rahmat terkejut mendengar kata-kataku barusan.
"Waktu pertama kali gue main ke kos loe, kan loe tidur tuh sama si Ipung. Dengan terpaksa gue gerayangin kemaluan loe deh....."
"Astaga...!!!" Ucap Rahmat sambil menyenderkan kepalanya ke pohon mahoni dan kedua tangannya diangkat untuk menutupi mukanya.
"Sorry ya Mat... dulu gue suka sama loe, makanya kalau istirahat gue suka perhatiin loe dari jauh." Lanjutku.
"Parah kamu mah Gam....."
"Weiitt.. mestinya loe bangga, direbutin sama dua laki-laki." Ucapku sambil menepuk-nepuk bahunya Rahmat.
"Eh.. berarti waktu kamu berantem dengan si Zabeth itu, ngerebutin aku ya Gam?"
"Ya gitu deh. Gue akhirnya milih Ipung, sedangkan Zabeth pilih loe. Eh Mat, loe udah dijadiin matahari terbit sama si Zabeth belum?"
"Mmmm....." Rahmat terlihat ragu menjawab pertanyaanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Kebon Waru
General Fiction*Another Repost Gay Story *Original Writer : @Chocolate010185 *LGBT HATERS GO AWAY!!
