Minggu pagi ketika aku sedang terlelap, tiba-tiba ada yang mengejutkanku. Ada sesosok orang yang kepalanya diletakkan tepat di atas perutku. Biasa yang keisengan di pagi hari adalah Gilang. Nyaris saja aku akan membenamkan kepalanya jika tidak melihat si empunya. Fajar terlihat sedang tersenyum ke arahku.
"Duh.. gue kira si Gilang yang iseng gini. Ternyata loe Jar. Tumben pagi-pagi udah datang ke sini?" Aku sedikit menguap karena tadi malam aku tidur sangat larut.
"Ganggu istirahatmu ya Gam? Maaf deh, aku pulang aja kalau gitu." Fajar hendak mengangkat kepalanya dari atas perutku, namun keburu kutahan.
"Loe tuh ya.. Gue nggak merasa keganggu kok. Cuma nanya aja."
"Pagi ini aku mau ke Rutan Kebon Waru, mau besuk Mas Hilmi. Makanya aku mampir dulu ke sini." Fajar kali ini memiringkan tubuhnya menghadap mukaku.
"Jar, gue boleh ikut nggak? Dari semalem gue kangen sama Mas Hilmi." Ucapku sambil mengusap-usap rambutnya Fajar.
"Kamu kok kangennya sama Mas Hilmi? Udah nggak kangen ya sama aku?"
"Hehehe.. kangen juga lah sama loe. Jar, gue boleh nggak minta izin sama loe." Ucapku lembut.
"Mau minta izin apa Gam? Pasti aku izinin selama kamu nggak minta untuk deketin Mas Hilmi."
"Yaaa... Justru itu yang gue mau Jar, lagian Mas Hilminya juga belum tentu mau jadi pacar gue. Gue cuma berusaha untuk mengejar aja."
Fajar mengangkat kepalanya dari atas perutku, kemudian dia menindih badanku, dan kedua tanganku dia cengkram.
"Jar... Loe tega banget sih mau memperkosa gue pagi-pagi begini." Lanjutku pasrah.
"Bukan mau memperkosa kamu, tapi kalau aku bilang nggak boleh, ya tetap nggak boleh !" Fajar sedikit membentak.
"Iya deh.. gue ngga akan ngejar Mas Hilmi lagi." Jawabku masygul.
Fajar tersenyum ke arahku, sambil melepaskan cengkraman tangannya, kemudian dia pegang pipiku dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu jangan sedih gitu... Minta yang lain aja ya." Ucapnya lembut.
"Tapi kalau pagi ini gue ikut loe besuk Mas Hilmi boleh kan?" Tanyaku.
"Kalau itu boleh, kamu mandi dulu sana, setelah itu kita berangkat." Fajar bangkit dari atas tubuhku, kemudian dia merebahkan badannya di sampingku. Aku pun beranjak dari kasur dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas di pagi hari.
***
Setelah selesai, kami langsung menuju lapangan Gasibu untuk mencari sarapan. Tentunya menggunakan motorku, sedangkan motornya Fajar diparkirkan di rumahku. Seperti minggu pagi sebelum-sebelumnya, lapangan ini sudah dipadati orang-orang yang berolah raga, dan banyak sekali stand dadakan yang hanya ada di minggu pagi.
Aku parkirkan motorku di depan gedung sate yang sudah banyak motor yang berjajar rapih disini. Setelah itu kami berdua menuju salah satu stand yang menjual makanan untuk sarapan pagi. Aku memesan lontong kari, sedangkan Fajar memesan bubur ayam.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, aku hendak membeli rokok dan oleh-oleh untuk Mas Hilmi. Untungnya di sini banyak yang jual makanan ringan, sehingga aku tidak perlu repot-repot menunggu supermarket buka.
"Gam.. buat apa makanan sebanyak itu?" Tanya Fajar ketika aku membeli keripik kentang.
"Buat Mas Hilmi dong.. Hehehehe." jawabku sambil tersenyum.
Fajar terlihat cemberut pada saat aku mengucapkan kata barusan.
"Iya...Iya...Gue nggak akan ngejar Mas Hilmi kok. Tapi makanan ini kan buat tahanan yang lainnya juga. Nggak mungkin kan Mas Hilmi makan sendirian, pasti yang lainnya juga minta. Makanya gue beli agak banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Kebon Waru
Ficción General*Another Repost Gay Story *Original Writer : @Chocolate010185 *LGBT HATERS GO AWAY!!
