"Clo..." Dia memegang erat tanganku, dingin seperti biasa. Dentingan lift menyadarkan kani dari jajahan imajinasi yang menjelajah bak kemana alurnya. Mengalir seperti air, aku bahkan tidak mengerti apa yang aku pikirkan saat bersama dia. Frad.
"Yea?" Aku hanya menjawab singkat sembari berjalan beriringan melewati lorong apartement ini menuju tempat itu. Apartmentku.
"I love you" tangan dinginnya semakin mengencangan pegangan eratnya.
"I love you, more than you know"
***
Aku menuangkan anggur yang dibawanya, aku menikati menatap lampu-lampu yang bergemercik indah, pamandangan gratis yang disuguhkan oleh apartment ini.
Aku masih tetap dengan gelas anggurku, dia menatapku dan menghentikan segala aktivitasnya.
"I'm very lucky to be yours" bukankah aku yang merasa sangat beruntung memilikimu, Cher. I love you. Oh fuck. I love you so bad.
"Me too, very very lucky to be yours" aku memegang tangannya dan menyandarkan kepalaku di dadanya, aku dapat mendengar detak jantungnya. Dia meraih pipiku mencium bibirku singkat, kemudia dia kembali menciumku, lebig dalam, dalam dan dalam hingga ia menguasai bibirku dengan penuh rasa.
Aku merasa melayang dan terbang, tak tahu aku berada di mana. Aku membalas ciumannya hingga akhirnya kita saling memainkan lidah menari-narikannya dengan leluasa di sana.
"Wanna play?" Oh God. Ini pertama kalinya. Aku berpikir dengan sangat keras untuk menerima ajakannya. Hingga akhirnya aku menganggukan kepala singkat menyetujuinya.
Aku meraih pipinya dab menciumnya lebih dahuku, dia memeluk pibggangku erat dan mengangkat tubuh munyilku ke kamar tidurku.
"Di balkon tidak baik" dia mengunggam di bibirku, aku tersenyum singkat. Dia memangkuku, aku masih tetap mempermainkan lidahnya dibibirku, ini sangat nikmat.
Dia merebahkanku dan kini ia sudah berada di atas tubuhku. Aku dapat merasakannya di sana, yang hanya dibatasi kain-kain. Pikiran mesumku milai mengerogoti kepalaku. Dia memainkan tangannya di pinggangku higga akhirnya ia memainkan tanganbya di payudaraku, aku geli che aku geli. Aku menggeliat karena tidak tahan akan sentuhan tangannya. Aku baru pertama kali menerima sentuhan itu.
"I need you, Cher" dia membisikan kata-kata pemabuk itu di kupibgku, lembut.
"This is my first time, Cher" aku berusaha ubtuk jujur kepadanya. Dia mendengarnya. Dia membuka mata lebar-lebar. Mungkin ia tidak percaya atau bagaimana. Mungkin dia merasa tidaknyaman, atau bahkan dia ingin pergi?
"I'll give you all the best, Cher" ahhh aku sangat lega mendengarnya. Aku antara senang dan khawatir. Senang karena ia tidan pergi meninggalkanku dab khawatir akan kehilangan keperawananku.
Dia menciumku, menjelajahi setiap sudut mulutku dengan lidah mahirnya.
Dia memainkan setiap inci dari tubuhku dengan tangannya tanpa melepas bibirnya di bibirku.
Kini bibirnya telah berpindah ke leherku, aku menggeliat geli, aku memejamkan mataku saat dia membuka sweater yang sedari tadi aku gunakan, bukannya dingin, namun hangat. Dia meluncurkan bibirnya ke arah leherku bagian sebelahnya dan tangannya memainkan tali braku.
Ibu jarinya dengan telaten menbuka braku, meluncurkannya. Dia merebahkanku kembali saat aku mengeliat kegelian bersamaan dengan dia memainkan payudaraku dengan mulutnya. Dengan ahli tangannya juga membuka jeans yang aku gunakan sedari tadi.
Kini, aku hanya memakai celana dalam, aku mengeliat kembali saat dia memainkan payidaraku yang satunya. Saat yang bersamaan, dia memainkan tangannnya di payudara disebelahnya dan tangan satunya telah menjelajah di dalam celana dalamku.
Aku hanya bisa mengeliat karena sentuhannya memainkan rambutnya disela-sela jariku.
"Kamu basah sekali, Cher" dia mengeram saat jarinya memasuki lubang klitorisku. Aku mengeliat sekali lagi. Aku tidak tahu apa rasanya ini.
Aku tidak ingin dia melepaskannya. Ini, nikmat.
Ahhhh aku tidak tahan saat ia memainkan jarinya di sana. Dia memutar-mutarnya.
Ahhhhh dia kembali memaju mundurkan jarinya. Aku tidak tahan. Aku mengenggam rambutnya erat-erat. Dia memberikanku ciuman dalam dalam seiringan dengan permainan jarinya di sana.
Dia tiba-tiba menyelesaikan ciumannya dan mengeluarkan jarinya. Oh fuck. Jangan selesai jangan. Dia meninggalkanku menuju ke pojokan kamar. Menanggalkan jeans yang digunakannya sedari tadi.
Aku bahkan baru menyadari, ia masih mengenakan pakaian yang lengkap sedangkan aku, sudah tidak tertutupi oleh seuntai benang. Aku malu, segera menarik selimutku menutupi tubuhku.
"Whats wrong, Cher?" Dia melihatku bingung, memakai selimut ini.
"Nope, come on" kali ini aku bersemangat.
Dia menarik selimutku dan dia berada diatasku, mengecup bibirku dalam dan mengunggam
"let me in?" Dia bodoh atau bagaimana, dia bahkan tidak meminta izin terlebih dahulu untuk menanggalkan pakaianku.
"No" aku sedikit menaikan nadaku,
Dia menyergit dahinya
"you can't stop it" aku tertawa ringan melihat reaksinya. Dia segera mencium ku dalam-dalam hingga aku tidak dapat bernagas dengan normal.
Dia menyelesaikannya.
"Itu rasain, makanya jangan candain aku"
"Aku mencintaimu"
"I love you"
"Je t'aime"
Dia mengeluarkan segala jenis bahasa yang dia ketahui.
****
Neh otak mesum aku keluar untuk kali ini, mesum
Jadinya cerita mesum deh,
Happy reading
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik.
RomanceTitik. Mengawali berbagai macam goresan. Lembut, tegas, kasar dan halus. Goresan yang mengandung berbagai makna. Goresan yang mengisahkan berbagai cerita. Goresan yang meluapkan isi hati penciptanya. Goresan yang menguak berbagai bilur yang menerpa...
