Mnt.

36 2 2
                                        

Hhhhmmm
Part ini aku tujukan untuk Dessy yang lagi ultah. Udah nambah tua deh.

****

Aldi, teman sekolah menengah pertamaku. Teman dudukku. Iya aku ingat aku ingat sekali.

Aku berpapasan dengannya sekali lagi, selain hari itu. Aku berbincang banyak di kantin rumah sakit pada pertemuan kita yang ke dua setelah berpisah sekian lama. Ternyata jadi akuntan juga hmmm. Dia sangat berbeda, dulu cupu, memakai kaca mata tebal, baju yang dikancing hingga atas dan sangat jarang berbicara. Kecuali saat diperlukan.

Aku berbincang-bincang cukup lama di kantin rumah sakit, dia terlihat hm. Dia sudah berpakaian lebih santai dan dia lebih banyak berbicara sekarang.

Istrinya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit ini juga. Hmmm. Satu lantai dengan ruang rawat inap Frad. Dia berbincang panjang lebar tentang kehidupannya di kantor yang sama saja denganku. Dipenuh sesaki oleh deadline yang mengantung. Menumpuk bergunung-gunung.

"Hay, Cher" aku membangunkannya untuk memakan bubur yang sudah aku belikan. Dia tak kunjung bangun juga. Dia memang sangat sulit bangun saat lelah. Mungkin dia kelelahan. Namun, aku tahu cara paling ampuh yang dapat membuatnya bangun.

Aku merundukan kepalaku, mencium bibirnya, lembut. Dia membuka matanya, damai. "Cher.." aku mengeram lembut. Dia tersenyum kepadaku.

"Makan dulu ya" aku membantunya untuk bangun dari tempat tidurnya membenahi posisinya untuk makan. Aku menyuapinya perlahan hingga habis. Dia tidak protes sedikitpun dia type orang yang tidak suka makan sambil berbicara. Dia melahap bubur yang aku suapi dalam diamnya.

"Aku mencintaimu" aku mengunggam saat setiap sendok masuk ke mulut indahnya.

"Jangan hanya diucapkan dalam hati" dia berbicara saat menyelesaikan minum air. Shit!! Kini dia bisa membaca fikiranku. What happened, Cher.

"Whats wrong with you?" Aku menyambar perkataannya. Memandangnya sinis. Dia tidak biasanya seperti tadi tidak pernah. Dia balik menatapku sini. "Che, whos wrong? Me? Whats wrong with me. Im fine at all" dia menekankan setiap kata-katanya menaikan nada suaranya. Aku benar-benar kaget. Ada apa dengannya. Persetan dengan kata-katanya.

Aku pergi meninggalkannya membanting pintu kamarnya. Aku tidak suda diberikan omongan yang bernada tinggi. Sangat tidak suka. Aku menangia berjalan menuju lift. Basement rumah sakit. Tujuanku. Ting pintu lift terbuka. Aku segera masuk ke dalamnya. Mengusap air mataku.

"Clo?" Suara yang beberapa hari ini familiar terdengar di pendengaranku. Benar saja. Aldi satu lift denganku. Hanya berdua.

"Whats wrong?" Dia bertanya. Mungkin dia melihatku menangis. Aku bahkan tidak menyadarinya ada di sebelahku sesari tadi.

"No.. No problem" aku berusaha memberi senyum palsuku sepalsu mungkin. Namun dia tahu aku berbohong, aku menceritakan semuanya di mobil aku tidak tahan menahan tangisku, ini kali pertama Frad membentakku. Aku...

Tangisku pecah dak tak sadar aku menangis di pelukannya. Aku menyadarinya saat aku berhenti menangis. Aku segera melepas pelukannya. Meminta maaf dan memintanya untuk meninggalkanku sendiri.

Aku mengendarai mobilku dengan sangat cepat hingga pedal menyentuh lantai mobil. Aku merasakan tetesan demi tetesan air mataku menetes diatas kemudi.

Pantai ini.

FLASHBACK ON

*
*
*
*
*
Everywhere. We made the memories. Memories of us. F&C-

Frad and Clo

***

Frad POV

Aku tidak tahu entah kenapa aku akhir-akhir ini merasa lebih sensitif daripada biasanya. Semenjak aku sadarkan diri. Merasakan dia tertidur di sampingku. Wanitaku. Clo.

Dia pergi meninggalkanku membanting pintu ruang rawat inap di rumah sakit ini. Wanita yang hadir tanpa di minta dalam hatiku. Menghiasi setial harinya. Setiap detik aku selalu merindukannya. Menginginkannya. Aku benar-benar jatih cinta padanya. Sejak awal kita bertemu.

Seorang akuntan yang menghandle perusahaan yang aku pimpin. Tidak pernah menyangka aku akan segila ini mencintainya. Dialah alasan aku selalu menyempatkan diri untuk datang tepat waktu. Aku jatuh cinta berkali-kali padanya. Ratusan kali. Ribuan kali. Setiap detik sejam penuh dalam satu hari dan aku harap selamanya.

Aku memainkan infus yang menancap dengan indahdi tangan kananku. Kaki yang masih di perban dan kepala yang masih ditempeli. Aku sangat bersyukur karena tidak pergimeninggalkan Clo. Aku ingin menepati janjiku. Tidak meninggalkannya. Meskipun aku tahu, nyawaku berada di tangan Tuhan.

Aku menantikannya datang kembali. Entah apa yang membuatnya marah kepadaku. Aku tidak tahu. Namun, aku tahu dia marah semenjak aku menjawab pertanyaannya tadi. Hmm. Wanita selalu benar. Apa daya aku terlahir lelaki yang mencintai wanita.

Ganggang pintu terbuka, aku harap itu dia. Hehh. Harapanku pupus sudah. Hanya dokter yang datang ke ruangan rawatku untuk memeriksa kondisiku. Harapanku pupus-

Kebahagiaan menghampiriku karena aku sudah diizibkan pulang oelh dokter. Namun, di mana dia. Aku segera meneleponnya. Nihil, tidak ada jawaban di seberang sana. Apakah aku menyakiti hatinya? Aku tidak mengerti kodenya kali ini.

****

Clo POV

Dia tertidur lelap dengan handphone di tangannya, aku baru memeriksa handphone saat di lift tadi

48 miss call
Cher.

"Hai, Cher.. wake up, lets go home" aku membisikan itu padanya, dia membuka matanya.

"Hai, Cher" dia bergeming. Dia terlihat sangat senang melihatku. Aku tahu, aku sangat sensitif beberapa waktu lalu.

"Cher" aku meraih tangannya. Tidam mau melepaskannya. Dia mempererat genggamannya.

"Cher" dia membalasnya. Aku tidak dapat membendung air mataku, hingga air mataku jatuh tak karuan di pipiku. Semakin deras hingga ia menciumku dengan lembut. Aku selalu suka caranya untuk membendung air mataku.

"Cher" aku ucapkan kembali kata-kata mujarab tersebut. Just for you.

Only you and me. Frad-

******

Au....
Aku selalu suka cara Frad nenangin Clo. Cuma cium tapi pake perasaan. Pengen deh nanti suamiku kayak gitu.

Jangan lupa vote ya..
Happy reading

Haply bday for Dessy Antari. Mumumu.
This is for you-

Titik.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang