Part 11

1.9K 124 3
                                        


Ana merapatkan cardigannya saat udara dingin menyusup ke sendi-sendi tulangnya. Cewek itu memang berangkat sekolah terlalu pagi.

Sekolah masih sepi. Hanya beberapa anak yang baru berangkat dan petugas sekolah yang sedang membersihkan halaman.

Cewek itu berjalan melewati koridor demi koridor yang masih sepi. Hanya suara ketukan suara sepatu ketsnya yang mengiringi langkah cewek itu menuju kelasnya.

Keheningan itu membuat ingatan Ana kembali pada kejadian siang kemarin. Pertengkarannya dengan Lexa yang berakhir dengan dirinya menangis di pelukan Lexa. Lalu Dika yang ternyata mendengar semuanya di depan pintu UKS.

Semuanya telah terbongkar. Semuanya telah tersebar. Teriakan Dika kemarin ternyata didengar oleh anak-anak yang belum masuk secara tak sengaja. Ditambah semua mulut SMA Bangsa benar-benar tak bisa dikontrol. Ana yakin, teman-temannya pasti akan menanyakan hal ini cepat atau lambat.

Rahasia yang ditutupinya selama hampir 2 tahun. Rahasia yang selama ini Ana berusaha simpan rapat-rapat. Mugkin benar kata pepatah. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Dan sepintar-pintarnya ia menutupi rahasia pasti akan terbongkar pula.

Ana tak melakukan ini tanpa alasan. Semua bermula saat semua orang mengagung-agungkan dirinya sebagai wanita tercantik di sekolah barunya sejak ia pindah dari Bandung.

Sejak saat itu, Ana masuk kesalah satu grup bergengsi yang ada di sekolahnya. Grup itu sudah ada sejak dulu, hanya setiap tahun anggotanya berubah.

Semua yang ada di grup itu adalah cewek-cewek cantik. Menurut teman-teman segrupnya cewek cantik harus punya pacar tajir dan ganteng. Semua teman-temannya yaitu; Angel, Siska, Veronica dan Jenita.

Tiba pada suatu masa, Ana jatuh hati pada Aldric Alfiansyah. Salah satu teman sekelasnya dengan pembawaannya yang kalem. Slalu tersenyum saat disapa. Sijago matematika. Aldric juga bukan cowok tajir seperti pacar teman-temannya. Tampangnya biasa saja. Tapi bisa membuat Ana tersenyum dengan caranya sendiri, bahkan hanya dengan melihat cowok itu salah tingkah saja sukses membuat Ana tertawa.

Mereka akhirnya memutuskan menjalin hubungan. Saat itu Ana baru saja ingin menceritakan kabar bahagianya, sebelum ia teringat satu hal. Ia baru saja bergabung dengan grup yang paling diminati di sekolahnya. Tak semua murid perempuan bisa masuk dan bergabung. Ia juga baru saja mempunyai teman-teman baru yang sama sepertinya. Hedonis. Suka menghambur-hamburkan harta kedua orangtuanya. Menjadikan kebahagiaan dan kesenangan sebagai tujuan hidup mereka.

Apalah daya, Ana hanya anak tunggal yang tak tau bagaimana caranya bahagia. Orang tuanya sibuk. Yang ia tau hanya bersenang-senang dengan menghabiskan uang orang tuanya.

Jadi Ana tak mau kehilangan kehidupan barunya. Akhirnya ia menginginkan backstreet dengan Aldric. Cowok itu tak membantah. Cowok itu tidak bertanya apapun padanya. Itu membuat semuanya terasa begitu mudah bagi Ana.

Ana menolak saat ada puluhan cowok mengantri untuk menjadikannya pacar. Bahkan teman-teman satu grupnya pun tak habis pikir saat Ana menolak Bagas, salah satu cowok tajir dan ganteng yang diidam-idamkan banyak cewek.

Tapi seiring berjalannya waktu Dika datang dengan membawa sejuta pesonanya saat semua cowok sudah mundur, tanda menyerah.

Ana tau Dika. Cewek itu bahkan beberapa kali sempat mengamati cowok itu saat sedang bersama sahabatnya Aluna. Dulu ia pikir, Dika satu-satunya cowok yang tidak tertarik padanya. Atau mungkin dulu Dika terlalu fokus pada Aluna? Entahlah.

Namun yang jelas ia merasa senang saat Dika berjalan maju saat semuanya telah mundur. Itu tandanya Dika menaruh perhatian padanya. Dika juga tertarik padanya. Saking senangnya, ia akhirnya menerima ajakan pulang bareng cowok itu beberapa minggu yang lalu. Yang akhirnya menghantarkannya pada kejadian siang kemarin.

Kembali kesekarang, cewek itu masuk ke kelasnya yang masih kosong. Belum ada siapa-siapa. Ia lalu mengambil duduk di salah satu bangku disebelah jendela yang langsung menghadap kearah lapangan basket.

Mata Ana menyipit saat melihat seorang cowok yang sedang memainkan bola orange di tangannya yang ia yakini adalah Alang. Yang Ana tak mengerti adalah saat Alang tiba-tiba menengok ke arahnya dan memandang Ana dengan tatapan yang Ana sendiri tak bisa jelaskan. Membuat lipatan di dahi Ana semakin bertambah.

***

Ana membuka pintu gedung aula. Teman-teman satu grupnya menginginkan pertemuan di sini. Dengan jantung berdebar cewek itu melangkah menuju teman-temannya yang sudah menunggu.

"Hai," sapa Ana. Membuat teman-temannya menengok dan menyadari kedatangan cewek itu.

"Ana lo bener sama Aldric?" Tanya Angel to the point. Ana menghela nafasnya, ia akan jujur kali ini toh sudah tak ada gunanya kan ia menutupi semuanya lagi? Kemudian Ana mengangguk.

"Sejak kapan?" Timpal Jenita atau kerap disapa Jen. Ana menyadari satu hal, tak ada kalimat intimidasi seperti yang dibayangkannya. Tak ada pertanyaan yang menyudutkannya. Yang ada hanya nada tidak percaya.

"Sejak 2 tahun yang lalu?" Jawab Ana tak yakin. Cewek itu menunggu reaksi teman-temannya.

"APA?" Teriak mereka bersamaan. Mata mereka melebar membuat Ana meringis menyadari kekompakan mereka.

"Lo backstreet?" Tanya Siska.

"Iya, gue pikir kalian nggak bakal nerima kalo--"

"Astaga! Tuh kan, ini semua gara-gara Nic!" Jen memotong kalimat Ana yang belum selesai. Veronica atau biasa dipanggil Nic mendongak, tak terima disalahkan.

"Kenapa jadi gue?" Tanyanya sewot.

"Ana pasti milih backstreet gara-gara minder pacaran sama Aldric! Ya kan Na?" Tanya Jen yang langsung tepat mengenai sasaran.

"Eh," Ana bingung kali ini.

"Gue udah bilang sama Nic nggak usah bikin aturan yang aneh-aneh! Jadinya gini kan!"

"Na percaya sama gue! Lo satu-satunya cewek yang beruntung yang bisa dapetin cowok misterius macam Aldric!"

"Gue nggak ngerti Sis," ujar Ana.

"Udah nggak usah dipikirin. Kalo lo bilang ini 2 tahun yang lalu kita nggak akan ngeluarin elo kok Na," kata-kata Angel membuatnya tersadar. Teman-temannya tidak seperti yang ada dipikirkannya. Walau mereka anak-anak hedonis tetapi mereka tidak jahat. Mereka tidak seburuk itu. Ia malah merasakan persahabatan yang kental di sini.

"Maaf gue udah nggak jujur," ujar Ana lirih. Membuat Angel, Siska, Nic dan Jen merasa kasihan. Akhirnya mereka memeluk Ana, setidaknya untuk membuat perasaan cewek itu sedikit membaik.

"Lo nggak apa-apa Na?" Tanya Angel.

"Ya, gue nggak apa-apa,"

Ah andai ia jujur pada teman-temannya sejak dulu, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Tidak serumit ini. Ia tak perlu menjalani backstreet dengan Aldric. Ia bahkan tak perlu menyakiti Aldric dan..Dika.

***

Mood Dika belum benar-benar membaik sejak kemarin. Dika mendengus, jadi ini yang namanya patah hati? Ini perasaan yang orang-orang sebut soal hati yang patah dan hancur?

Dika tak percaya Ana melakukan ini padanya. Menerima ajakannya pulang bersama disaat cewek itu ternyata punya cowok? Apa-apaan. Padahal disaat yang bersamaan cewek itu sudah memunculkan harapan yang tinggi di hatinya.Holly shit. Umpat Dika.

Jalannya terhenti saat melihat Ana dan Aldric berdiri berhadap-hadapan ditaman belakang. Ia tak tau apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ia tau bahwa ada yang remuk jauh di dalam sana saat melihat Ana menyusupkan wajahnya di antara lekukan leher Aldric.

***

Haiii part 11 update! Gimana? Jadi udah tau kan alesannya Ana milih backstreet sama Aldric?
Mungkin alesannya terkesan maksa, kayak 'gitu aja alesannya? Kok rada terlalu berlebihan ya'. Ya. Untuk beberapa orang mungkin terlalu berlebihan, tapi untuk aku nggak. Kehilangan temen bukan termasuk sesuatu yang mudah buat aku. Apa juga termasuk kamu?

Btw thanks for your voment❤

Jatuh HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang