Hujan masih membasahi seluruh kota. Kini tak ada celah di setiap jengkal jalannya yang tak basah. Udara juga semakin dingin, beberapa orang sibuk menggosok gosokkan tangannya atau sekedar meniupnya.
Setengah jam sudah berlalu, dan gadis ini pun masih duduk di pojok cafe, ditemani secangkir cappuccino yang sudah tinggal seperempat dan sebuah novel di sebelahnya. Sedari tadi ia hanya menatap ke jendela, membiarkan kopi yang dia pesan dingin begitu saja.
Entah apa yang ia lihat di luar sana, melihat lalu lalang kendaraan di tengah hujan lebih menarik perhatiannya dibandingkan novel yang sengaja ia bawa sebelumnya. Sesekali gadis ini menempelkan jari jarinya ke kaca jendela yang dingin, mengikuti alur embun embun yang menempel disana.
"Huh"
Ia menghela napas, sehingga sedikit mengeluarkan asap karena saking dinginnya. Belum lagi ac cafe yang sama sekali tidak diubah oleh pemiliknya. Ia bahkan sempat berpikir mungkin cafe ini juga tidak akan menurunkan suhunya sekalipun diluar sana sedang badai salju. Tapi pikiran konyolnya itu segera ia lupakan mengingat Indonesia tidak akan diliputi badai salju.
"Ehm"
Gadis itu berhenti melamun saat mendengar bunyi deheman. Ia menoleh dan melihat sesosok pemuda dengan kaos coklat yang dilapisi jaket dan celana jeans.
"Boleh gue duduk di sini? Habis gue lihat meja dan sofanya udah penuh. Gue lihat lo di pojok sendiri, well gue pikir gue bisa duduk disini? Hehe" Ucap pemuda tersebut dengan kekehan.
Gadis ini celingak celinguk membuktikan setiap perkataan pemuda itu. Umm, benar semuanya penuh dan hanya beberapa meja di pojok seberangnya yang kosong. Tak dapat dipungkiri, di tengah hujan yang mengayomi kota ini sedari pagi membuat tak ayalnya orang-orang memilih untuk berkumpul di cafe sekedar untuk meminum kopi atau teh atau hanya ingin berkumpul saja.
"Boleh, duduk aja" jawab gadis ini.
"Gabriel" senyum pemuda itu. Gadis ini yang hendak melanjutkan lamunannya kembali memandang pemuda ini dan tersenyum "Ify"
Gabriel tersenyum dan menggosok gosokkan telapak tangannya. Lalu ia memanggil seorang wether untuk memesan kopi.
"Mbak, kopi tubruknya satu,,," Gabriel berhenti dan melirik kopi Ify yang sudah dingin dan tampaknya gadis ini akan lama disini. "Hmm, cappuccino nya satu lagi mbak."
"Baik mas, tunggu sebentar"
Ify heran, banyak sekali Gabriel minum kopi. Satu saja belum habis tapi sudah memesan kopi satunya lagi. Aneh, pikir Ify.
"Fy? Dari tadi gue ngelihat lo ngelamun terus. Lagi ngelamunin masa lalu ya?" Gabriel mencairkan suasana diantara mereka.
"Apaan sih? Melamunkan masa lalu? Lah hubungannya apaan coba?"
"Ya kan cewek gitu, hujan dikit aja duduk dekat jendela, perhatiin air hujan, melamun, yang dilamunin juga masa lalu. Padahal masa lalu itu gak bakalan bisa di ulang lagi, aneh ya cewek itu" Jelas Iel.
"Enggak juga kali. Ngelamun emang udah jadi kebiasaan gue, tapi gue gak pernah ngelamuni masa lalu tuh." Balas Ify.
"Tapi kenapa sih ya rata rata cewek itu suka hujan?"
"Menurut gue sih mung.." Ify berhenti saat melihat 2 kopi pesanan Iel datang. Setelah itu Gabriel mengambil secangkir Kopi Tubruk dan menyondorkan secangkir cappuccino ke depan Ify. Sontak Ify bingung, perasaannya dia tidak memesan kopi lagi. Kopinya yang tadi saja masih tersisa walaupun sudah dingin. Menyadari gelagat Ify, Gabriel terkekeh dan tersenyum.
"Itu buat lo, anggap aja sebagai tanda pertemanan kita. Gue pikir lo butuh secangkir kopi lagi buat nemani gue di sini. Gue tebak sih kayaknya lo suka cappuccino, karena di gelas lo yang itu sisa cappuccino, makanya gue pesani itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintai dalam Diam
Teen Fiction"Cinta tidak harus memiliki". Apa yang kalian lakukan kalau kalian terjebak dalam cinta yang tak kan mungkin kalian dapatkan? Takdir yang menyebutkan kalau kalian hanya bisa mengagumi tanpa dicintai. Terjebak dalam perasaan yang sebenarnya kalian s...
