Part 9 - Cuma Butuh Kepercayaan

1.2K 63 17
                                        

"Kak Rioooo...serdadu lo datang nih" Teriak Acha yang membuat Rio berdecak kesal. Pasalnya Rio tengah bergulat dengan mimpi indahnya di alam tidur. Belum ia bangkit dari tempat tidur, sudah muncul dua orang yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.

"Ngapain kalian di sini?" Tanya Rio membalikkan badan dan berniat melanjutkan tidur.

"Cih" hina Alvin, "kita kesini karena mau nanya soal yang tadi sama lo"

"Nanya apaan? Udah deh pulang-pulang, gue masih ngantuk" Jawab Rio tanpa mengubah sedikitpun posisi badannya.

"Soal cewek lo itu" Jawab Cakka menggoda.

"Aah gak penting."

"Masa sih? Atau biar gue tebak ya" kini Alvin yang menggoda Rio.

"Bodo. Enyahlah!" Teriak Rio tertahan bantal.

"Oohh...oke. Jadi gini Kka, Rio itu udah punya cewek sebenarnya. Dia gak mau cerita sama kita karena dia malu. Gue tahu karena waktu itu gue gak sengaja lihat" Cerita Alvin asal keluar. Hanya dengan cara ini dia yakin Rio akan menceritakan rahasia cintanya. Benar saja, detik selanjutnya Rio melemparkan bantal ke arah mereka berdua.

"Yak Alvinnn..Dongeng lo keren..." Teriak Rio geram. Rio terlonjak dari tidurnya dan segera memberikan tatapan tajam.

"Gue gak dongeng kok, everything is true." Alvin dengan santai duduk di kursi belajar Rio.

"Seriusan Vin?" Tanya Cakka pura-pura heboh. Garis bawahi hanya pura-pura.

"Enggak gue gak punya cewek, siapa pun itu. Yak Alvin!!! Gue gak punya cewek kayak kata lo.. Gue itu tadi cuma kesal aja kenapa gue selalu kepikiran si--" Rio tersadar akan omongannya. Hampir saja dia menyebutkan nama gadis itu. Arghs, harusnya dia sadar ini cuma akal akalan mereka berdua karena dia tidak menceritakan hal tersebut. "Shit" umpat Rio.

Alvin dan Cakka saling menatap lalu tersenyum penuh kemenangan. Mereka berhasil. Sedetik. Hanya sedetik, detik selanjutnya mereka memandang Rio seakan ingin menerkam.

Mendadak Rio merasakan dia sedang berada di ruang interogasi. Ia mengutuk dirinya yang sampai kelepasan mengatakan rahasia yang selama ini dia pendam sendiri.

"Udahlah Yo, cerita aja kali." Sebenarnya ini memang bukan hal yang biasa terjadi. Seorang Rio yang terkenal dengan tak pernah peduli urusan cinta mendadak terbelenggu karena perasaan itu.

"Jangan buat uang gue keluar percuma dan gue gak dapat hasil apa apa"

"Siapa suruh lo datang ke sini" Jawab Rio yang ada benarnya, "lagian juga beliin martabak buat dia aja sih, kenapa gue enggak." Yap, Alvin dan Cakka terpaksa membelikan Acha martabak karena sialnya Acha yang membukakan pintu.

Satu peraturan di rumah itu,  "Siapa pun yang datang ke rumah keluarga Haling tak peduli siapa dia tanpa terkecuali, dan yang membukakan pintu adalah Acha, maka mau tidak mau, suka tidak suka harus membawakan sebungkus martabak untuk mendapatkan izin masuk"

Sebenarnya peraturan itu tak pernah dibuat oleh Tuan Haling. Acha sendiri yang menciptakan dan dia sendiri juga yang meresmikan tanpa tahu kapan itu disahkan. Pun seisi rumah tak pernah tahu peraturan itu hingga suatu hari Acha mendadak memproklamirkan aturannya. Tak ada yang bisa menolak aturan itu. Acha tak bisa dibantah, sekali bantah 2 3 hari tak di rumah.

"Jadi lo gak mau cerita? Gak percaya sama kita? Okeh gak masalah. Thank you selama ini Yo udah mau jadi sohib gue. Gue mau balik dulu, semoga lo lebih nyaman sama sahabat baru lo." Alvin bangkit dari kursi dan berjalan kearah pintu. Alvin tampak ragu membuka pintu, namun akhirnya ia memutuskan untuk keluar.

Mencintai dalam DiamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang