Part 8 - Cinta adalah Usaha

993 57 7
                                        

Pemuda ini berjalan di pinggir jalan dengan jaket yang membalut tubuhnya. Hujan tadi sore membuatnya harus menahan udara dingin yang tersisa. Dia merasa aneh dengan alam akhir akhir ini. Contohnya saja hari ini, sudah seharian tadi hujan lebat dan baru berhenti menjelang Maghrib. Sekarang? Bulan bersinar dengan terangnya ditemani beberapa bintang. Entahlah, dia bingung harus berbuat apa.

Gue bukan anak astronomi, jadi bodo amatlah, pikirnya.

Dengan sebungkus makanan yang ia beli di depan kompleks, pemuda ini berjalan dibawah temaramnya lampu jalan. Ia menyesali keputusannya untuk keluar menggunakan celana yang hanya sebatas lutut. Entah hanya sumpah serapahnya atau benar benar menyesal, pemuda ini tetap saja berjalan normal meski harus menahan dingin dan lapar.

Terlintas di pikirannya tentang seseorang. Seseorang yang pantas ia sebut pengganggu atau bukan itu. Sebenarnya orang itu tidak pernah mengganggu dirinya, hanya saja orang itu selalu hadir di pikirannya dimana pun ia berada.

Sudah lama sebenarnya ia menyimpan perasaan ini, namun sifat orang itu yang terkadang dingin kepadanya, membuatnya segan untuk mengatakan perasaanya itu. Ia hanya berani menyimpan perasaan ini tanpa berbuat apa apa.

"Kalau lo mau dapetin cinta lo itu, kejar terus, usaha, jangan sedikit sedikit " dia gak suka sama gue" "dia terlalu cuek" "gue gak tahu mau ngapain lagi" " dia suka sama yang lain" banci tahu gak.

"Ada kalanya orang hanya akan jatuh cinta kalau orang lain berusaha buat dirinya. Dia butuh orang yang benar benar tahu kalau cinta bukan hanya untaian kata bullshit yang gak bermakna.

"Usaha, usaha, dan berusaha. Lakukan semuanya sebelum akhirnya lo harus mengikhlaskan hasilnya. Kalau akhirnya lo juga gak diterima, ingat, gak ada usaha yang sia sia. Selalu ada jalan. Meskipun usaha itu hanya ceremonial belaka yang menandakan kalau lo gak kalah sebelum berperang."

Ia masih ingat tausiyah pagi yang disampaikan oleh Cakka kala itu. Bahkan mereka sempat bertengkar hanya karena hal sepele itu. Dia tidak mau berjuang untuk cinta dan Cakka sangat tidak suka sama orang yang tidak mau berjuang untuk sebuah perasaan.

Pemuda ini mengukir senyum tipis di wajahnya. Dengan segera ia membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Baru teringat olehnya, ada dua kurcaci yang sedang sekarat tengah menunggu.

*****

"Jauh kau pergi membelikan makanan"

"Disini aku menunggu kelaparan"

Mencintai dalam DiamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang